Akses pendidikan tinggi bagi warga negara Indonesia di luar negeri masih menjadi perhatian, terutama bagi mereka yang telah bekerja dan menetap di berbagai negara. Melalui sistem pendidikan jarak jauh, Universitas Terbuka (UT) menghadirkan layanan pembelajaran lintas batas. Hingga Februari 2026, sebanyak 8.391 mahasiswa UT tercatat tersebar di 56 negara, menggambarkan pemanfaatan pendidikan jarak jauh (PJJ) oleh WNI di berbagai penjuru dunia.
Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menegaskan capaian tersebut sebagai bukti bahwa pendidikan tinggi semakin inklusif. “Hal itu membuktikan bahwa akses pendidikan tinggi berkualitas kini tidak lagi terhalang oleh batas geografis maupun status pekerjaan,” kata Prof. Ali, Minggu (22/2). Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi UT sebagai pionir PJJ yang relevan di tingkat nasional dan global.
Komitmen internasionalisasi itu kembali ditegaskan dalam rapat kerja Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atikbud) yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI bersama Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO di Jakarta, 9–13 Februari 2026. Dalam sesi bertajuk “Internasionalisasi Pendidikan Jarak Jauh Universitas Terbuka”, Prof. Ali memaparkan mandat strategis UT dari pemerintah untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi seluruh WNI, termasuk Pekerja Migran Indonesia (PMI).
“UT hadir untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang sudah bekerja agar tetap bisa meningkatkan kualifikasi pendidikan tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesionalnya,” ujar Prof. Ali. Di sinilah ruh pendidikan inklusif menemukan maknanya, ketika pekerja migran di Hong Kong, perawat di Arab Saudi, atau pemegang Working Holiday Visa di Australia tetap dapat melanjutkan studi tanpa harus pulang ke Tanah Air.
Respons positif mengalir dari para Atikbud di berbagai negara mitra. Atikbud Tokyo, Prof. Dr. Amzul Rifin, mengungkapkan ketertarikan Asosiasi Pengusaha Japan Indonesia terhadap layanan UT. Sementara itu, Atikbud Australia, Prof. Yuli Rahmawati, mencatat tingginya minat pemegang Working Holiday Visa (WHV) untuk berkuliah di UT sebagai bekal karier saat kembali ke Indonesia. Dari Timur Tengah, Atikbud Riyadh, Prof. Dr. Muhammad Irfan Helmy, melaporkan tingginya animo WNI di Arab Saudi, bahkan mendorong UT untuk menggelar prosesi wisuda langsung di Riyadh, sebuah simbol kebanggaan dan pengakuan atas perjuangan mereka.
Apresiasi juga datang dari Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa, yang menilai pemanfaatan Sentra Layanan UT sangat membantu mahasiswa di Singapura. Dukungan diplomatik ini menjadi katalis penting dalam memperluas jejaring layanan UT di luar negeri.
Secara keseluruhan, hingga 13 Februari 2026, jumlah mahasiswa UT mencapai 747.533 orang. Dari jumlah tersebut, 8.391 mahasiswa berada di luar negeri dan tersebar di 56 negara. Skala ini memperlihatkan kontribusi UT dalam mendorong Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia, sekaligus selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 tentang Pengurangan Kesenjangan.
“Kami terus berusaha membantu mendorong angka partisipasi pendidikan di Tanah Air,” ungkap Prof. Ali. Pernyataan ini menegaskan bahwa internasionalisasi UT bukan sekadar ekspansi angka, melainkan misi pemerataan akses dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menutup agenda tersebut, Prof. Ali kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat jangkauan PJJ. Dukungan para Atikbud dipandang sebagai pilar dalam mengerek APK pendidikan tinggi Indonesia di level global. Dengan sistem yang fleksibel dan teruji, UT optimistis akan terus menjadi jembatan bagi WNI di seluruh dunia untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.
Di balik angka 8.391 mahasiswa itu, ada ribuan cerita tentang pekerja yang belajar selepas shift malam, ibu rumah tangga yang kuliah dari apartemen kecil di luar negeri, hingga anak muda yang menyiapkan masa depan sambil bekerja lintas negara. Dari sanalah pendidikan jarak jauh bukan lagi sekadar sistem, melainkan harapan yang menyatukan Indonesia dengan dunia.



