TANGERANG SELATAN, Di tengah ritme kehidupan yang semakin cepat dan tuntutan pekerjaan yang terus bergerak dinamis, ada satu hal yang sering tanpa sadar mulai terabaikan: keluarga. Padahal, dari rumah yang hangatlah seseorang mendapatkan ketenangan, dukungan, sekaligus kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Kesadaran itulah yang diangkat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Terbuka (UT) melalui webinar bertajuk “Mewujudkan Keluarga UT yang Harmonis dan Samara melalui Penguatan Peran dan Fungsi DWP UT” yang digelar secara daring pada Senin (18/5/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar webinar formal biasa. Dari ruang-ruang virtual yang mempertemukan keluarga besar UT dari berbagai daerah di Indonesia, webinar tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah kesibukan kerja, tekanan hidup, hingga derasnya arus informasi digital yang kerap memengaruhi hubungan dalam keluarga. Upaya memperkuat ketahanan keluarga ini juga sejalan dengan komitmen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta poin 5 mengenai kesetaraan gender melalui penguatan peran perempuan dalam keluarga dan lingkungan kerja.


Dalam sambutannya, Ketua DWP UT menegaskan bahwa keluarga yang harmonis merupakan fondasi penting dalam membangun kehidupan yang sehat, produktif, dan penuh empati. Karena itu, DWP UT ingin menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya memperkuat peran perempuan dan keluarga, tetapi juga mengingatkan kembali bahwa rumah harus tetap menjadi tempat paling aman (safe heaven) untuk pulang ketika dunia terasa semakin penuh ketidakpastian.
Suasana hangat webinar semakin terasa saat Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, memberikan sambutan dengan gaya santai dan penuh keakraban. Pantun serta candaan ringan yang disampaikannya sukses mencairkan suasana dan membuat peserta merasa lebih dekat meski terhubung secara virtual.
Kehangatan itu kemudian berlanjut dalam sesi materi pertama yang dibawakan langsung oleh Prof. Ali dengan tema “Membangun Keluarga Harmonis, Sakinah, Mawaddah wa Rahmah”. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa keluarga harmonis tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipenuhi komunikasi, pengertian, komitmen, dan kebersamaan yang sehat.
Ia menilai, tantangan terbesar keluarga modern saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan rumah tangga. Terlebih bagi pasangan yang sama-sama memiliki aktivitas padat, waktu bersama sering kali menjadi hal yang paling sulit dijaga.
Karena itu, menurutnya, quality time sekecil apa pun tetap memiliki makna besar dalam membangun kedekatan emosional di dalam keluarga.
“Peran seorang istri untuk membangun golden time, waktu yang tepat untuk berdiskusi dengan suami meskipun sangat terbatas, menjadi sangat penting,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Ali mengingatkan bahwa rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Ketika hubungan dalam keluarga terjalin dengan baik, seseorang akan memiliki energi positif untuk bekerja, berkarya, dan menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih tenang.
Pembahasan mengenai pentingnya komunikasi dalam keluarga kemudian semakin diperdalam oleh narasumber kedua, Enny Sriwahyuningsih. Dengan pendekatan yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, ia mengajak peserta memahami bahwa keharmonisan rumah tangga sering kali dibangun dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Ia menyoroti pentingnya memahami karakter pasangan, menjaga komunikasi yang sehat, hingga membangun kedekatan emosional dengan anak. Menurutnya, suasana rumah yang aman dan nyaman menjadi fondasi penting bagi kesehatan emosional seluruh anggota keluarga sekaligus menciptakan hubungan yang lebih setara, saling mendukung, dan penuh kepedulian.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang webinar berlangsung. Banyak peserta merasa materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi kehidupan saat ini. Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan pekerjaan, webinar tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan karier dan institusi juga perlu ditopang oleh keluarga yang kuat dan harmonis.
Lebih dari sekadar agenda organisasi, kegiatan ini menunjukkan bahwa membangun institusi pendidikan yang unggul tidak hanya dilakukan melalui capaian akademik dan profesionalisme kerja, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kemanusiaan di dalam keluarga. Sebab pada akhirnya, rumah yang hangat akan melahirkan pribadi-pribadi yang lebih tenang, peduli, dan penuh harapan dalam bekerja maupun melayani masyarakat.



