Pendidikan Seni Era Baru: ISI Yogyakarta Lirik Sistem Belajar ala UT

Hubungan antarperguruan tinggi tidak selalu dimulai dari meja rapat yang penuh formalitas. Kadang, ia tumbuh dari suasana hangat, percakapan santai, dan keinginan tulus untuk membuka peluang pendidikan yang lebih luas bagi siapa saja. Gambaran itu tampak jelas pada Kamis, 11 Desember 2025, ketika rombongan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berkunjung ke Universitas` Terbuka (UT). Di ruang pertemuan yang akrab, kedua institusi mendiskusikan satu pertanyaan besar: bagaimana menghadirkan pendidikan yang bisa menjangkau siapa pun, di mana pun, tanpa batas.

Kunjungan tersebut mempertemukan jajaran pimpinan, mulai dari wakil rektor hingga pengelola pembelajaran. Tujuan pertemuan tersampaikan dengan terang—ISI ingin memperluas wawasan mengenai Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), sementara UT membuka pintu selebar-lebarnya untuk berbagi pengalaman sebagai pelopor pendidikan tinggi terbuka di Indonesia.

“Kami di UT itu memang lagi sering dikunjungi banyak institusi… mungkin karena kami adalah pionir ya,” ujar perwakilan UT, menjelaskan mengapa kampus ini kerap menjadi destinasi utama dalam pembahasan pendidikan fleksibel.

Bagi ISI, kehadiran mereka ke UT memiliki makna mendalam. “Kami ingin belajar sesungguhnya tentang bagaimana kita bisa membuat kampus kita semakin inklusif… bagaimana akses pendidikan kita ini bisa semakin mudah dijangkau oleh siapa saja. Nah, untuk itu ke mana lagi kami harus belajar kalau bukan ke UT?” ungkap perwakilan ISI. Inilah alasan inti kunjungan: mencari model pembelajaran modern yang tetap menjaga esensi seni, namun mampu menjangkau ruang yang lebih luas melalui teknologi.

Diskusi kemudian berkembang menjadi percakapan yang luwes dan penuh ketertarikan. ISI memaparkan tantangan khas dunia seni yang selama ini bertumpu pada praktik langsung, tetapi kini melihat peluang untuk mengalihkan sebagian proses belajar ke ranah digital. Mereka tengah menyiapkan kelas seni untuk platform nasional ICE (Indonesia Cyber Education) dan mengembangkan program Pre-University yang memungkinkan siswa SMA mulai mencicil SKS seni sebelum memasuki masa studi formal.

UT merespons gagasan tersebut dengan sikap terbuka dan suportif. Sebagai kampus yang sejak 1984 mengembangkan pendidikan jarak jauh, UT berbagi pengalaman tentang standar mutu, desain pembelajaran daring, hingga implementasi prinsip inklusivitas—nilai yang selama puluhan tahun menjadi napas penyelenggaraan pendidikannya. Suasana forum pun semakin cair. “Jangan terlalu formal… seniman itu nggak suka dengan yang kaku,” kata perwakilan UT, yang langsung disambut tawa dan membuat diskusi berlangsung makin hidup.

Dari percakapan tersebut, arah kolaborasi mulai terbentuk. ISI akan mengeksplorasi pembelajaran seni jarak jauh, sementara UT siap mendampingi dan membuka ruang sinergi lebih lanjut. Keduanya memiliki tujuan bersama: menghadirkan pendidikan yang merata dan dapat diakses, sejalan dengan SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas yang inklusif.

Saat pertemuan ditutup, kehangatan itu tidak ikut memudar. Tepuk tangan penutup menjadi penanda bahwa hari itu bukan sekadar rangkaian kunjungan, melainkan langkah awal menuju kerja sama yang lebih luas. Dengan pengalaman UT dalam membuka akses pendidikan tanpa batas, dan kekayaan kreativitas yang dimiliki ISI, pertemuan pada Kamis, 11 Desember 2025 itu menjadi momentum penting bagi masa depan pendidikan Indonesia—lebih terbuka, lebih adaptif, dan lebih dekat dengan masyarakat.