Empat Gelar Sarjana: Jejak Akademis Sang Komisaris Utama Pos Indonesia

Tangerang Selatan, 23 Januari 2026 – Sebuah kota di pesisir utara Jawa Tengah yang dikenal dengan kegigihan warganya, seorang putra daerah lahir membawa semangat belajar yang tak pernah padam. Muhammad Budi Djatmiko, yang lahir pada 16 September 1964, tumbuh dengan membawa karakter tanah kelahirannya: kerja keras, ketulusan, dan tekad untuk melampaui batasan. Dari sudut kota kecil itulah, perjalanan panjang seorang pembelajar sejati dimulai hingga akhirnya ia dipercaya mengemban amanah sebagai Komisaris Utama PT Pos Indonesia (Persero).

Kisah Budi Djatmiko bukan sekadar narasi tentang kesuksesan karier di BUMN, melainkan sebuah perjalanan emosional tentang bagaimana ia memeluk ilmu pengetahuan dengan segala keterbatasan ruang dan waktu. Namanya mulai dikenal luas saat resmi ditunjuk sebagai nakhoda pengawas di BUMN logistik tersebut melalui SK Nomor SK-176/MBU/07/2024 pada Juli 2024. Namun, jika menilik ke belakang, fondasi intelektualnya dibangun dengan cara yang luar biasa unik, di mana Universitas Terbuka (UT) hadir sebagai rumah bagi mimpi-mimpinya.

Di tengah kesibukan masa mudanya, Budi memilih jalan yang jarang diambil orang lain: menempuh empat gelar sarjana sekaligus dan menyelesaikannya pada tahun yang sama, 1987. Universitas Terbuka menjadi saksi bisu perjuangannya meraih gelar S1 Manajemen dan S1 Statistik. Di sinilah UT membuktikan jati dirinya sebagai jembatan bagi siapa pun yang memiliki kemauan kuat untuk maju tanpa harus meninggalkan aktivitas lainnya. Melalui sistem pendidikan jarak jauh yang fleksibel, Budi mampu menyeimbangkan studinya di UT sembari meraih gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pasundan.

Semangat inklusivitas yang ditawarkan UT sejalan dengan napas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada poin keempat, yakni Pendidikan Berkualitas untuk semua. Budi Djatmiko menjadi bukti hidup bahwa kualitas lulusan UT mampu bersaing di level tertinggi kepemimpinan nasional. Hausnya akan ilmu kemudian membawanya meraih dua gelar magister dari ITB dan Universitas Padjadjaran (Unpad), hingga puncaknya meraih dua gelar doktor dari Universitas Indonesia dan Unpad pada 2004.

Meski kini berdiri di puncak karier dengan total kekayaan mencapai Rp114,7 miliar berdasarkan LHKPN 2024, Budi tetaplah sosok yang berpijak pada bumi. Kepedulian sosialnya yang dalam ia curahkan melalui Rumah Yatim dan Tahfizh Quran Madani yang ia dirikan sejak 1997. Peran ini, ditambah posisinya sebagai Pembina ICMI Jawa Barat, mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang selaras dengan SDG poin kedelapan tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi yang inklusif.

Melalui sosok Muhammad Budi Djatmiko, kita belajar bahwa pendidikan berkualitas bukan lagi tentang seberapa jauh jarak gedung kampus dari rumah, melainkan seberapa besar tekad untuk terus bertumbuh. Universitas Terbuka telah membuktikan bahwa pintu ilmu selalu terbuka lebar bagi siapa pun, dari pelosok daerah hingga puncak pimpinan korporasi, demi masa depan Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya.