Tangerang Selatan, 24 November 2025 – tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Ruang itu dipenuhi langkah-langkah penuh harapan, wajah-wajah yang menyimpan cerita panjang perjuangan, dan senyum yang nyaris tak bisa disembunyikan oleh para calon wisudawan Universitas Terbuka. Hari itu bukan sekadar seminar biasa, tetapi rangkaian dari kegiatan wisuda, momen ketika perjalanan yang ditempuh bertahun-tahun—di sela pekerjaan, di tengah tanggung jawab keluarga, dan di bawah tekanan hidup yang tak selalu ramah—akhirnya menemukan klimaks perjalanannya. Di bawah cahaya lampu yang hangat, suasana terasa seperti pelukan lembut bagi mereka yang datang untuk merayakan pencapaian diri. Semangat yang hadir hari itu juga mengingatkan bahwa mereka sedang ikut menjalankan misi besar bangsa: menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkualitas, sejalan dengan tujuan SDG 4.
Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., membuka kegiatan dengan pesan yang terasa hangat sekaligus menguatkan. Ia mengingatkan bahwa momentum ini bukan penutup perjalanan akademik, melainkan pintu awal untuk terus berkembang. “Saya berharap seminar ini tidak hanya memberikan wawasan teoritis, tetapi juga menginspirasi para calon wisudawan untuk terus melakukan re-skilling, up-skilling, serta menjadi agen perubahan di lingkungan kerja maupun komunitas masing-masing,” ujarnya. Dalam nada yang tenang tetapi tegas, ia menegaskan kembali komitmen UT: menghadirkan pendidikan yang dapat dijangkau siapa saja, tanpa hambatan ruang dan waktu. “UT hadir sebagai solusi bagi masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan tinggi tanpa batas,” tambahnya.

Suasana semakin hangat saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menyampaikan pandangannya. Ia memuji UT sebagai mitra strategis dalam menyediakan bahan bacaan bermutu yang dapat diakses anak-anak di seluruh Indonesia.
“Universitas Terbuka sebagai the leading university in open education bisa menjadi mitra kami dalam menyediakan bacaan-bacaan yang bermutu dan mudah diakses di manapun mereka berada,” tuturnya. Kolaborasi semacam ini memperlihatkan pentingnya kerja sama lintas lembaga, sejalan dengan nilai yang ditekankan dalam SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan—bahwa kemajuan pendidikan membutuhkan jalinan kontribusi banyak pihak.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat keteladanan melalui pelatihan guru dan kepala sekolah. “Guru bukan sekadar agent of learning, tapi agent of civilization,” katanya, kembali menegaskan peran penting pendidikan dalam membangun peradaban.
Selepas sesi pembukaan, rangkaian penandatanganan MoU antara UT dan sejumlah pemerintah daerah berlangsung penuh optimisme. Gubernur Kalimantan Utara, yang diwakili oleh Kepala Biro Pemerintahan dan otonomi Daerah, Dr. Taufik Hidayat., S.TP., M.Si., menyampaikan bagaimana UT menjadi harapan bagi masyarakat di wilayah perbatasan.
“Kalimantan Utara itu wilayah strategis yang jauh. Kuliah di UT sangat fleksibel tanpa meninggalkan pekerjaan. Inilah yang membuat kerja sama ini sangat penting,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa peningkatan SDM melalui akses pendidikan fleksibel adalah kunci bagi masa depan wilayahnya.
Apresiasi serupa datang dari berbagai kepala daerah—dari Walikota Tegal, Bupati Banggai, hingga Bupati Barito Timur—yang menyebut UT sebagai jawaban bagi masyarakat mereka yang sulit mengakses pendidikan tinggi. “Kami bersyukur Universitas Terbuka menjadi solusi pendidikan di daerah kami,” ujar Bupati Barito Timur, menggambarkan betapa pendidikan jarak jauh membuka harapan baru bagi warganya yang harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mencapai fasilitas umum seperti bandara.
Pada sesi tanya jawab, Rektor UT menegaskan kesiapan UT menyambut implementasi program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) tahun 2026. “Per semester ada 20–30 ribu mahasiswa masuk melalui jalur RPL. Ini bukan hal baru bagi UT,” jelasnya. Program ini menjadi salah satu jalan strategis mempercepat pencetakan guru berkualitas melalui pengakuan pengalaman kerja dan kompetensi yang sudah dimiliki —sebuah kontribusi konkret terhadap upaya meningkatkan mutu pendidikan, selaras dengan SDG 4.

Seminar ini ditutup dengan motivasi dan sosialisasi tracer study serta IKA-UT. Namun lebih dari itu, seminar ini menyisakan kehangatan—bahwa UT bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi rumah yang selalu terbuka, tempat di mana banyak cerita dimulai. Di balik setiap tawa dan kebahagiaan calon wisudawan hari itu, ada perjalanan panjang yang dipertemukan kembali dalam satu pesan sederhana: pendidikan berkualitas kini bukan lagi hak istimewa, melainkan kesempatan yang nyata bagi semua.


