UT Turun Ke Masyarakat, Ajak Pelajar “Saring Sebelum Sharing”

Bagi sebagian besar pelajar masa kini, media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sayangnya, di balik kemudahannya berbagi dan berinteraksi, banyak yang belum menyadari sisi gelap dunia digital: penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga kecanduan layar. Melihat fenomena ini, Universitas Terbuka (UT) mengambil langkah nyata melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Bijak Menggunakan Media Sosial di Era Digital.”

Kegiatan yang diikuti 60 peserta dari kalangan siswa dan warga sekitar ini menjadi ajang edukasi sekaligus refleksi bersama tentang pentingnya etika dan tanggung jawab dalam bermedia sosial. Acara dibuka oleh Eko Andy Purnomo, S.Pd., M.Pd., yang mengapresiasi inisiatif UT untuk menumbuhkan kesadaran digital di masyarakat. “Media sosial memang bermanfaat untuk belajar dan berkomunikasi, tetapi jika tidak digunakan secara bijak bisa menimbulkan dampak negatif. Karena itu, edukasi seperti ini sangat penting bagi generasi muda,” ujarnya.

Suasana kegiatan berlangsung hidup dan interaktif. Para dosen serta mahasiswa UT tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak peserta berdiskusi, menonton video edukatif, hingga melakukan simulasi “Saring Sebelum Sharing.” Melalui kegiatan ini, para peserta dilatih untuk berpikir kritis sebelum menyebarkan informasi di dunia maya.

Salah satu pemateri, Dra. Binti Muflikah, M.Hum., menjelaskan bahwa menjadi pengguna media sosial yang bijak bukan berarti membatasi diri, melainkan memanfaatkannya untuk hal yang produktif. “Bijak bermedia sosial bukan berarti tidak boleh aktif, tapi bagaimana kita mampu menggunakan platform digital untuk hal-hal positif seperti belajar, berdakwah, berwirausaha, dan berbagi inspirasi,” jelasnya.

Peserta pun antusias mengikuti kegiatan ini. Adit, salah satu peserta, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru. “Saya jadi tahu kalau tidak semua berita di TikTok itu benar. Sekarang saya mau lebih hati-hati sebelum percaya dan membagikan informasi,” ujarnya polos.

Selain penyampaian materi, tim UT juga membagikan poster edukatif dan panduan praktis tentang keamanan data pribadi, cara melindungi privasi, serta tips menghindari konten negatif. Langkah sederhana ini menjadi bentuk nyata kepedulian UT terhadap literasi digital masyarakat.

Menurut Binti Muflikah yang juga Ketua Tim PkM, kegiatan semacam ini akan terus digalakkan di berbagai sekolah dan komunitas agar semakin banyak masyarakat yang melek digital. “Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda, menjadi pengguna media sosial yang cerdas, produktif, dan berkontribusi positif di ruang digital,” tuturnya.

Inisiatif UT ini menjadi bukti bahwa pendidikan jarak jauh bukan halangan untuk hadir di tengah masyarakat. Melalui program PkM, UT tidak hanya menyalurkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan kesadaran sosial yang relevan dengan tantangan zaman.

Langkah ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh). Keduanya menekankan pentingnya peningkatan literasi dan pembentukan masyarakat yang sadar hukum serta etika di dunia digital.

Dengan semangat belajar sepanjang hayat, UT terus menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas dan tugas akademik, tetapi juga tentang menciptakan perubahan nyata bagi masyarakat—bahkan lewat satu unggahan yang bijak di media sosial.