Tangerang Selatan, 24 Juli 2025 – Universitas Terbuka (UT) kembali menegaskan posisinya sebagai pelopor Perguruan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ) yang berkomitmen pada transformasi pendidikan tinggi berkelanjutan melalui kolaborasi strategis dengan UI GreenMetric (UIGM). Hasil asesmen terbaru menunjukkan lonjakan capaian signifikan, dengan skor GreenMetric UT naik dari 55% pada 2023 menjadi 79% pada 2024. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa UT berhasil mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam berbagai aspek pengelolaan kampus, mulai dari infrastruktur, sistem pembelajaran, hingga budaya akademik.
Mewakili Rektor UT, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Umum UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. dalam sambutannya menegaskan bahwa karakteristik UT sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh tidak menjadi penghalang. justru menjadi kekuatan dalam memimpin transformasi kampus hijau di Indonesia.
“Sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh terbesar di Indonesia, UT memiliki tantangan unik. Namun, komitmen kami terhadap keberlanjutan tidak pernah surut. Kami mengintegrasikan prinsip green campus ke dalam seluruh aspek pengelolaan kampus,” ujar Prof. Ali.
Sejumlah langkah nyata telah dilakukan UT, di antaranya pembangunan gerbang kampus berbasis energi terbarukan, penggunaan desain gedung hemat energi yang ramah pencahayaan dan ventilasi, serta integrasi prinsip keberlanjutan dalam sistem anggaran dan pengadaan. Inisiatif lainnya mencakup penguatan roadmap UT Green University dan pengembangan budaya sadar lingkungan di kalangan sivitas akademika.
Evaluasi dan Rekomendasi: Menyempurnakan Komitmen
Dalam sesi evauasi, Prof. Dr. Ing. Ir. Dwita Sutjiningsih, Dipl. HE dari UI GreenMetric memberikan sejumlah masukan konstruktif yang memperkaya langkah UT ke depan, misal penguatan fitur dashboard hijau yang selaras dengan indikator SDGs. Beliau menekankan pentingnya penyempurnaan data evidence, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, serta kejelasan dokumentasi setiap indikator keberlanjutan. UT menyambut baik rekomendasi tersebut dan bertekad memperkuat pencatatan serta pelaporan kegiatan lingkungan agar lebih terstruktur, transparan, dan dapat diukur.

Untuk indikator energi, UT tengah mengembangkan penggunaan diesel generator berbasis biodiesel dan instalasi solar panel. Namun, perhitungan produksi energi dari sumber-sumber ini masih membutuhkan penyempurnaan, seperti asumsi durasi pemakaian per tahun dan output kilowatt-hour yang terukur. Kejelasan lokasi (kampus pusat atau juga kampus daerah) menjadi penting dalam penentuan skor final.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Ing. Ir. Dwita Sutjiningsih, Dipl. HE juga merekomendasikan UT untuk memperkuat informasi mengenai smart building, serta mengembangkan strategi pemanfaatan kendaraan listrik (ZEV) yang ramah lingkungan, hingga penguatan fitur dashboard hijau setara SDGs. Dalam kaitannya dengan pengurangan emisi (C7), UT diminta untuk memetakan emisi dalam tiga lingkup: misi langsung (lingkup 1), tidak langsung dari energi yang dibeli (lingkup 2), dan emisi lainnya dalam rantai nilai (lingkup 3). UT menyambut baik tantangan ini dengan menyusun langkah konkret dalam mengurangi carbon footprint.
Pada aspek manajemen air dan limbah, seperti WS 5 dan WR 2, UT didorong untuk menambah informasi tentang pengolahan limbah B3 dan laundry, serta neraca air saat musim kering melalui penambahan tangki penampungan air hujan.
Sementara itu, pada indikator edukasi dan kolaborasi (ED), UT akan memperkuat dokumentasi program, seperti startup dan pengabdian masyarakat (pengmas) yang selama ini telah aktif dilakukan. Sebuah dashboard digital akan dikembangkan untuk merekam fitur indikator hijau, setara dengan SDGs Sharing Best Practice.
Memimpin dengan Praktik Baik dan Inovasi
Sharing praktik baik dari universitas lain juga menjadi inspirasi. Melalui paparan Dr. Nyoman Suwartha, ST., MT., MAgr., UT belajar dari pengalaman UI, BINUS, UII, dan Universitas Syah Kuala dalam membangun ekosistem kampus hijau. Beberapa inisiatif yang siap diadaptasi UT mencakup :
- Peningkatan fasilitas seperti toilet disabilitas, ruang laktasi, CCTV, sistem keamanan, dan lab terbuka.
- Pengembangan smart class yang diarahkan menjadi bagian dari smart building.
- Pengurangan lahan parkir sebagai bentuk insentif terhadap mobilitas rendah emisi.
- Pemanfaatan area kampus untuk kegiatan nasional, seperti festival kuliner, kegiatan bersepeda, dan lainnya.
- Peraturan dan kebijakan kampus yang mendukung pengoptimalan indikator GreenMetric secara berkelanjutan.
UT juga akan memperkuat sistem pencatatan, pelaporan, dan arsip seluruh kegiatan lingkungan secara komprehensif—mulai dari jadwal, monitoring, evaluasi, output, hingga penanggung jawab. Misalnya dalam pengelolaan sampah, UT akan menyusun skema pelaporan yang terstandar: jumlah sampah, waktu pengolahan, volume hasil, hingga struktur tim pelaksana.
“Dengan masukan dan pendampingan dari UI GreenMetric, UT siap melangkah lebih jauh, lebih strategis, dan lebih berdampak dalam memimpin transformasi kampus hijau berbasis pendidikan jarak jauh di tingkat nasional dan global,” pungkas Prof. Ali.
Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa UT tidak hanya berkomitmen pada konsep Green University di atas kertas, tetapi benar-benar menghidupkannya dalam praktik. Dengan pendampingan UI GreenMetric, UT menatap masa depan dengan visi yang lebih strategis dan berdampak, memimpin transformasi kampus hijau berbasis pendidikan jarak jauh, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga di kancah global.



