Ketika Literasi Digital UT Jadi Inspirasi, ISC Timor Leste Datang Membawa Harapan Kolaborasi

Tangerang Selatan, 26 November 2025 — Suasana Gedung Perpustakaan Universitas Terbuka (UT) siang tadi terasa berbeda. Di tengah deretan rak dan ruang baca digital, UT menerima kunjungan delegasi Instituto Superior Cristal (ISC) Timor Leste yang datang khusus untuk membahas kerja sama pemanfaatan Repository dan E-Library UT—sebuah langkah penting dalam upaya memperluas akses literasi dan penguatan kualitas pendidikan tinggi di Timor Leste.

Kunjungan ini dipimpin Dr. Jacinto de Oliveira Junior, M.Pd, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ISC, bersama Dr. Rafael Savio, MM, yang disambut hangat oleh Dr. Hendrian, S.E., M.Si., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Bisnis UT, serta Dr. Sri Sediyaningsih, M.Si., Kepala Pusat Perpustakaan dan Kearsipan UT.

Dalam percakapan yang berlangsung intens namun bersahabat, delegasi ISC menyampaikan apresiasi atas kesediaan UT membuka ruang kolaborasi. Mereka menekankan bahwa kapasitas perguruan tinggi di Timor Leste harus diperkuat melalui akses literatur yang lebih luas—terutama referensi akademik berbahasa Indonesia dan Inggris, yang saat ini masih terbatas di kampus mereka. “Untuk memperkuat kolaborasi antar lembaga dan menghadapi tantangan pendidikan, penguatan literasi menjadi kunci. Perpustakaan adalah pusatnya,” ujar Dr. Jacinto. Ia menilai UT sebagai rujukan penting dalam pengembangan sumber belajar digital yang inklusif dan mudah dijangkau.

UT kemudian memaparkan ekosistem perpustakaan digital yang telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dr. Sri Sediyaningsih menunjukkan berbagai inovasi, mulai dari repository ilmiah, koleksi e-book, Ruang Baca Virtual, hingga layanan seperti Book-View, Pustaka Pintar, dan Lib-Talk yang membuat perpustakaan UT tak lagi sekadar tempat menyimpan buku, tetapi pusat produksi dan distribusi pengetahuan yang dinamis. Statistik akses yang mencapai 20 juta kunjungan pada 2025 menjadi bukti bagaimana UT terus memperluas layanan dan jangkauan literasi digitalnya.

Pembahasan teknis kemudian mengerucut pada tiga hal: pemberian akses repository dan e-library bagi dosen serta mahasiswa ISC, pertukaran metadata penelitian, serta peluang penyelenggaraan pelatihan atau seminar bersama. Semua opsi tersebut dinilai dapat meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi dan membuka ruang kolaborasi akademik yang lebih kuat di masa depan.

Dr. Hendrian menyambut baik rencana tersebut dan menegaskan bahwa UT berkomitmen mendukung penguatan akademik negara sahabat melalui inisiatif kolaborasi yang inklusif. Ia menilai kerja sama ini selaras dengan upaya UT dalam memperluas jejaring internasional serta berkontribusi pada pencapaian SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 (Partnership for the Goals).

Pertemuan ditutup dengan keyakinan bahwa kerja sama ini bukan hanya soal berbagi akses digital, tetapi membuka jalan baru bagi pertukaran pengetahuan, penelitian, dan penguatan budaya literasi di kawasan regional. Bagi UT, kemitraan ini sekaligus menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi terbuka yang tidak hanya melayani Indonesia, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis bagi institusi pendidikan di negara tetangga.

Dan bagi ISC, inisiatif ini menjadi langkah penting dalam menyediakan sumber rujukan yang lebih kaya dan relevan bagi dosen serta mahasiswa mereka.

Di tengah perkembangan pendidikan global yang menuntut konektivitas dan kolaborasi, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa perpustakaan—baik fisik maupun digital—tetap menjadi jembatan paling kokoh untuk memperluas cakrawala pengetahuan lintas batas geografis.