Suasana Atrium Mal SKA Pekanbaru, Minggu (15/2/2026), terasa semarak ketika Polda Riau mengumumkan pemenang Puncak Ekshibisi Lomba Orasi Green Policing 2026. Di antara para finalis kategori mahasiswa, nama Edi Sahputra disebut sebagai juara pertama. Mahasiswa Universitas Terbuka itu tampil konsisten sejak tahap penilaian hingga malam puncak, membawa gagasan yang dinilai paling kuat dan solutif terkait persoalan lingkungan di Riau.
Kompetisi bertema “Aksi Pemuda untuk Lingkungan Bersih, Aman, dan Berkelanjutan” ini berlangsung sejak 14 Januari hingga 3 Februari 2026, dengan proses penilaian pada 3–6 Februari. Sebanyak 102 peserta dari 11 provinsi mengikuti ajang tersebut, terdiri atas pelajar SMA dan mahasiswa. Mereka menyampaikan orasi berisi analisis kritis sekaligus solusi konkret terhadap isu kebakaran hutan, deforestasi, dan pelestarian lingkungan.
Pada kategori mahasiswa, Edi bersaing ketat dengan M. Alwi Zikri (Universitas Riau) di posisi kedua, diikuti Meysah Ibrahim Nasution (Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia), Nadia Gayatri (Institut Agama Islam Lukman Edy Pekanbaru), serta Zikra Tiara Bintang (Universitas Islam Riau). Prestasi ini menegaskan kapasitas mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengartikulasikan gagasan perubahan secara sistematis dan persuasif.
Dalam orasinya, para mahasiswa menyoroti kondisi hutan Riau yang kian menyusut dan perlunya pendekatan pencegahan dari hulu. Data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut menunjukkan, dalam 10 tahun terakhir luas hutan di Riau berkurang dari 5,7 juta hektar menjadi 1,7 juta hektar atau terdegradasi sekitar 75 persen akibat kebakaran dan deforestasi. Isu inilah yang menjadi latar belakang program Green Policing.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengapresiasi partisipasi aktif generasi muda dalam lomba tersebut. “Alhamdulillah, hari ini diberikan akal sehat untuk bisa menyampaikan ide gagasan lewat narasi yang mendorong bagaimana bisa kita berfikir terus memberikan solusi kepada lingkungan-manusia dengan cara yang sangat sederhana,” ujarnya.
Menurut dia, pendekatan Green Policing tidak berhenti pada pemadaman kebakaran, melainkan bergerak dari hulu melalui penanaman pohon dan pelestarian hutan. “Belum ada yang berbicara menjaga alam dan hutan, selama ini hanya bermuara pada pemadaman. Kita berangkat ke hulu, kita lakukan penanaman pohon menjaga kelestarian. Jikalau kita lakukan 20 tahun lalu, pohon yang ditanam sudah memberikan kontribusi luar biasa,” katanya. Ia menambahkan, “Policing yang dimaksud ini adalah kegiatan polisional, menjaga atau menertibkan, itu bisa dilakukan adik-adik semua.”
Kemenangan mahasiswa dalam ajang ini memperlihatkan peran strategis kampus dalam membentuk agen perubahan. Sistem pembelajaran yang fleksibel di Universitas Terbuka, misalnya, memberi ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk tetap mengembangkan kapasitas akademik sekaligus kepedulian sosial. Hasilnya tampak nyata melalui prestasi yang diraih.
Semangat mahasiswa dalam lomba ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama Pendidikan Berkualitas, Penanganan Perubahan Iklim, dan Ekosistem Daratan. Dari ruang publik seperti pusat perbelanjaan hingga ruang akademik, mahasiswa menunjukkan bahwa gagasan dan aksi nyata dapat berjalan beriringan demi lingkungan yang lebih bersih, aman, dan berkelanjutan.



