Literasi Jadi Asik! UT Buka Taman Bacaan di Pandeglang

Di Desa Kurung Kambing, Kabupaten Pandeglang, Banten, pagi itu berbeda dari biasanya. Anak-anak berlarian sambil membawa buku, remaja mengobrol tentang bacaan favorit, dan orang dewasa tampak penasaran ingin menelusuri rak-rak buku. Semua itu karena hadirnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang baru dibuka oleh Universitas Terbuka (UT) Serang melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kehadiran TBM ini bukan sekadar perpustakaan, tapi sebuah ruang belajar yang inklusif, menghadirkan kesempatan bagi semua warga desa untuk mengakses pendidikan berkualitas tanpa batas.

Menurut Ketua PKM TBM, Prof. Dr. Maman Rumanta, M.Si, tujuan utama kegiatan ini adalah membangun budaya literasi di Desa Kurung Kambing. “Tujuan PKM ini adalah menghadirkan TBM sebagai pusat edukasi masyarakat. Kami ingin anak-anak dan remaja terbiasa belajar melalui membaca, bukan sekadar bermain dengan HP,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa TBM juga menyediakan ruang literasi bagi orang dewasa dengan materi yang relevan, mulai dari bacaan keagamaan hingga pertanian. Literasi, menurut Prof. Maman, adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi setiap warga.

Kapan dan bagaimana TBM ini bisa terwujud? Semua berawal dari komitmen UT Serang untuk membawa pendidikan berkualitas hingga ke pelosok desa. Direktur UT Serang, Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd., menjelaskan, mahasiswa dan mitra kampus akan terlibat langsung dalam pendampingan dan pengembangan TBM agar kegiatan ini memberi dampak nyata bagi masyarakat. “Kami siap bekerjasama agar kegiatan PKM ini berjalan dengan baik memberi dampak bagi masyarakat,” jelasnya. Dengan cara ini, UT menunjukkan perannya dalam membuka akses pendidikan untuk semua, sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs 8 tentang Pertumbuhan Ekonomi.

Kepala Desa Kurung Kambing pun menyambut antusias kehadiran TBM. Ia menceritakan bahwa selama dua tahun terakhir, berbagai program PKM telah membantu desa menjadi lebih mandiri. “Kami berterima kasih kepada tim PKM. Dengan adanya pengembangan TBM, kami berharap warga desa semakin cerdas dan perekonomian desa ikut meningkat,” katanya optimistis.

Apa yang membuat TBM ini istimewa? TBM tidak hanya untuk anak-anak. Terdapat pojok baca khusus untuk anak, remaja, dan dewasa, sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa terlibat. Konsep inklusif ini menjadikan TBM sebagai pusat belajar sekaligus ruang berkumpul, bertukar ide, dan menumbuhkan kreativitas warga. Suasana peresmian TBM pun hangat, dihadiri guru, aparatur desa, dan warga umum. Diskusi dan tawa mewarnai momen ini, ditutup dengan tradisi munggahan menyambut Ramadhan, di mana hidangan tradisional dihidangkan di atas daun pisang, menegaskan kebersamaan dan kekeluargaan.

Mengapa TBM penting bagi desa ini? Karena literasi bukan sekadar membaca buku, melainkan fondasi membangun desa cerdas, kreatif, dan mandiri. Siapa pun bisa belajar, kapan pun, dan di mana pun, dengan dukungan perguruan tinggi yang peduli. Universitas Terbuka membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak mengenal batas ruang dan usia. Dari Desa Kurung Kambing, lahirlah inspirasi bahwa akses belajar yang inklusif bisa menjadi jembatan untuk mewujudkan generasi yang kritis, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.