Batas Negara Tak Lagi Jadi Penghalang, UT Tarakan Buka Jalan Kuliah bagi PMI di Luar Negeri

Di tengah masih rendahnya angka partisipasi masyarakat dalam mengenyam pendidikan tinggi di Kalimantan Utara, Universitas Terbuka (UT) Tarakan terus memperluas jangkauan layanannya. Tak hanya menjangkau wilayah-wilayah terpencil di provinsi tersebut, UT Tarakan kini bersiap membuka akses pendidikan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sabah, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UT menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, fleksibel, dan dapat diakses siapa saja tanpa dibatasi usia, domisili, maupun status pekerjaan. 

Komitmen tersebut disampaikan Direktur UT Tarakan Jeji Muhamad Najib, S.Kom., dalam Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Semester Ganjil 2026 yang dirangkaikan dengan Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ) di Gedung Perwakilan BPK Kalimantan Utara, Sabtu (1/8/2026). Sebanyak 350 mahasiswa baru mengikuti orientasi tahap pertama, sedangkan sekitar 270 mahasiswa lainnya dijadwalkan mengikuti kegiatan serupa pada gelombang berikutnya.

Jeji menjelaskan, konsep pendidikan terbuka yang diterapkan UT memungkinkan siapa pun melanjutkan kuliah tanpa dibatasi usia, tahun kelulusan, maupun lokasi tempat tinggal. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh, mahasiswa UT Tarakan kini tidak hanya berasal dari berbagai wilayah Kalimantan Utara, seperti Lumbis dan Krayan, tetapi juga dari Sabah.

“Saudara-saudara kita di Sabah sudah banyak menjadi mahasiswa UT Tarakan. Insyaallah sebentar lagi Brunei juga akan menjadi bagian layanan kami. Termasuk para Pekerja Migran Indonesia di luar negeri akan kami fasilitasi untuk mendapatkan pendidikan tinggi melalui UT,” ujarnya.

Perluasan layanan tersebut dinilai selaras dengan kebutuhan Kalimantan Utara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes., mengatakan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di provinsi tersebut baru mencapai 27,93 persen, masih berada di bawah rata-rata nasional sebesar 32,89 persen maupun rata-rata global sekitar 40 persen.

Menurut Khairul, kondisi tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum dapat mengakses pendidikan tinggi akibat keterbatasan ekonomi, akses pendidikan, maupun tuntutan untuk bekerja dan membantu perekonomian keluarga. Karena itu, kehadiran UT menjadi solusi yang relevan karena memungkinkan masyarakat tetap melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.

“UT memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk tetap melanjutkan pendidikan tinggi. Sistem pembelajaran jarak jauh ini sangat membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu maupun biaya,” kata Khairul.

Ia pun mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Menurutnya, peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu kunci mempercepat pembangunan daerah. Karena itu, mahasiswa baru diharapkan memiliki komitmen untuk menyelesaikan studi hingga lulus sehingga mampu meningkatkan kompetensi dan daya saing di dunia kerja.

“Saya berharap saudara-saudara bangga menjadi mahasiswa UT. Belajarlah dengan sungguh-sungguh karena kualitas lulusan sangat ditentukan oleh keseriusan mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran,” ujarnya.

Tingginya minat masyarakat untuk bergabung dengan UT Tarakan tercermin dari jumlah peserta OSMB yang terus meningkat. Antusiasme tersebut membuat pelaksanaan orientasi tahun ini harus dipindahkan ke Gedung Perwakilan BPK Kalimantan Utara karena kapasitas kampus tidak lagi mampu menampung seluruh peserta.

“Kita tidak dapat melaksanakan kegiatan di kantor UT Tarakan karena jumlah mahasiswa peserta sekitar 350 orang. Masih ada sekitar 270 mahasiswa lagi yang akan mengikuti gelombang berikutnya. Mudah-mudahan ini tidak mengurangi semangat teman-teman mengikuti kegiatan sampai selesai,” ujar Jeji.

Pada kesempatan itu, Jeji juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tarakan, khususnya Wali Kota Tarakan, yang sejak awal mendukung perkembangan UT Tarakan, termasuk membantu penyediaan lahan pembangunan kampus di kawasan depan bandara.

Menurut Jeji, OSMB dan LPKBJJ bukan sekadar kegiatan penyambutan mahasiswa baru, melainkan menjadi bekal awal agar mahasiswa memahami sistem pendidikan tinggi terbuka dan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT. Ia menegaskan, mahasiswa UT dituntut menjadi pembelajar mandiri yang disiplin mengatur waktu, aktif mempelajari modul, serta memanfaatkan berbagai layanan akademik yang telah disediakan.

“Mahasiswa UT adalah pembelajar mandiri. Teman-teman harus terbiasa membaca, memahami materi, dan mengatur waktu sendiri. Nanti semuanya akan dipelajari dalam kegiatan LPKBJJ,” jelasnya.

Selain itu, Jeji mengingatkan mahasiswa agar selalu menjaga integritas akademik selama menempuh pendidikan dan menghindari segala bentuk kecurangan.

“Jadilah mahasiswa yang baik. Hindari segala bentuk pelanggaran integritas akademik. Jangan senang mencontek karena semua kecurangan selalu meninggalkan jejak,” tegasnya.

Ia berharap seluruh peserta mengikuti rangkaian OSMB dan LPKBJJ hingga selesai agar memahami sistem pembelajaran, aturan akademik, serta komitmen memperluas akses pendidikan yang dijalankan UT Tarakan tidak hanya membuka peluang lebih besar bagi masyarakat Kalimantan Utara dan PMI untuk mengenyam pendidikan tinggi, tetapi juga mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4, SDG 8, dan SDG 10 melalui penyediaan layanan pendidikan yang inklusif dan menjangkau masyarakat hingga wilayah perbatasan maupun luar negeri.

Berita Lainnya