Tak Perlu Keluar Maluku, UT Ambon Siapkan Kelas S2 untuk Wilayah Kepulauan

Tangerang Selatan, 14 April 2026 – Bentang wilayah Maluku yang didominasi pulau-pulau kerap menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Jarak antardaerah, keterbatasan akses, hingga tuntutan pekerjaan sering membuat keinginan kuliah harus ditunda. Melihat kondisi itu, Universitas Terbuka (UT) Ambon mengambil langkah baru dengan menggandeng Dinas Pendidikan Provinsi Maluku untuk menghadirkan akses kuliah yang lebih dekat, fleksibel, dan menjangkau lebih banyak kalangan.

Upaya tersebut ditandai melalui audiensi bersama Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Dr. Sarlota Singerin, S.Pd., M.Pd., pada Kamis (9/4/2026). Pertemuan ini menjadi titik awal penguatan sinergi dalam memperluas akses pendidikan tinggi, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh yang diusung UT.

Dalam pertemuan itu, salah satu fokus utama yang dibahas adalah rencana pembukaan kelas pilot program magister (S2) di Maluku. Program ini dirancang agar masyarakat, khususnya tenaga pendidik dan aparatur sipil negara (ASN), tidak lagi harus keluar daerah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Direktur UT Ambon menegaskan bahwa kehadiran program ini merupakan bagian dari komitmen UT dalam menjawab kebutuhan masyarakat Maluku yang ingin kuliah, tetapi tetap harus menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Melalui sistem ini, kami memberikan kesempatan emas bagi generasi muda Maluku untuk tetap mengeyam pendidikan tinggi sambil tetap berkarya dan memperoleh pengalaman kerja,” ujarnya.

Tak hanya itu, sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT juga membuka peluang bagi lulusan SMA untuk langsung melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau aktivitas produktif lainnya. Fleksibilitas inilah yang menjadi daya tarik utama, terutama di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang seperti Maluku.

UT Ambon juga memberi perhatian khusus pada peningkatan kualifikasi tenaga pendidik. Guru-guru yang belum memiliki gelar sarjana (S1) kini dapat melanjutkan studi tanpa harus meninggalkan ruang kelas. Dengan begitu, peningkatan kualitas pendidikan dapat berjalan seiring tanpa mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Dr. Sarlota Singerin, menyambut baik langkah tersebut. Ia menilai kolaborasi ini sebagai solusi nyata dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.

Kehadiran kelas pilot S2 ini diharapkan menjadi awal dari layanan pendidikan pascasarjana yang lebih luas di Maluku. Dengan akses yang semakin dekat dan sistem yang fleksibel, masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk meningkatkan kompetensi tanpa harus meninggalkan daerah asal.

Langkah ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif. UT Ambon melalui pendekatan ini berupaya memastikan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi menjadi privilese, melainkan hak yang bisa diakses oleh siapa saja.

Melalui sinergi dengan pemerintah daerah, UT Ambon terus memperkuat perannya sebagai jembatan pendidikan bagi masyarakat Maluku. Dari wilayah kepulauan hingga pusat kota, kesempatan untuk meraih gelar pendidikan tinggi kini semakin terbuka—tanpa batas ruang dan waktu.