Universitas Terbuka (UT) meneguhkan komitmennya untuk bertransformasi menjadi perguruan tinggi jarak jauh kelas dunia berbasis ekosistem digital. Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., dalam kegiatan penyelarasan visi dan peluncuran Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 yang digelar di UTCC, Senin (11/11/2025).
Dalam sambutannya, Prof. Ali menekankan pentingnya perubahan cara berpikir dan bertindak agar seluruh sivitas akademika dapat menyesuaikan diri dengan percepatan perubahan zaman. Ia menyebut transformasi UT tidak bisa dilakukan dengan cara-cara lama, melainkan harus dilakukan secara radikal dan revolusioner.
“Kalau kita ingin menang di masa depan, jangan kita kejar masa depan — masa depan harus kita bawa ke masa kini. Itu kuncinya,” ujarnya di hadapan jajaran pimpinan pusat dan daerah UT yang hadir secara luring dan daring.

Rektor UT menyebut, Renstra ini menjadi panduan utama arah pembangunan universitas lima tahun ke depan, sebagai turunan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang UT 2025–2045. Dokumen strategis ini disusun untuk memastikan kesinambungan visi dan misi UT menuju universitas berdaya saing global, yang tidak hanya berfokus pada kualitas akademik, tetapi juga inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Prof. Ali menegaskan pentingnya mengubah pola pikir, pola sikap, dan pola tindak secara menyeluruh. “Kita tidak bisa lagi terjebak di zona nyaman. Zaman berubah begitu cepat, maka perubahan di UT pun harus cepat dan berdampak,” katanya.
Ia juga menyoroti peran Fakultas Sains dan Teknologi (FST) serta program vokasi yang disebutnya sebagai “raksasa tidur” yang kini harus dibangunkan untuk memperkuat kontribusi UT dalam menghasilkan lulusan bersertifikasi dan siap bersaing di dunia kerja.
Paparan lebih rinci disampaikan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sekaligus Ketua Tim Renstra UT, Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D., yang memaparkan arah Renstra 2025–2029. Ia menjelaskan bahwa fokus utama tahap pertama pembangunan UT adalah menjadi Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) berkualitas dunia berbasis ekosistem pembelajaran digital yang kuat.
“Ekosistem digital ini bukan hanya soal pembelajaran, tetapi keseluruhan sistem dari registrasi hingga ujian yang saling terintegrasi. Semua unit harus memahami bahwa pembelajaran di UT adalah sistem yang menyeluruh, bukan parsial,” jelas Prof. Dewi.
Ia mengungkapkan, terdapat 37 sasaran strategis dalam Renstra baru UT yang mencakup bidang akademik, non-akademik, penjaminan mutu, kemahasiswaan, serta alumni dan kerja sama. Salah satu target utama adalah 80 persen lulusan sarjana dan diploma memiliki pekerjaan, melanjutkan studi, atau menjadi wirausahawan, dengan penghasilan di atas Upah Minimum Provinsi (UMP).
Selain itu, UT juga menargetkan 5 program studi internasional, peningkatan 30 persen hilirisasi hasil penelitian, dan 1.250.000 mahasiswa aktif pada tahun 2029 — sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 9 tentang inovasi serta infrastruktur.


Sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif menegaskan kembali arah perubahan yang diusung UT. Menjawab pertanyaan dari Direktur UT Daerah Mataram mengenai hubungan antara tagline “radikal dan integritas” dengan Renstra baru, Rektor menjelaskan bahwa semangat tersebut justru menjadi penguat arah kebijakan.
“Tagline itu bukan tambahan, tetapi penguat dari Renstra. Kewibawaan, integritas, dan reputasi kita harus diwujudkan secara permanen dan mendunia. Itu hanya bisa tercapai kalau kita berani berubah secara radikal,” tegasnya.
Ia juga menyinggung tentang kiprah Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA UT) yang kini bergerak aktif dalam pemberian beasiswa melalui kontribusi kolektif alumni sebesar Rp150 ribu per orang — hasil kesepakatan Munas IKA UT 2025. Langkah ini disebut sebagai bentuk kolaborasi nyata alumni dalam memperluas akses pendidikan bagi generasi berikutnya.
Dengan visi baru yang kuat dan strategi yang terarah, Universitas Terbuka menegaskan posisinya bukan hanya sebagai kampus jarak jauh, tetapi sebagai simbol pendidikan masa depan — terbuka, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.



