Kuliah di Pedalaman? Kini Bisa Tanpa Harus Tinggalkan Kampung Halaman!

Di pedalaman Kalimantan, mimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi seringkali terasa seperti melihat bintang di langit—indah, tapi jauh dan sulit dijangkau. Generasi muda di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, dan Barito Utara, Kalimantan Tengah, menghadapi dilema: melanjutkan sekolah atau ikut membantu pekerjaan tradisional yang bergantung pada alam sekitar. Akibatnya, potensi mereka sering terhambat, dan ketergantungan pada sektor ekonomi berbasis sumber daya alam pun terus berlanjut.

Melihat tantangan ini, PT Bharinto Ekatama (BEK) membuka jalan baru bagi masyarakat adat melalui pendidikan. Lewat program pengembangan masyarakat, perusahaan ini tidak hanya memberikan beasiswa prestasi bagi pelajar, tetapi juga mendukung guru untuk menempuh studi profesi. Dengan langkah ini, kualitas pendidikan di pedalaman pun perlahan meningkat, sekaligus mendorong masyarakat lebih bijak dalam mengelola lingkungan mereka, sejalan dengan SDG 15 – Kehidupan di Darat.

Kristinawati, Community Development Head PT BEK, menyampaikan, “Kami menetapkan standar akademik tinggi, seperti IPK minimal 3,25 untuk beasiswa prestasi, agar tercipta budaya kompetisi yang sehat. Selain itu, kami membiayai penuh 14 guru untuk menempuh studi di Universitas Terbuka, tanpa harus meninggalkan kampung halaman.”

Fleksibilitas pendidikan jarak jauh dari Universitas Terbuka menjadi kunci. Guru-guru ini bisa belajar sambil tetap mengajar di kampung mereka. Hasilnya, ilmu yang mereka dapat bisa langsung diterapkan untuk memperkuat pendidikan lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, selaras dengan SDG 4 – Pendidikan Berkualitas dan SDG 3 – Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan.

Program ini dibagi dalam dua skema: kategori terbuka untuk seluruh Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, serta kategori prioritas bagi masyarakat di wilayah Ring 1 operasional perusahaan. Sejak 2022 hingga 2025, lebih dari 300 orang telah merasakan manfaatnya. Kini, para lulusan tersebar di berbagai sektor, dari ASN, tenaga kesehatan, hingga guru yang kembali mengabdi di kampung halaman mereka.

Kristinawati menegaskan visi jangka panjang program ini: “Target kami adalah minimal satu sarjana di setiap kampung. Pendidikan memberi masyarakat adat pilihan hidup lebih luas, tidak lagi hanya bergantung pada satu sektor ekonomi. Dengan kompetensi baru, mereka juga bisa menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.”

Ke depan, fokus beasiswa akan diarahkan ke bidang yang sangat dibutuhkan, seperti kedokteran dan keperawatan, mendukung SDG 3 – Kesehatan yang Baik, SDG 4 – Pendidikan Berkualitas, serta memperkuat kemandirian masyarakat dalam mengelola lingkungan mereka.

Langkah ini pun mendapat pengakuan melalui Indonesian Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2025. Namun bagi BEK, penghargaan hanyalah simbol dari komitmen mereka membangun kemandirian komunitas adat melalui pendidikan. Dengan akses pendidikan yang tak lagi terhalang jarak, generasi muda pedalaman Kalimantan kini memiliki kesempatan nyata untuk mengubah masa depan, memperluas peluang karier, dan ikut mendorong pembangunan berkelanjutan di daerah mereka.

Dengan dukungan Universitas Terbuka, pendidikan tinggi tak lagi menjadi mimpi jauh di atas awan. Ia menjadi jembatan nyata yang menghubungkan potensi lokal dengan kesempatan global, memungkinkan setiap individu belajar, berkembang, dan berkontribusi—tanpa batas.