Semangat melanjutkan pendidikan tinggi terasa kuat di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Sangatta, saat ratusan mahasiswa baru mengikuti Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ) pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026. Selama dua hari itu, sekitar 300 mahasiswa berkumpul untuk memulai perjalanan akademik mereka bersama Universitas Terbuka, perguruan tinggi negeri yang dikenal membuka akses pendidikan tanpa batas ruang, usia, maupun latar belakang.
Kegiatan ini bukan sekadar orientasi biasa. Bagi banyak peserta, OSMB dan PKBJJ menjadi pintu pertama memahami bagaimana sistem pembelajaran jarak jauh UT bekerja—mulai dari penggunaan platform digital, tutorial online bersama dosen, hingga cara mengatur waktu belajar secara mandiri. Sistem ini memungkinkan mahasiswa tetap bekerja atau menjalankan aktivitas sehari-hari sambil menempuh pendidikan tinggi.
Acara tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Kutai Timur, H Mahyunadi. Turut hadir Direktur Universitas Terbuka Samarinda Rusna Ristata serta Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, Akhmad Asari.
Di tengah kegiatan orientasi, ada momen yang menarik perhatian para peserta. Tiga mahasiswa dari Sentra Layanan Universitas Terbuka (Salut) Kutai Timur mendapat penghargaan atas prestasi yang mereka raih. Apresiasi tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Salut Kutai Timur, Hj Eva Musdalifah.
Ketiga mahasiswa itu adalah Husna dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang berhasil meraih Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) selama delapan semester, Selfianan dari PGSD yang mendapatkan Beasiswa Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, serta Devi Anggriani Iskak yang meraih predikat Duta Pemuda Kutai Timur.
Kisah mereka menjadi inspirasi bagi mahasiswa baru. Di tengah sistem pembelajaran yang fleksibel, UT membuka peluang bagi mahasiswa untuk tetap berprestasi dan berkembang.
Eva Musdalifah menjelaskan bahwa penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi mahasiswa lain agar memanfaatkan kesempatan pendidikan yang tersedia.
“Kami memberikan penghargaan kepada ketiga mahasiswa peraih beasiswa BPI sama beasiswa gratispol. BPI itu Biaya Pendidikan Indonesia,” kata Eva saat dihubungi wartawan, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa program Gratispol merupakan salah satu program dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang mendukung masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
“Kemudian yang gratispol, yang daftarnya melalui link program provinsi Kaltim, dalam hal ini Gubernur Rudi Ma’ud dan jajarannya. Kemudian satu lagi mahasiswa Devi, dia mendapatkan penghargaan Duta Pemuda Kutim,” tambahnya.
Menurut Eva, kegiatan OSMB dan PKBJJ menjadi bagian penting dalam perjalanan mahasiswa UT. Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru memahami bagaimana sistem belajar mandiri dan pembelajaran daring diterapkan.
“Kegiatan OSMB dan PKBJJ ini berharap mahasiswa bisa mengikuti, karena di sinilah mereka akan diajarkan bagaimana tata cara belajar di Universitas Terbuka,” ujarnya.
Saat ini, Salut Kutai Timur tercatat melayani sekitar 540 mahasiswa dari berbagai program studi. Keberadaan Salut menjadi penghubung antara mahasiswa di daerah dengan UT, sekaligus tempat mahasiswa mendapatkan layanan akademik meskipun sistem perkuliahannya dilakukan secara daring.
“Karena UT tidak punya kampus, jadi Salut inilah yang menjadi kampusnya. Kita kuliahnya online, fleksibel, bisa kuliah di mana saja,” jelas Eva.
Dengan sistem tersebut, mahasiswa UT dapat mengikuti tutorial online dari rumah dan berinteraksi dengan dosen secara digital. Pertemuan tatap muka umumnya hanya dilakukan saat ujian yang di wilayah Kutai Timur dilaksanakan di Jalan Loa Mali, Sangatta Selatan.
Fleksibilitas ini membuat UT menjadi pilihan bagi banyak kalangan, mulai dari pekerja, ibu rumah tangga, hingga aparatur desa. Bahkan UT juga membuka program khusus bagi perangkat desa seperti kepala desa, kaur pemerintahan, kaur kesejahteraan, dan kaur umum agar mereka dapat meningkatkan kapasitas tanpa meninggalkan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Eva pun mengajak masyarakat Kutai Timur untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan tinggi melalui UT.
“Harapan kami mengajak masyarakat yang ada di Kutim agar jangan berhenti untuk kuliah. Di UT itu bisa menjadi salah satu alternatif pilihan, karena fleksibel, tidak ada batasan usia, kuliah bisa di mana saja, bisa sambil kerja, sambil kuliah,” tuturnya.
Melalui pendekatan pembelajaran terbuka dan berbasis teknologi, UT terus memperluas akses pendidikan tinggi hingga ke berbagai daerah. Upaya ini juga sejalan dengan komitmen global dalam Sustainable Development Goal 4 yang menekankan pentingnya pendidikan inklusif dan berkualitas bagi semua. Bagi banyak orang di daerah seperti Kutai Timur, UT menjadi bukti bahwa kesempatan untuk kuliah tidak lagi terbatas oleh jarak, waktu, maupun kesibukan.



