Mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan tidak bisa dilakukan oleh sekolah sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara pendidik, orang tua, pemerintah, hingga masyarakat agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan belajar yang sehat. Semangat itulah yang terus didorong Universitas Terbuka (UT) melalui Program EQUITY di Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Nasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UT. Forum ini menjadi ruang untuk mengevaluasi capaian pendampingan yang telah berlangsung selama tiga tahun sekaligus menyusun langkah kolaboratif guna memperkuat implementasi sekolah ramah anak dan budaya antiperundungan di Desa Tegal. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah desa, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kepemudaan, pendidik PAUD, yayasan, serta masyarakat sebagai mitra utama dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif.
Ketua Tim PKM FKIP UT, Dony Darma Sagita, menjelaskan bahwa pengabdian yang dilakukan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan semata. Selama tiga tahun terakhir, berbagai program telah dijalankan secara berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem pendidikan berbasis masyarakat.
Beragam inisiatif tersebut meliputi pengembangan pojok baca, parenting positif, pendampingan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) bagi guru PAUD, hingga penguatan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. Seluruh program dirancang untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berpihak pada tumbuh kembang anak.
“Desa Tegal telah menjadi mitra strategis Universitas Terbuka dalam membangun ekosistem pendidikan berbasis masyarakat. Selama tiga tahun terakhir, berbagai program telah berjalan dengan baik dan mendapat dukungan kuat dari pemerintah desa, sekolah, guru, orang tua, serta masyarakat,” ujar Dony.
Ia menambahkan, Program PKM juga diarahkan untuk membangun kolaborasi yang berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, keluarga, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan organisasi lokal. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak sekaligus mampu mencegah terjadinya perundungan.
Upaya ini juga sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4, Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan akses terhadap lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan mendukung perkembangan setiap peserta didik. Kolaborasi lintas unsur yang dibangun dalam program ini turut mencerminkan semangat SDGs poin 17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, sebagai kunci dalam menghadirkan perubahan yang berkelanjutan di masyarakat.
Apresiasi terhadap program tersebut datang dari Pemerintah Desa Tegal. Sekretaris Desa Tegal, Jayadi, menyampaikan penghargaan atas pendampingan yang telah dilakukan Universitas Terbuka selama tiga tahun terakhir.
“Atas nama Pemerintah Desa Tegal, kami menyampaikan terima kasih kepada Universitas Terbuka dan LPPM UT. Kegiatan PKM UT sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Tegal. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut pada masa yang akan datang,” ujar Jayadi.
Program EQUITY sendiri merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperkuat pendidikan tinggi sekaligus mengakselerasi transformasi perguruan tinggi menuju World Class University melalui penguatan riset dan publikasi.
Bagi Universitas Terbuka, membangun sekolah ramah anak tidak cukup dilakukan melalui pelatihan atau pendampingan sesaat. Perubahan membutuhkan kolaborasi yang terus dijaga antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Melalui pendampingan yang telah berjalan selama tiga tahun di Desa Tegal, UT menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar menghadirkan program, tetapi ikut membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, aman, dan bebas dari perundungan.


