Berani Melangkah Ke Vietnam, Lima Mahasiswa UT Pulang Dengan Cerita Berbeda

Perjalanan ini tidak dimulai dengan rencana besar atau ambisi berlebihan. Lima mahasiswa Universitas Terbuka berangkat ke Da Nang, Vietnam, dengan perasaan yang sederhana: penasaran. Penasaran seperti apa rasanya belajar bersama mahasiswa dari negara lain, berbagi ruang diskusi lintas budaya, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Pada November 2025, kesempatan itu hadir lewat partisipasi mereka dalam ASEAN Week di FPT University. Dari sana, pengalaman belajar yang selama ini mereka jalani secara fleksibel menemukan bentuk lain—lebih nyata, lebih personal, dan perlahan mengubah cara mereka memaknai proses belajar itu sendiri.

Selama ini, belajar bagi mahasiswa Universitas Terbuka berarti fleksibilitas. Layar laptop, modul digital, dan waktu yang bisa disesuaikan dengan ritme hidup masing-masing. Namun ketika kesempatan mengikuti ASEAN Week datang, lima mahasiswa UT memilih untuk tidak hanya menonton dari jauh. Mereka berangkat—membawa rasa penasaran, keberanian seadanya, dan banyak tanda tanya.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Zakiyyah, Satria Adi Pamungkas, Nanda Oktaviani, Yitro Vanem, dan Rahmaliah Widi Lestari. Mereka datang dari kota dan disiplin ilmu yang berbeda. Tidak semuanya percaya diri. Tidak semuanya terbiasa berbicara di forum internasional. Tapi justru di sanalah cerita mereka bertemu.

Hari-hari di Da Nang berjalan dengan ritme yang berbeda. Diskusi lintas negara sering kali dimulai dengan canggung, lalu perlahan mengalir. Percakapan ringan di sela kegiatan justru menjadi momen paling jujur—tentang mimpi, ketakutan, dan tekanan sebagai mahasiswa di era yang serba cepat. Mereka menyadari, kegelisahan itu tidak pernah benar-benar eksklusif.

Dalam sesi reflektif tentang ketangguhan, cerita demi cerita dibagikan. Tidak ada yang berpura-pura kuat. Ketangguhan di ruang itu tidak diajarkan sebagai teori, melainkan dirasakan sebagai keberanian untuk mengakui lelah dan saling menguatkan.

Malam itu, di panggung ASEAN Night, rasa gugup kembali datang. Membawa budaya Indonesia ke hadapan teman-teman baru terasa seperti membawa rumah sendiri ke negeri orang. Ada takut salah, ada cemas tidak diterima. Namun ketika tepuk tangan mengalir, mereka tahu—keberanian kecil itu terbayar lunas.

Penghargaan Best Cultural Performance datang belakangan. Bukan sebagai tujuan utama, tapi sebagai penanda bahwa mereka benar-benar hadir, bukan sekadar lewat.

Kesempatan ini hadir karena Universitas Terbuka percaya bahwa pengalaman global tidak seharusnya hanya milik segelintir orang. Mahasiswa dari berbagai latar belakang diberi ruang untuk mencoba, gagal, belajar, dan tumbuh. Tanpa banyak slogan.

Ketika perjalanan berakhir dan rutinitas kembali berjalan, perubahan itu tidak selalu terlihat dari luar. Tidak ada yang mendadak menjadi orang lain. Namun ada satu hal yang tinggal lebih lama: keberanian untuk percaya pada diri sendiri.

Dari Vietnam, lima mahasiswa UT pulang dengan satu kesadaran sederhana—bahwa belajar bukan hanya tentang tempat seseorang berada, melainkan tentang sejauh apa ia berani melangkah. Dan bagi mereka, langkah itu telah mengubah segalanya.