Saat Mutu Tak Bisa Ditawar, Ini Upaya UT Menjaga Standar Akademik Prodi Statistika

Tangerang Selatan, 22 Januari 2026 – Di Auditorium Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Terbuka (UT), Kamis (22/1/2026), sebuah proses penting berlangsung tanpa hingar-bingar. Suasana tenang, penuh diskusi, dan keseriusan menggambarkan Asesmen Lapangan Program Studi Statistika yang sedang berlangsung—sebuah tahapan krusial yang kerap luput dari sorotan, tetapi menentukan kualitas pendidikan yang diterima mahasiswa.

Asesmen ini digelar di UT Pusat, Tangerang Selatan, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas serta sivitas akademika FST. Hadir Wakil Rektor Bidang Akademik UT Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., yang mewakili Rektor UT, Ketua Lembaga Layanan Operasional Pembelajaran Drs. Timbul Pardede, M.Si., Dekan FST Dr. Subekti Nurmawati, M.Si., Direktur Pemasaran dan Kerja Sama Ali Tarigan, S.E., Direktur Sistem Informasi Dr. Muhammad Rif’an, S.T., M.T., Kepala Pusat Perpustakaan dan Kearsipan Dr. Sri Sediyaningsih, M.Si., Ketua Program Studi Statistika Siti Hadijah Hasanah, S.Si., M.Si., serta perwakilan dari Kantor Penjaminan Mutu (KPM) Proses asesmen dilakukan oleh dua asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Sains Alam dan Ilmu Formal (LAMSAMA), yakni Dr. Swasono Rahardjo, M.Si. dari Universitas Negeri Malang dan Prof. Dr. Admi Nazra, M.Si., M.Sc. dari Universitas Andalas.

Bagi UT, asesmen lapangan bukan sekadar agenda rutin. Lebih dari itu, proses ini menjadi bagian dari tanggung jawab moral kepada mahasiswa dan masyarakat luas. Wakil Rektor Bidang Akademik UT, Prof. Rahmat Budiman, menegaskan bahwa UT berkomitmen kuat dalam menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh yang berkualitas serta inklusif. “Universitas Terbuka memiliki komitmen yang kuat dalam menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh yang berkualitas dan inklusif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Fakultas Sains dan Teknologi diarahkan menjadi fakultas unggul dan berkualitas dunia dalam bidang sains dan teknologi pada sistem Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ). Komitmen ini tidak lepas dari kondisi nyata di lapangan dimana masih banyak guru yang belum berkualifikasi S1. Dalam konteks inilah UT hadir menjalankan mandat negara. “UT diminta untuk turut serta sesuai dengan mandat yang diberikan, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan geografis,” kata Prof. Rahmat. Ia menegaskan, UT hadir dengan cita-cita yang mulia untuk membuka akses pendidikan bagi semua.

Karena itu, kehadiran asesor dalam asesmen lapangan dipandang sebagai bagian penting dari upaya menjaga mutu. “Hadirnya asesor menjadi salah satu upaya kami dalam menjaga dan menjamin kualitas, agar masyarakat mendapatkan akses pendidikan yang merata dan kualitasnya terjamin,” ujarnya. Menurut Prof. Rahmat, kualitas menjadi ruh utama Universitas Terbuka. Seluruh proses dijalankan berdasarkan SOP dan pedoman yang jelas agar hasil pendidikan dapat dipertanggungjawabkan. “Ke depan akan selalu ada perbaikan, dan itu menjadi kebanggaan bagi kita semua,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan asesor LAMSAMA, Dr. Swasono Rahardjo. Ia menilai asesmen lapangan ini sebagai langkah positif bagi pengembangan Program Studi Statistika. “Ini hal yang sangat baik untuk pengembangan Prodi Statistika. Dengan proses yang paling cepat ini, saya yakin Prodi Statistika bisa lebih baik,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan asesmen ditutup dengan penandatanganan surat pernyataan Asesmen Lapangan oleh Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Ketua Program Studi Statistika, serta asesor, yang disaksikan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UT.

Di balik proses yang jarang terlihat publik, Universitas Terbuka terus memastikan bahwa pendidikan terbuka tidak berarti kompromi terhadap mutu. Lewat Program Studi Statistika, UT menegaskan perannya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang dapat diakses siapa saja, dari mana saja—sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDGs 10 tentang pengurangan kesenjangan.