Sebanyak 1.539 mahasiswa baru memulai langkah awal perkuliahan mereka di Universitas Terbuka Kupang melalui kegiatan Latihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ) dan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB), yang digelar Minggu, 1 Maret 2026, di Hotel Harper Kupang. Kegiatan ini menjadi pintu masuk sebelum mahasiswa resmi menjalani sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dari Kupang, Flores, Sumba, Timor, hingga Alor. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, ada yang sudah bekerja, ibu rumah tangga, hingga lulusan SMA yang baru melanjutkan pendidikan. Namun tujuannya sama, ingin melanjutkan kuliah dengan sistem yang fleksibel.
Direktur UT Kupang, Albert Gamot Malau, menegaskan pentingnya pembekalan di awal perkuliahan. “Jadi, sebelum masuk ke perkuliahan mereka harus memahami seperti apa pembelajaran di UT,” ujarnya.
Menurut Albert, pemahaman tentang sistem belajar menjadi kunci keberhasilan mahasiswa. Di Universitas Terbuka, proses perkuliahan memang dirancang berbeda dengan kampus tatap muka. Mahasiswa belajar secara mandiri dengan dukungan tutorial online, bahan ajar digital, serta sistem administrasi dan ujian yang sudah terstruktur.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan pada layanan akademik, alur registrasi, sistem tutorial, hingga mekanisme ujian. Dengan begitu, mereka memiliki gambaran utuh tentang bagaimana proses belajar akan dijalani sejak semester pertama.
Albert juga mengungkapkan adanya peningkatan jumlah mahasiswa UT Kupang sekitar 10 persen dibandingkan sebelumnya. Peningkatan ini didominasi kalangan milenial. Hal ini menunjukkan semakin banyak masyarakat NTT yang memahami bahwa kuliah kini bisa diakses dari mana saja tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau daerah asal.
Sebagai perguruan tinggi negeri dengan wilayah layanan yang luas dan kondisi geografis kepulauan, UT Kupang melaksanakan LPKBJJ secara bertahap. Langkah ini dilakukan agar mahasiswa di berbagai daerah tetap mendapatkan pendampingan yang optimal.
“Pelaksanaan secara bertahap ini agar memungkinkan mahasiswa memperoleh pendampingan yang lebih fokus, interaktif, dan efektif sesuai jadwal serta domisili masing-masing,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan juga dilakukan melalui dua skema, yakni luring (tatap muka) dan daring menggunakan platform digital seperti Microsoft Teams. Skema ini menyesuaikan kebutuhan mahasiswa yang beragam, sekaligus memastikan akses layanan tetap merata.
Rangkaian LPKBJJ mencakup OSMB, Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ), Workshop Tugas (WT), dan Klinik Ujian (KU). OSMB membantu mahasiswa memahami sistem PJJ secara menyeluruh. PKBJJ membekali mereka dengan keterampilan belajar efektif, seperti manajemen waktu dan pemanfaatan layanan UT Online. Workshop Tugas melatih kemampuan menyelesaikan tugas akademik dengan baik, sementara Klinik Ujian mempersiapkan mahasiswa menghadapi ujian dengan lebih siap.
Secara sederhana, kegiatan ini menjawab kebutuhan mahasiswa baru: siapa yang terlibat, apa yang dipelajari, kapan dan di mana kegiatan berlangsung, mengapa pembekalan ini penting, serta bagaimana sistem pembelajaran dijalankan.
Pelaksanaan LPKBJJ menjadi bagian dari komitmen Universitas Terbuka dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas. Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, yakni memastikan pendidikan yang inklusif dan merata bagi semua.
Di wilayah seperti NTT, di mana jarak dan kondisi geografis kerap menjadi tantangan, kehadiran Universitas Terbuka memberi solusi nyata. Pendidikan tinggi kini tidak lagi soal lokasi, tetapi soal kesempatan.



