Di tengah tuntutan agar perguruan tinggi tak lagi sekadar mencetak lulusan, Universitas Terbuka (UT) memilih mempertegas perannya sebagai kampus yang menghadirkan solusi nyata. Bukan hanya lewat jurnal dan angka sitasi, tetapi melalui inovasi yang menyentuh sistem digital internal, pengolahan limbah industri, hingga rehabilitasi daerah terdampak bencana. Untuk itu, UT mengalokasikan dana internal hingga Rp67 miliar pada Tahun Anggaran 2026—dan siap meningkatkannya hingga menembus Rp100 miliar.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Kegiatan Penyerahan Kontrak Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), penayangan Katalog Inovasi, serta Anugerah Karya Inovasi Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Jumat (13/2/2026). Mengusung tema “Riset dan PkM Berdampak untuk Mewujudkan UT yang Unggul”, agenda rutin awal tahun yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ini menjadi penanda dimulainya seluruh aktivitas riset, hilirisasi, dan pengabdian UT sepanjang 2026.
Rektor UT Prof. Ali Muktiyanto menegaskan, penguatan riset bukan sekadar agenda tahunan, melainkan strategi besar menuju kampus kelas dunia. Anggaran yang saat ini berada di angka Rp67 miliar akan terus ditingkatkan secara bertahap.
“Bahkan pimpinan risetnya nanti akan dilakukan juga oleh para profesor. Tujuannya untuk meramaikan riset dan pengabdian masyarakat. UT punya 42 profesor, semuanya nanti akan terjun langsung sebagai pimpinan riset dan akan mendapat apresiasi tersendiri,” imbuh Ali Muktiyanto.
Ia menegaskan bahwa UT telah siap bergerak menuju World Class University dengan meningkatkan kualitas penelitian. “Jadi lewat institusi penelitian dan pengabdian masyarakat di UT ini, kita akan sama-sama meramaikan jalur riset, penulisan jurnal ilmiah, pengabdian masyarakat serta penerbitan paten dan hilirisasi hasil penelitian,” tegas Ali.
Langkah tersebut tak berdiri sendiri. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, penguatan riset dan hilirisasi ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Sementara komitmen pada PkM kebencanaan dan rehabilitasi wilayah terdampak menjadi kontribusi konkret terhadap SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT Prof. Dewi Artati Padmo menegaskan bahwa alokasi Rp67 miliar merupakan bentuk keseriusan UT dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya darma penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
“Dana internal tahun 2026 mencapai Rp67 miliar dan akan terus meningkat setiap tahunnya. Ini menunjukkan keseriusan UT dalam memperkuat ekosistem riset, inovasi, hilirisasi, serta PkM yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendanaan internal mencakup berbagai skema penelitian seperti penelitian kompetitif, penugasan, kelompok riset, kolaborasi nasional dan internasional, pengembangan MOOCs dan microcredential, hilirisasi, hingga penelitian mahasiswa S1. Sementara skema PkM meliputi PkM dosen/komunitas, PkM nasional desa binaan, PkM internasional, PkM kebencanaan, serta PkM kewirausahaan mahasiswa.
Seluruh proses pengelolaan riset dan PkM dilakukan secara digital melalui sistem Simpenmas yang dikelola LPPM UT. Selain bersumber dari dana internal, kegiatan tersebut juga didukung pendanaan eksternal, memperkuat kolaborasi dan keberlanjutan program.
Komitmen tersebut tercermin dalam Katalog Karya Inovasi dan Pengabdian Universitas Terbuka untuk Negeri Tahun 2025 yang ditayangkan dan diserahkan dalam kesempatan yang sama. Sebanyak 45 karya inovasi terpilih didokumentasikan, terdiri atas 12 produk penelitian keilmuan, 22 produk PkM, dan 11 produk riset inovasi yang dihasilkan sepanjang 2025 oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UT.
Dari puluhan karya tersebut, dua tim peneliti menerima Anugerah Catha Sancaya Universitas Terbuka sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi yang dinilai paling berdaya guna. Penghargaan pertama diberikan kepada tim “Pengembangan Aplikasi Web Tracer LPPM Universitas Terbuka Menggunakan Metode Agile” yang diketuai Teguh Nursantoso, S.Kom., M.MSI., bersama Fitradi Nurdin, S.Kom., M.M.S.I., A. Rachmat Wirawan, S.H., M.H., dan Yoga Muhamad Tampi, S.TI. Inovasi ini memperkuat sistem pelacakan dan manajemen riset secara digital.


Penghargaan kedua diberikan kepada tim “Proses Pengolahan Limbah Cair Industri Pengolahan Daging Secara Biologis Menggunakan Bio-Stater dan Bakteri Probiotik Lactobacillus spp” yang terdiri atas Dr. Ir. Nurhasanah, M.Si., Fajdza Hilmi Makarim, Dr. Hasrianti, S.Si., M.Si., Imam Rozali Fathar, dan Dr. Ir. Edi Rusdiyanto, M.Si. Riset tersebut menghadirkan solusi biologis ramah lingkungan dalam pengolahan limbah industri, relevan dengan agenda keberlanjutan lingkungan.
“Riset dan PkM di UT tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga produk inovatif yang berdaya guna, termasuk untuk mendukung rehabilitasi daerah terdampak bencana. Kami ingin memastikan bahwa setiap karya memberi dampak nyata bagi masyarakat,” kata Dewi.
Di titik inilah UT menegaskan arah besarnya. Ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi ditransformasikan menjadi solusi konkret. Dengan pendanaan yang diperkuat, keterlibatan 42 profesor sebagai pimpinan riset, serta ekosistem digital yang terintegrasi, UT mengirim pesan yang jelas: kampus bukan hanya tempat belajar, melainkan ruang lahirnya inovasi yang bekerja untuk negeri.



