Tak Lagi Bingung Pilih Kuliah atau Kerja, Najwa Saryani Temukan Jalan Wujudkan Impian di UT Palembang

Palembang — Bagi Najwa Saryani, memilih antara melanjutkan pendidikan dan menerima kesempatan kerja bukanlah perkara mudah. Ketika pekerjaan datang di tengah perjalanan kuliahnya, ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama penting bagi masa depannya. Namun, alih-alih mengubur cita-cita, mahasiswi Universitas Terbuka (UT) Palembang ini menemukan jalan untuk tetap mengejar pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaannya.

Putri pasangan Surya dan Iros Pulungan ini sebelumnya menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Palembang. Perjalanannya kemudian berubah ketika ia diterima bekerja di sebuah bank. Situasi tersebut membuat Najwa harus mempertimbangkan kembali langkah yang akan diambil, termasuk bagaimana caranya tetap melanjutkan pendidikan di tengah tanggung jawab pekerjaan.

Di tengah kebimbangan itu, Najwa menemukan Universitas Terbuka sebagai pilihan yang memberinya kesempatan untuk menjalankan kedua peran tersebut secara bersamaan. Melalui sistem pendidikan jarak jauh yang fleksibel, UT membuka ruang bagi Najwa untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Kesempatan untuk tetap belajar di tengah berbagai tanggung jawab ini menjadi bagian penting dari upaya memperluas akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas (SDG 4).

“Karena waktu itu sempat kuliah di salah satu kampus, lalu diterima kerja di salah satu bank. Jadi, saya berhenti di kampus tersebut dan memilih UT Palembang. Saya melihat UT Palembang memberikan harapan kepada saya untuk bisa melanjutkan kuliah sambil bekerja,” ungkapnya saat diwawancarai Infosumsel.

Bagi Najwa, keputusan memilih UT bukan sekadar jalan keluar dari dilema antara kuliah dan bekerja. Lebih dari itu, ia menemukan sistem perkuliahan yang membuatnya tidak harus mengorbankan salah satu dari dua hal yang sama-sama penting bagi masa depannya.

“UT Palembang bisa kuliah jarak jauh, jadi saya bisa tetap bekerja. Kuliah sambil bekerja sangat membantu sekali. Jadi, saya tidak bingung menentukan pilihan kuliah atau bekerja,” sambungnya.

Perjalanan ini memperlihatkan bagaimana pendidikan yang fleksibel dapat mendukung pengembangan diri sekaligus membuka peluang bagi seseorang untuk bertumbuh di dunia profesional, sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan dalam memperluas kesempatan pendidikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif (SDG 8).

Meski kini sibuk menjalani pekerjaan dan perkuliahan, Najwa tetap memiliki tujuan yang ingin diwujudkan. Ia bercita-cita menjadi hakim, sebuah profesi yang mendorongnya memilih Program Studi Ilmu Hukum di UT. Ketertarikannya pada dunia hukum menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan yang sedang ia tempuh.

“Cita-cita saya ingin menjadi hakim,” ucap gadis yang memiliki hobi membaca tersebut.

Keinginan itu tidak muncul tanpa alasan. Najwa menaruh perhatian pada kondisi penegakan hukum di Indonesia yang menurut pandangannya masih memprihatinkan. Ia melihat adanya kasus-kasus yang dinilai belum mencerminkan kejujuran dan keadilan, sehingga semakin menguatkan tekadnya untuk berkontribusi melalui profesi hakim.

“Alasan itu saya ingin menjadi hakim yang jujur dan menegakkan keputusan secara adil. Hakim itu harus jujur karena keputusan kita juga menentukan kehidupan di akhirat, masuk surga atau masuk neraka,” tuturnya.

Di luar aktivitas akademik dan cita-citanya di bidang hukum, Najwa juga terus mengembangkan diri melalui dunia kerja dan organisasi. Saat ini, ia bekerja sebagai tenaga pemasaran di salah satu perusahaan properti. Pada saat yang sama, ia tetap aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bujang Gadis UT Palembang.

Menjalani tiga aktivitas sekaligus tentu membutuhkan komitmen dan kemampuan mengatur waktu. Namun, bagi Najwa, menemukan kampus yang sesuai dengan kebutuhannya membuat perjalanan tersebut terasa lebih ringan. Ia pun dapat terus bekerja, menempuh pendidikan, dan berorganisasi tanpa harus memilih salah satunya.

“Sekarang fokus bekerja, kuliah, dan organisasi saja. Terlebih lagi, saya sudah mendapatkan kampus yang tepat. Menjalankan semuanya seakan tidak berat,” tutupnya.

Perjalanan Najwa Saryani menunjukkan bahwa kesempatan untuk meraih pendidikan tidak harus berhenti ketika seseorang mulai bekerja. Dengan pilihan pendidikan yang sesuai, ia tetap dapat melangkah menuju masa depan yang diimpikan, sembari mempersiapkan diri menjadi hakim yang jujur dan menjunjung tinggi keadilan. Kisahnya menjadi gambaran bagaimana akses pendidikan yang lebih fleksibel dapat memberi ruang bagi setiap individu untuk terus belajar, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan kontribusi positif bagi masyarakat.