Suasana hangat kerja sama antarnegara terasa di Phuket, Thailand, saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OU5 ke-27 resmi ditutup pada 30 Oktober 2025. Selama sepekan penuh, para pemimpin universitas dan peneliti dari lima institusi pendidikan terbuka terbaik di Asia berdiskusi, berjejaring, dan merumuskan arah baru masa depan pembelajaran jarak jauh.
Gelaran dua tahunan yang diselenggarakan oleh Sukhothai Thammathirat Open University (STOU) di Phuket Graceland Resort & Spa ini mempertemukan lima anggota tetap OU5: Universitas Terbuka (UT) dari Indonesia, Hanoi Open University (HOU) dari Vietnam, University of the Philippines Open University (UPOU) dari Filipina, serta Open University Malaysia (OUM) dari Malaysia.
Dalam sambutan pembukaannya, Associate Prof. Dr. Taweewat Watthanakuljaroen, Presiden STOU, menyebut forum ini sebagai wadah strategis untuk saling berbagi pengalaman dan inovasi dalam dunia pendidikan terbuka. “Kami berharap KTT ini menjadi ruang dinamis untuk bertukar ide dan memperkuat kolaborasi di kawasan Asia,” ujarnya.


Dari Indonesia, Universitas Terbuka menghadirkan Dr. Hendrian, S.E., M.Si., Wakil Rektor UT. Dalam pidatonya, Hendrian menegaskan pentingnya mempererat kolaborasi antaruniversitas terbuka sebagai kunci menghadapi tantangan global pendidikan di era digital.
“KTT OU5 adalah platform vital untuk kolaborasi regional, terutama dalam mengatasi tantangan global,” ujarnya. “Kami menyampaikan apresiasi yang tulus kepada STOU sebagai tuan rumah, dan mendorong seluruh peserta untuk bertukar ide, menantang asumsi, serta membangun koneksi yang bermakna.”
Kehadiran UT dalam forum internasional ini menegaskan komitmennya sebagai universitas terbuka berkelas dunia yang aktif mendorong kemitraan lintas negara. Kiprah ini sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menempatkan kolaborasi dan akses pendidikan sebagai pondasi utama pembangunan berkelanjutan.
Selain UT dan STOU, konferensi ini turut menghadirkan pemikiran dari Prof. Dr. Joane Serrano, Kanselir UPOU; Associate Prof. Dr. Nguyen Mai Huong, Ketua Dewan Wali Amanat HOU; serta Prof. Dr. Norjaya Mohd Yasin yang mewakili Prof. Dr. Ahmad Izanee Awang, Wakil Kanselir OUM. Mereka menyoroti peran universitas terbuka sebagai katalis perubahan di tengah transformasi digital yang semakin cepat.

Rangkaian kegiatan selama seminggu berlangsung intensif: mulai dari pertemuan riset tingkat tinggi, diskusi strategi antar presiden universitas, hingga kunjungan lapangan ke Prince of Songkla University di Phuket. Setiap sesi dirancang untuk memperkuat riset kolaboratif dan memperluas cakrawala akademik antarnegara anggota.
KTT kemudian ditutup dengan laporan hasil pertemuan para presiden universitas dan presentasi hasil riset dari tiap kelompok universitas. Momen ini sekaligus menandai babak baru bagi jaringan OU5 untuk terus memajukan pendidikan terbuka dan jarak jauh di kawasan Asia.

Melalui partisipasinya di KTT OU5, Universitas Terbuka kembali menegaskan perannya bukan sekadar sebagai penyelenggara pendidikan jarak jauh di Indonesia, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan global yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

