Suasana hangat langsung terasa saat kegiatan Pembinaan Calon Tenaga Kerja pada sektor pekerjaan hijau dan peluncuran Pusat Karir Universitas Terbuka (UT) dimulai. Di hadapan ratusan mahasiswa dan alumni yang hadir secara luring maupun daring dari berbagai daerah di Indonesia, Wakil Rektor Bidang Sistem Informasi dan Layanan Jarak Jauh UT, Prof. Dr. Paken Pandiangan, S.Si., M.Si., membuka sambutannya dengan pantun ringan yang mengundang senyum peserta.
“Pagi hari minum kopi, ditemani roti dan buah pir. Pusat karir hadir mendampingi, membuka jalan menuju karir,” ucap Paken disambut tepuk tangan peserta.
Momen itu menjadi pembuka yang menggambarkan suasana acara: santai, hangat, tetapi sarat makna. Sebab di balik peluncuran Pusat Karir UT, ada pesan besar yang ingin disampaikan Universitas Terbuka kepada mahasiswanya bahwa kuliah bukan sekadar mengejar ijazah, tetapi juga mempersiapkan masa depan.
Kegiatan yang digelar bersama Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia tersebut menjadi ruang pertemuan antara kampus, dunia kerja, mahasiswa, dan alumni. Dalam kesempatan itu, Paken mewakili Rektor UT yang berhalangan hadir karena tugas lain.
Ia menjelaskan, dunia kerja saat ini berubah sangat cepat. Perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi, memiliki keterampilan digital, mampu bekerja sama, dan peduli terhadap isu keberlanjutan.
“Dunia kerja kita tidak lagi hanya menuntut lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga lulusan yang adaptif, memiliki keterampilan kerja, literasi digital, kemampuan berkolaborasi, serta kepedulian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan,” ujar Paken.
Tema ekonomi hijau yang diangkat dalam kegiatan tersebut pun dinilai sangat relevan dengan perkembangan global saat ini. Menurut Paken, peluang kerja di sektor ramah lingkungan terus berkembang dan membutuhkan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan baru.
Sebagai perguruan tinggi negeri dengan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, UT memiliki mahasiswa dari berbagai latar belakang. Mulai dari pekerja, ibu rumah tangga, masyarakat di daerah terpencil, hingga mahasiswa Indonesia di luar negeri. Saat ini, jumlah mahasiswa aktif UT mencapai sekitar 780 ribu orang, dengan lebih dari 2 juta alumni tersebar di berbagai wilayah.
Angka itu bukan sekadar data. Di baliknya ada cerita tentang banyak orang yang sebelumnya mungkin sulit mengakses pendidikan tinggi, tetapi akhirnya bisa kuliah karena fleksibilitas sistem belajar UT.
Karena itu, kehadiran Pusat Karir UT menjadi langkah lanjutan yang penting. Bukan hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga membantu mahasiswa dan alumni menemukan arah karir mereka.
“Pusat Karir UT diharapkan menjadi jembatan antara kampus, mahasiswa, alumni, dunia kerja, dan mitra strategis”.
Ia menyebutkan, hampir 90 persen lulusan UT saat ini sudah bekerja, baik di sektor formal maupun informal. Namun UT ingin memastikan para mahasiswa memiliki bekal yang lebih matang sebelum masuk ke dunia kerja.
Pesan serupa juga disampaikan Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan RI, Isnarti Hasan, SE., M.Si. Menurut dia, kondisi dunia kerja memang sedang menghadapi banyak tantangan, mulai dari disrupsi teknologi hingga ketidakpastian global. Namun, generasi muda tidak boleh takut menghadapi perubahan.
“Kesuksesan adalah ketika kesiapan bertemu dengan kesempatan”.
Ia mengajak mahasiswa untuk aktif mengembangkan diri sejak masih kuliah, mulai dari mengikuti organisasi, magang, membangun relasi, hingga memperkuat kemampuan digital dan komunikasi.
“Jangan hanya menjadi mahasiswa yang pasif. Kampus adalah laboratorium kehidupan,” katanya.

Peluncuran Pusat Karir UT sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui pendidikan terbuka yang inklusif dan layanan karir yang semakin kuat, UT ingin memastikan bahwa siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, UT seolah ingin menyampaikan satu pesan sederhana: pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Pendidikan harus mampu membuka jalan, memperluas peluang, dan menghadirkan harapan bagi siapa saja, di mana saja.


