Program Kampus Mengajar merupakan salah satu dari banyaknya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program ini berlangsung selama empat bulan (satu semester). Berkat adanya program ini dan tentunya kerja keras dari Tim Partisipan Kampus Mengajar Angkatan 6 dalam peningkatan Literasi dan Numerasi membuahkan hasil yang sangat baik pada kompetensi peserta didik. Tersebarnya mahasiswa sebanyak 21.500 di Indonesia diterjunkan di berbagai jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Tentunya pencapaian dan kerja keras ini tidak lepas dari partisipasi mahasiswa yang mengikuti Program Kampus Mengajar yang pada angkatan 6 kemarin diikuti oleh Oktafiana Retno Wulandari, mahasiswa Universitas Terbuka dari program studi Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Bagi Retno, alasannya memilih program Kampus Mengajar dari sekian banyak program Kampus Merdeka dengan alasan sebagai ajang pembuktian untuk diri sendiri, keuntungan yang didapatkan dalam program Kampus Mengajar menjadi alasan kesekian untuknya.

Selain itu, Retno juga menambahkan, “Pemikiran yang awalnya tidak ingin untuk melanjutkan sebagai tenaga pengajar, terbantahkan setelah melewati 4 bulan kegiatan Kampus Mengajar. Penugasan kegiatan yang berada di SD Negeri Banyu Urip II/363 dengan sekolah dasar yang memiliki 20 rombongan belajar, bertempat di wilayah kampung Banyu Urip Surabaya, dengan kondisi sekolah yang bisa dikatakan kurang baik karena kekurangan ruang kelas dan kekurangan tenaga pendidik, serta ketidakefektifan kegiatan belajar mengajar yang menggunakan sistem pagi dan siang,” tambahnya.
Tentunya untuk menjadi bagian dari program Kampus Mengajar terdapat tahapan seleksi yang harus dilewati. Dalam penjelasannya, Retno menjabarkan, “Untuk bisa menjadi bagian dari Kampus Mengajar, terdapat beberapa tahapan diantaranya adalah Ada 3 tahapan yaitu: 1) Seleksi pemberkasan, 2) Tes Numerasi dan Literasi, Value Clarification and Attitude Transformation (VCAT), dan survei kebhinekaan, 3) Pelatihan Online sebagai persiapan penugasan di sekolah penugasan,” jelasnya.
Akhirnya setelah melewati berbagai serangkaian seleksi, keyakinan Retno bahwa akan berhasil menjadi kenyataan. Satu bulan setelah tes tersebut, Retno mendapatkan e-mail dengan subjek SELAMAT, salah satu e-mail yang membuat gembira dan tidak percaya karena telah diterima sebagai peserta Kampus Mengajar Angkatan 6. Tahapan terakhir yang harus dilakukan oleh Retno adalah pelatihan online selama 15 hari sebelum terjun di sekolah penugasan, dalam pelatihan kita mendapatkan banyak sekali tips yang bisa diimplementasikan saat penugasan.

Penugasan Retno dalam mengikuti program Kampus Mengajar dimulai pada 14 Agustus 2023 sampai dengan 2 Desember 2023. Banyak sekali pengalaman yang didapat dan sangat berkesan. Pada sekolah penugasan, Retno menjadi pengajar untuk persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) sebagai pengajar Numerasi dan pengajar mata pelajaran Matematika di kelas 2B.
Retno berujar, “Peserta didik kelas 2B SD Negeri Banyu Urip II/363 yang selalu ekspresif dan ingin terus mencoba soal-soal yang saya buat. Pembelajaran matematika yang seringkali menjadi momok untuk peserta didik, membuat saya untuk selalu brainstorming untuk membuat pembelajaran yang menyenangkan,” ujarnya.
Lanjutnya, Retno menceritakan pengalamannya saat mengajar, “Pada materi pembelajaran yaitu Pengukuran, peserta didik saya berikan berbagai macam pita dengan berbagai ukuran yang bisa diukur secara nyata dengan menggunakan penggaris yang mereka miliki. Dengan keberhasilan pembelajaran tersebut adalah peserta didik saya sangat hebat sekali karena sudah mencoba untuk mengukur pita tersebut dan juga berhasil menentukan berapa panjang pita A, B, dan C. Persiapan ANBK dengan durasi yang sangat pendek, senin sampai jumat peserta didik mengerjakan soal-soal yang ada di buku dan soal yang saya buat,” ungkapnya.
Bagi Retno, kegiatan tersebut sangat berkesan karena Retno dapat melihat peserta didik yang berprogress sedikit demi sedikit untuk bisa mengerjakan soal-soal dengan kategori sulit. Selain itu, pengimplementasian program kerja yang telah disusun oleh Kelompok penugasan di SD Negeri Banyu Urip II/363, menjadi pengalaman yang berkesan juga, belajar sambil bermain yang menjadi prinsip utama kelompok. Banyaknya games edukatif juga membuat peserta didik di SD Negeri Banyu Urip II/363 bersemangat dan reaksi mereka yang membuat Retno dan teman kelompok bahagia dan program kerja menunjukkan keberhasilan sesuai dengan prinsip yang dimiliki.
Akhirnya pada 1 Desember 2023 menjadi hari perpisahan, berpamitan kepada peserta didik yang selama 4 bulan ini Retno dan rekan-rekan lainnya bimbing. Sudah banyak pengalaman yang Retno dan rekan-rekan lainnya dapatkan selama penugasan, baik suka maupun duka yang tentunya memberikan makna dan kesan tersendiri bagi Retno yang tidak akan terlupakan.
Di akhir cerita, Retno menyampaikan, “Dampak kegiatan penugasan ini, menjadikan saya lebih berani untuk memiliki impian sebagai tenaga pengajar atau guru. Pemikiran yang dulunya tidak ingin menjadi tenaga pengajar juga berubah. Ketakutan-ketakutan yang saya pikirkan hilang menjadi rasa senang ketika melihat peserta didik yang bersemangat, berani untuk menjawab, ekspresi peserta didik yang membuat saya terbayang apabila saya benar-benar menjadi tenaga pengajar. Siapa lagi yang bisa menjadi garda terdepan untuk generasi selanjutnya jika tanpa ada keterlibatan dari guru maupun tenaga pendidik,” tangkasnya.


