Di banyak ruang kelas, tantangan guru hari ini bukan lagi sekadar menyampaikan materi, tetapi bagaimana membuat anak-anak tetap tertarik, fokus, dan merasa dekat dengan pelajaran yang mereka terima. Di tengah dunia yang semakin visual dan digital, cara mengajar pun ikut bergerak. Guru tidak cukup hanya mengandalkan papan tulis dan buku paket. Mereka perlu media yang lebih segar, kreatif, dan mudah dipahami peserta didik.
Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Universitas Terbuka (UT) Semarang di SDN Tugurejo 01 Semarang, Kamis (4/6/2026). Bertempat di ruang kelas 3B, para guru dan tenaga kependidikan dari SDN Tugurejo 01 dan SDN Tugurejo 03 Semarang mengikuti pelatihan pemanfaatan Canva sebagai media pendukung pembelajaran.
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30 hingga 15.45 WIB itu menjadi lebih dari sekadar sesi pelatihan teknis. Bagi para peserta, kegiatan ini membuka ruang baru untuk melihat bahwa teknologi digital dapat digunakan secara sederhana, praktis, dan langsung berdampak pada proses belajar di kelas.
Melalui Canva, guru dapat menyusun materi yang lebih menarik secara visual, mulai dari presentasi, lembar kerja peserta didik, poster edukasi, infografis, video pembelajaran, hingga materi evaluasi. Media-media tersebut dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga lebih menyenangkan dan mudah ditangkap oleh siswa sekolah dasar.
Pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber dari UT Semarang, yakni Dra. Nurmawati, M.Pd., Dra. Sumiyati, M.M., dan Pukky Tetralian B. N., S.Pd., M.Mat. Para narasumber memperkenalkan Canva sebagai platform yang dapat mendukung guru dalam membuat bahan ajar secara lebih kreatif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.
Di hadapan para peserta, para narasumber menjelaskan bahwa salah satu kekuatan Canva terletak pada kemudahan penggunaannya. Guru dapat memanfaatkan berbagai template siap pakai, menyesuaikan desain dengan materi yang diajarkan, serta menghasilkan media pembelajaran tanpa harus memiliki kemampuan desain yang rumit.
Dampaknya terasa langsung dalam sesi praktik. Para guru tidak hanya duduk menyimak penjelasan, tetapi ikut mencoba membuat media pembelajaran secara bertahap. Dari proses itu, muncul antusiasme untuk mengeksplorasi berbagai fitur, mengajukan pertanyaan, dan membayangkan bagaimana hasil pelatihan tersebut dapat diterapkan ketika mereka kembali mengajar di kelas.
Suasana pelatihan pun berlangsung aktif, interaktif, dan positif. Setiap peserta mendapat kesempatan untuk berlatih, mencoba, dan memahami bahwa teknologi tidak selalu harus terasa sulit. Dengan pendampingan yang tepat, perangkat digital seperti Canva justru dapat menjadi teman kerja guru dalam merancang pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak-anak.
Kepala SDN Tugurejo 01 sekaligus Pelaksana Tugas Kepala SDN Tugurejo 03, Nur Rakhmat, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada Universitas Terbuka yang sudah berkenan melaksanakan pengabdian di SDN Tugurejo 01. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru dan tenaga kependidikan SDN Tugurejo 01 dan SDN Tugurejo 03 untuk meningkatkan profesionalisme, termasuk dalam implementasi pembelajaran mendalam,” ujarnya.
Nur Rakhmat juga berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut. Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut tenaga pendidik untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.
Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat UT Semarang yang dijadwalkan berlangsung selama delapan pertemuan sepanjang Juni hingga Juli 2026. Melalui program tersebut, UT Semarang berupaya mendampingi guru secara berkelanjutan, bukan hanya memberi pengetahuan sesaat, tetapi mendorong perubahan praktik pembelajaran yang dapat dirasakan langsung oleh peserta didik.
Inisiatif ini juga sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Penguatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang inklusif, relevan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi pendidikan juga berkaitan dengan SDG 9 tentang inovasi serta SDG 17 tentang kemitraan.
Pada akhirnya, perubahan besar di dunia pendidikan kerap dimulai dari langkah yang tampak sederhana. Dari guru yang berani mencoba media baru, dari kelas yang mulai dipenuhi materi visual yang lebih menarik, hingga dari siswa yang merasa belajar tidak lagi membosankan. Di titik itulah pelatihan ini menemukan maknanya: membantu guru menghadirkan kelas yang lebih hidup, kreatif, dan dekat dengan masa depan anak-anak.



