Tak Cuma Kejar Ijazah, 1.132 Lulusan UT Bandung Siap Jadi Problem Solver di Masyarakat

Ribuan pasang mata berkaca-kaca di Balai Sartika, Jalan Suryalaya, Kota Bandung, Kamis (12/2/2026). Di balik toga hitam yang dikenakan, ada cerita tentang pegawai yang kuliah selepas jam kantor, guru yang belajar di sela mengajar, hingga aparat yang menuntaskan tugas negara sambil mengejar gelar. Hari itu, 1.132 mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Bandung resmi diwisuda—membawa pulang bukan hanya ijazah, tetapi juga legitimasi atas kerja keras yang tak selalu terlihat.

Wisuda ini diikuti lulusan dari empat fakultas, termasuk program pascasarjana dan sekolah vokasi. Angka 1.132 bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata bagaimana akses pendidikan tinggi yang fleksibel membuka peluang bagi siapa saja untuk naik kelas—tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga.

Direktur UT Bandung, Drs. Enceng, M.Si., menegaskan para lulusan telah dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat sesuai bidang ilmunya.

“Dan terus meningkatkan kapasitas dirinya berinovasi, berkreatif demi kemajuan masyarakat Jawa Barat khususnya, umumnya masyarakat Indonesia untuk menyongsong Indonesia Maju 2045,” ujarnya di Balai Sartika, Kamis (12/2/2026).

Pernyataan itu seolah menjadi pengingat bahwa wisuda bukan garis akhir, melainkan titik tolak baru. Di tengah percepatan perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja, adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci. Karena itu, UT Bandung tak melepas lulusannya begitu saja. Kampus ini telah menyiapkan program pemberdayaan yang digarap bersama Ikatan Alumni UT Bandung guna memperkuat kapasitas dan jejaring profesional mereka.

Dorongan untuk terus belajar menjadi napas utama pendidikan di UT. Prinsip pendidikan sepanjang hayat digaungkan bukan sebagai jargon, tetapi sebagai budaya akademik. Enceng mengungkapkan, sekitar 80 persen lulusan UT telah bekerja.

“Perlu kami sampaikan bahwa lulusan UT itu hampir 80 persen sudah bekerja. Mudah-mudahan berbagai ilmu yang diberikan oleh UT bisa lebih mewarnai tempat kerjanya menuju ke arah inovasi dan perbaikan,” kata Enceng.

Mayoritas alumni tersebut tersebar di berbagai sektor strategis—instansi pemerintah, birokrasi, tenaga pendidik, hingga aparat Polri dan TNI. Artinya, kontribusi lulusan UT tidak hanya terasa di ruang kelas atau kantor, tetapi juga di lini pelayanan publik dan keamanan negara.

Bagi yang belum bekerja, UT Bandung menyiapkan pengembangan karier dan bursa kerja yang terhubung dengan jaringan alumni. Skema ini dirancang agar komunikasi, kolaborasi, dan silaturahmi tetap terjaga, sekaligus memperluas peluang kerja.

“Semoga para wisudawan ini bisa terus meningkatkan kapasitas, kapabilitas, meningkatkan kompetensinya, meningkatkan wawasannya, dan bisa lebih meningkatkan kinerja mereka di instansi masing-masing sesuai dengan bidang ilmu yang mereka punya,” ucapnya.

Ketua Senat Akademik UT, Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si., mengingatkan bahwa ijazah hanyalah modal awal. Ia menekankan pentingnya menjaga tradisi akademik yang telah dibangun sejak registrasi pertama hingga lulus.

“Nah, mereka itu sudah punya sudah punya modal, tapi kebiasaan selama registrasi pertama sampai lulus itu terus ditingkatkan melalui membaca literatur ilmiah ya, membaca jurnal dan seterusnya,” kata Chanif.

Menurutnya, kebiasaan membaca dan memperkaya wawasan akan memperkuat profesionalisme lulusan—baik sebagai guru, polisi, birokrat, maupun profesional di korporasi. Lebih jauh, kompetensi yang benar akan membantu mereka menyelesaikan persoalan di tempat kerja.

“Dan yang penting lagi kalau mereka punya kompetensi ilmu yang benar, dia bisa menyelesaikan masalah yang ada di tempat kerjanya. Itu juga berkontribusi untuk memecahkan masalah di masyarakat,” ucapnya.

Chanif juga menepis anggapan bahwa lulusan UT kalah bersaing. Ia merujuk data formasi CPNS 2019.

“Saya kira enggak ya, karena kan kita pakai data. Tahun 2019 itu ada formasi CPNS. Jumlahnya 3.000, nah UT ini yang terbanyak diterima. Jadi, alumni UT itu bersaing secara terbuka, objektif, kompetitif, enggak pakai orang dalam,” kata Chanif.

Momentum wisuda ini sekaligus menjadi cerminan kontribusi pendidikan terbuka terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas (SDG 4) dan pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi (SDG 8). Ketika akses pendidikan diperluas dan kompetensi diperkuat, maka dampaknya menjalar pada penguatan institusi dan pelayanan publik yang profesional.

Di penghujung acara, tepuk tangan panjang menggema saat para wisudawan melemparkan toga ke udara. Namun sesungguhnya, yang mereka lempar adalah keraguan—dan yang mereka genggam erat adalah kepercayaan diri. Dari Balai Sartika hari itu, 1.132 cerita baru bersiap ditulis. Bukan lagi tentang bagaimana mereka lulus, tetapi tentang bagaimana mereka memberi makna di tengah masyarakat dan ikut menggerakkan Indonesia menuju 2045.