Bidik Predikat Unggul, UT Pastikan Kualitas Pendidikan Kimia Jarak Jauh Melampaui Standar Nasional

Tangerang Selatan, 13 Desember 2026 — Universitas Terbuka (UT) kembali menegaskan komitmennya terhadap mutu pendidikan tinggi jarak jauh melalui pembukaan Asesmen Lapangan (AL) Program Studi Pendidikan Kimia yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Kegiatan ini berlangsung secara hibrid, menghubungkan pimpinan, dosen, dan mahasiswa dari berbagai wilayah, mulai dari Surabaya, Bogor, hingga Australia.

Asesmen Lapangan ini merupakan bagian dari proses akreditasi oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), yang bertujuan memastikan kualitas penyelenggaraan pendidikan tetap terjaga, meski dilaksanakan melampaui batas ruang dan geografis. Melalui pemanfaatan teknologi digital, UT kembali menunjukkan perannya sebagai pelopor pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh di Indonesia.

Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa akreditasi bukan sekadar formalitas administratif, melainkan cerminan kejujuran dan keterbukaan akademik institusi. Ia meminta seluruh tim untuk menampilkan data dan praktik penyelenggaraan pendidikan apa adanya.

“Pesan saya, tolong teman-teman semua tunjukkan bukti fisik. Jangan sampai ada data yang disembunyikan. Tunjukkan apa adanya,” ujar Prof. Ali di hadapan jajaran pimpinan dan tim task force UT.

Menurut Prof. Dr. Ali, asesmen ini memiliki makna strategis karena UT menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang mengajukan akreditasi Program Studi Pendidikan Kimia berbasis distance learning. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4, yakni pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata.

Melalui sistem pendidikan jarak jauh, UT membuka akses seluas-luasnya bagi guru dan calon pendidik kimia, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil, untuk memperoleh kualifikasi akademik bermutu. Langkah ini sekaligus menjadi kontribusi nyata UT dalam mengurangi kesenjangan pendidikan nasional.

“Kami sangat bahagia karena UT memang satu-satunya yang mengajukan akreditasi berbasis distance learning. Kami berharap mendapat guidance dan advice. Target kami tentu predikat Excellent (Unggul), dan kami mohon doa agar harapan itu terwujud,” kata Prof. Dr. Ali.

Tim asesor LAMDIK yang hadir terdiri atas Prof. Sulistyo Saputro, M.Si., Ph.D. dari Universitas Negeri Solo (UNS) dan Prof. Dr. Khairida, M.Si. dari Universitas Negeri Padang (UNP). Keduanya disambut sebagai mitra dialog strategis dalam upaya peningkatan mutu berkelanjutan.

Prof. Sulistyo menegaskan bahwa kehadiran tim asesor tidak semata untuk menilai, melainkan juga untuk belajar bersama. Ia menyebut Universitas Terbuka memiliki karakteristik unik yang justru dapat menjadi rujukan bagi perguruan tinggi konvensional.

“Tujuan utama kami selain silaturahmi adalah belajar bersama. Jadi kedatangan kami bukan hanya untuk melakukan asesmen, tetapi juga untuk saling bertukar pengalaman,” ujar Prof. Sulistyo. Ia menjelaskan bahwa asesmen selama dua hari ke depan difokuskan pada konfirmasi kesesuaian data yang telah disampaikan program studi dengan kondisi nyata di lapangan.

Proses asesmen ini juga mencerminkan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Kolaborasi antara UT dan LAMDIK menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tinggi membutuhkan sinergi, keterbukaan, dan kepercayaan bersama.

Dengan sistem yang inklusif dan adaptif, UT terus membuktikan bahwa pendidikan tinggi berkualitas dapat diakses oleh siapa saja—mulai dari profesional yang beralih karier, hingga akademisi muda yang menempuh studi di luar negeri. Melalui Asesmen Lapangan ini, Universitas Terbuka melangkah mantap memperkuat perannya sebagai garda depan pendidikan jarak jauh demi masa depan bangsa yang lebih setara dan berdaya saing.