Tangerang Selatan – Kehadiran dua asesor nasional, Prof. Indra Maipita—akademisi dan pakar bidang ekonomi pendidikan dari Universitas Negeri Medan—serta Dr. Mintasih Indriayu, dosen dan asesor berpengalaman di bidang pendidikan tinggi, menandai dimulainya asesmen lapangan reakreditasi Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Terbuka (UT). Kunjungan akademik ini menjadi bagian penting dari proses penjaminan mutu, sekaligus memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan jarak jauh UT tetap memenuhi standar nasional dan relevan bagi kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Asesmen lapangan tersebut disambut langsung oleh jajaran pimpinan Universitas Terbuka, mulai dari Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, SE., M.Si, para wakil rektor, dekan, hingga pengelola program studi. Dalam suasana yang hangat dan terbuka, UT menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas tanpa batas, selaras dengan karakter perguruan tinggi terbuka yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Terbuka menyampaikan apresiasi atas kehadiran para asesor serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses asesmen. Ia menegaskan bahwa reakreditasi bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan UT dalam membangun dan menjaga budaya mutu. Menurutnya, sistem penjaminan mutu internal UT telah dibangun sejak lama dan terus disempurnakan agar sesuai dengan tantangan pendidikan jarak jauh.

“Kami telah memulai lebih awal pembangunan birokrasi Sistem Penjaminan Mutu Internal dan terus mengembangkan kapasitas sumber daya manusia di bidang ini. Pendidikan jarak jauh membutuhkan pengelolaan yang sangat detail, mulai dari bahan ajar, proses pembelajaran, hingga evaluasi hasil belajar yang reliabel,” ujar Rektor UT.
Ia menekankan bahwa UT memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kesetaraan kualitas akademik bagi seluruh mahasiswa. Nilai dan capaian pembelajaran mahasiswa UT harus memiliki standar yang sama, baik diperoleh di wilayah timur Indonesia maupun di pusat-pusat layanan lainnya. Prinsip tersebut menjadi fondasi UT dalam menghadirkan keadilan akses pendidikan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif.
Rektor UT juga menjelaskan bahwa UT menerapkan konsep resource sharing dengan melibatkan para pakar dari berbagai perguruan tinggi dan institusi, baik negeri maupun swasta, sebagai tutor, supervisor, hingga pengembang bahan ajar. Kolaborasi ini dinilai mampu memperkuat kualitas akademik sekaligus memperluas jejaring keilmuan secara nasional.
Sementara itu, asesor akreditasi Prof. Indra Maipita menyampaikan bahwa Universitas Terbuka merupakan institusi pendidikan yang telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Ia menilai asesmen lapangan ini sebagai proses yang wajar dan penting untuk memastikan keberlanjutan mutu pendidikan tinggi. “Akreditasi ini kita jalani seperti biasa. Prinsipnya, apa yang sudah baik silakan ditunjukkan, dan hal-hal lain dapat kita diskusikan bersama,” ujarnya.
Prof. Indra juga mengapresiasi keterbukaan dan kesiapan UT dalam menjalani proses asesmen. Ia berharap kegiatan ini dapat berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik. “Awalnya biasa saja, semoga pada akhirnya menjadi luar biasa,” katanya.
Melalui asesmen lapangan ini, Universitas Terbuka menegaskan perannya sebagai pelopor pendidikan jarak jauh yang tidak hanya memperluas akses pendidikan tinggi, tetapi juga memastikan mutu dan relevansinya bagi masyarakat. Proses reakreditasi ini diharapkan semakin memperkuat kepercayaan publik terhadap UT sekaligus mendukung penguatan sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan, sejalan dengan semangat SDGs 4 dan SDGs 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.



