LEBAK — Di Leuwidamar, pembangunan desa tidak hanya bicara soal infrastruktur. Ada mimpi yang lebih dekat dengan kehidupan warga: anak-anak muda yang bisa kuliah tanpa harus jauh dari rumah, pelaku wisata yang makin siap menyambut pengunjung, hingga masyarakat desa yang mampu mengembangkan potensi lokalnya dengan cara yang lebih berdaya.
Semangat itu menjadi denyut utama Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Nasional 2026 yang digelar Universitas Terbuka (UT) di Hotel Grand Keisha Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (16/6/2026). Melalui forum ini, UT berupaya memastikan pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti sebagai program akademik, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan warga dan membuka ruang kolaborasi yang lebih panjang.
Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LPPM UT tersebut mengangkat tema “Keberlanjutan Program Asta Cita sebagai Pilar Pembangunan Wilayah Desa di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak”. Program ini menjadi bagian dari Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) Times Higher Education Impact Rankings UT Tahun 2025–2026, yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Diktisaintek Berdampak.
Ketua Pelaksana, Dr. Suhartono, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa forum ini memiliki dua tujuan penting. Selain mendiseminasikan hasil pengabdian masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membahas kebutuhan lapangan berdasarkan data identifikasi yang telah dikumpulkan sebelumnya dari program PKM. Dengan begitu, arah program tidak disusun dari jauh, tetapi dibangun dari suara dan kebutuhan masyarakat.
Harapan paling terasa datang dari Camat Leuwidamar, H. Agung Nugraha, S.E., M.M. Ia mengapresiasi langkah UT yang terus menghadirkan program pemberdayaan di wilayahnya. Lebih jauh, ia berharap UT Serang dapat membuka layanan kelas jauh di Leuwidamar agar lulusan SMA setempat memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus menempuh jarak yang jauh.
Harapan itu terasa relevan bagi wilayah seperti Leuwidamar. Di banyak daerah, akses pendidikan tinggi masih menjadi tantangan tersendiri. Bukan karena semangat belajar tidak ada, tetapi karena jarak, biaya, dan kesempatan kerap menjadi batas yang sulit ditembus. Kehadiran UT dengan sistem pembelajaran yang fleksibel membuka peluang agar pendidikan tinggi bisa lebih dekat dengan masyarakat.
Dari sektor pariwisata, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Yosep Mohamad Holis, melihat kontribusi UT sebagai bagian penting dari upaya pemberdayaan masyarakat desa. Terlebih, kawasan wisata budaya Badui di Ciboleger kini telah masuk dalam 125 agenda event nasional. Menurutnya, kawasan budaya Badui bukan hanya milik masyarakat Lebak, tetapi juga telah menjadi bagian dari kekayaan nasional bahkan internasional.
Karena itu, penguatan masyarakat di sekitar kawasan wisata budaya menjadi semakin penting. Yosep menekankan empat aspek utama yang perlu dikembangkan, yakni peningkatan sumber daya manusia, pengembangan produk wisata, strategi pemasaran, dan inovasi pariwisata. Di titik inilah peran perguruan tinggi menjadi strategis: menjembatani pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan riil masyarakat.
Dukungan terhadap program UT juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Doddy Irawan, yang mengapresiasi komitmen UT dalam memberikan manfaat nyata melalui pengabdian berkelanjutan. Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Rido Novara Nataatmaja, menekankan pentingnya kolaborasi lanjutan antara UT dan pemerintah daerah, terutama dalam memperkuat kapasitas lembaga ekonomi desa sebagai pilar pembangunan wilayah.
Kepala Pusat PKM UT, Dr. Heriani, S.I.P., M.A., memaparkan bahwa jejak pengabdian UT di Kabupaten Lebak telah berlangsung sejak 2020. Program yang dilakukan pun terus berkembang, mulai dari peningkatan profesionalisme guru, pelatihan Penelitian Tindakan Kelas, sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental, pemberdayaan ekonomi dan desa wisata, hingga implementasi Green Economy.
Pada 2026, program tersebut memasuki fase yang lebih luas. UT mendorong penguatan digital marketing, inovasi makanan khas, resolusi konflik berbasis kearifan lokal, produksi film animasi mitigasi bencana berjudul “Bahaya Ngabaikan Ayah”, revitalisasi cerita rakyat, penerapan ekonomi sirkular di Tanjung Sari Indah, serta pemberdayaan pemandu wisata Badui melalui teknologi Virtual Reality (VR).
Berbagai inisiatif itu sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pendidikan berkualitas, pertumbuhan ekonomi, komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta kemitraan lintas sektor. Di Leuwidamar, UT tidak sekadar datang membawa program. UT hadir untuk mendengar, menguatkan, dan ikut menyalakan harapan bahwa desa bisa tumbuh dari kekuatan warganya sendiri.



