“Berani Dulu, Sempurna Belakangan”: Pesan Dahlan Iskan untuk Lulusan UT Surabaya Jelang Wisuda

Toga belum dikenakan, nama belum dipanggil satu per satu. Namun di sebuah ruang di Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sabtu, 18 April 2026, ada sesuatu yang lebih dulu dipersiapkan sebelum momen wisuda benar-benar tiba: cara berpikir tentang masa depan. Sebanyak 1.532 mahasiswa dan calon wisudawan berkumpul dalam sebuah seminar bertema “Alumni UT Surabaya: Tumbuh, Berkarya, dan Berdampak”, bukan sekadar untuk mendengar, tetapi untuk memahami apa yang menanti setelah garis kelulusan dilampaui. Suasananya hangat, penuh antusiasme, sekaligus menyimpan kegelisahan yang wajar dirasakan oleh mereka yang sedang berdiri di ambang perubahan besar dalam hidupnya.

Di tengah suasana itu, Dahlan Iskan hadir membawa perspektif yang langsung mengena. Ia tidak memulai dengan teori panjang, melainkan dengan pesan yang sederhana namun kuat: berani mengambil peluang. Dalam pandangannya, dunia saat ini bergerak sangat cepat, sering kali tidak memberi waktu bagi mereka yang terlalu lama ragu. Ia menekankan bahwa keberanian untuk mencoba, bahkan dalam kondisi yang belum sepenuhnya pasti, menjadi kunci penting agar tidak tertinggal. Lebih jauh, ia juga mengingatkan bahwa konsistensi dalam berkarya adalah fondasi yang menjaga seseorang tetap relevan di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan dinamis.

Pesan tersebut terasa dekat dengan realitas para peserta. Banyak di antara mereka yang mungkin masih bertanya-tanya tentang langkah berikutnya: melanjutkan studi, mencari pekerjaan, atau bahkan mencoba jalur yang sama sekali baru. Di titik inilah, apa yang disampaikan Dahlan menjadi semacam dorongan mental bahwa tidak semua harus sempurna untuk bisa memulai. Justru, keberanian untuk melangkah lebih dulu sering kali menjadi pembeda yang menentukan arah perjalanan seseorang ke depan.

Pandangan itu kemudian dilengkapi oleh Tri Dyah Prastiti yang mengajak peserta melihat perjalanan hidup dari sudut pandang yang lebih panjang. Ia menyoroti pentingnya pembelajaran sepanjang hayat sebagai bekal utama menghadapi dunia yang terus berubah. Menurutnya, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah hanyalah awal, bukan akhir. Kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan diri menjadi kunci agar seseorang tidak tertinggal oleh perkembangan zaman yang begitu cepat.

Ia juga menegaskan bahwa dunia kerja saat ini tidak hanya mencari mereka yang pintar secara akademik, tetapi juga mereka yang mau terus belajar dan terbuka terhadap perubahan. Dalam konteks ini, belajar bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan yang melekat dalam setiap fase kehidupan. Pesan ini memperkuat apa yang sebelumnya disampaikan, bahwa keberanian dan kemauan untuk belajar harus berjalan beriringan agar seseorang benar-benar siap menghadapi tantangan di dunia nyata.

Direktur UT Surabaya dalam sambutannya kemudian menegaskan posisi seminar ini sebagai bagian penting dari proses pembentukan lulusan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelengkap rangkaian wisuda, melainkan bagian dari strategi kampus dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing. “Menjadi alumni bukanlah akhir, tetapi awal untuk terus tumbuh, berkarya, dan memberi dampak nyata,” ujarnya, menegaskan arah yang ingin dituju oleh institusi.

Pernyataan tersebut sejalan dengan tiga pilar utama yang terus didorong UT Surabaya kepada para lulusannya. Pertama, tumbuh melalui pembelajaran berkelanjutan yang tidak berhenti setelah wisuda. Kedua, berkarya melalui penerapan ilmu yang telah diperoleh di dunia nyata. Dan ketiga, berdampak melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat. Ketiga pilar ini dirancang untuk memastikan bahwa lulusan tidak hanya sukses secara individu, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang lebih luas.

Dalam konteks yang lebih besar, upaya ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek pendidikan berkualitas dan pembelajaran sepanjang hayat. Selain itu, dorongan untuk terus berkarya dan berkontribusi juga berkaitan erat dengan penciptaan pekerjaan yang layak serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Artinya, apa yang ditanamkan dalam forum ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada pembangunan sosial yang lebih luas.

Menjelang momen wisuda, seminar ini terasa seperti jeda yang bermakna. Ia bukan hanya tentang apa yang telah dicapai, tetapi juga tentang apa yang akan diperjuangkan setelahnya. Ketika para lulusan nanti melangkah keluar dari kampus, mereka tidak hanya membawa gelar, tetapi juga membawa cara pandang baru tentang keberanian, konsistensi, dan pentingnya terus belajar. Dari ruang itulah, langkah-langkah kecil yang mungkin terlihat sederhana mulai terbentuk, namun berpotensi membawa dampak besar di masa depan.