Gagal Masuk Hukum, Mahasiswa UT Ini Menemukan Jalan Prestasi di Dunia Jurnalistik

Tidak semua perjalanan prestasi lahir dari jalur yang mulus. Sebagian justru tumbuh dari kegigihan dalam memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Gambaran itulah yang tercermin dalam perjalanan Adi Rizki Ramadhan, mahasiswa Universitas Terbuka (UT) yang mampu menorehkan prestasi akademik dan profesional secara beriringan sebagai wartawan Media Sukri Indonesia (MSI) Group.

Adi lahir di Cimahi, Jawa Barat, pada 2 November 2002. Sejak remaja, ia memiliki cita-cita menempuh pendidikan hukum dan berkarier sebagai pengacara. Namun, upaya tersebut berulang kali menemui jalan buntu. Lima kali penolakan menjadi bagian dari perjalanannya. Meski demikian, Adi memilih untuk tidak berhenti mengejar pendidikan tinggi. “Saya mencoba untuk bisa kuliah hukum, namun gagal hingga lima kali,” ujarnya.

Keputusan penting kemudian ia ambil dengan kesadaran penuh sebagai calon mahasiswa: melanjutkan pendidikan tanpa menunggu keadaan menjadi ideal. Adi mendaftar di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka (UT) di Tasikmalaya. Pilihan ini menjadi titik balik dalam hidupnya. UT menghadirkan ruang belajar yang memungkinkan Adi tetap bergerak maju, tanpa harus menunda masa depan yang sedang ia bangun.

Sebagai mahasiswa UT, Adi berhadapan dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang menuntut kemandirian, disiplin, dan pengelolaan waktu yang matang. Fleksibilitas yang diberikan UT bukan sekadar kemudahan, melainkan tanggung jawab. Di tengah kesibukan kerja, ia tetap menjaga konsistensi akademik, menyelesaikan kewajiban perkuliahan, dan mengasah kompetensi keilmuan yang relevan dengan dunia jurnalistik.

Pada 2022, Adi mulai bergabung dengan MSI Group sebagai pengunggah berita di media Wartasia. Di fase awal ini, perannya sebagai mahasiswa UT berjalan seiring dengan aktivitas profesionalnya. Sistem belajar UT memungkinkan Adi menjalani keduanya tanpa saling mengorbankan. Ia tetap dapat mengikuti proses pembelajaran, sekaligus mempraktikkan ilmu komunikasi yang dipelajarinya dalam konteks kerja nyata di ruang redaksi.

Seiring waktu, Adi tidak hanya menjalankan tugas teknis, tetapi aktif mempelajari alur redaksi dan kualitas penulisan berita. Pengalaman tersebut memperkuat relevansi pembelajaran Ilmu Komunikasi di UT dengan kebutuhan lapangan. Fleksibilitas UT memberinya ruang untuk berkembang secara profesional, sekaligus menjaga komitmen akademik—sebuah praktik pendidikan yang inklusif dan adaptif terhadap realitas mahasiswa.

Kepercayaan terhadap Adi semakin besar ketika pada Agustus 2023 ia diberangkatkan ke Samarinda sebagai wartawan lapangan. “Kami yang awalnya hanya uploader diberangkatkan ke Samarinda untuk jadi wartawan,” katanya. Selama tiga bulan masa magang, Adi menunjukkan kinerja yang konsisten hingga pada Januari 2024 ia kembali dipanggil untuk bergabung secara aktif di media Narasi. Dalam fase ini, peran UT tetap hadir sebagai fondasi yang menopang proses belajar dan kerja secara berimbang.

Pencapaian Adi mencapai puncaknya ketika ia meraih Juara 1 lomba menulis berita pada ajang Arus Bawah. Prestasi ini lahir dari proses panjang yang tidak terlepas dari pembelajaran Ilmu Komunikasi di UT serta pelatihan jurnalistik bersama mantan wartawan Tempo. “Kita tidak perlu menceritakan semuanya kepada pembaca, cukup bagian paling menarik,” ujarnya, menggambarkan pendekatan bertuturnya dalam menulis berita.

Sebagai mahasiswa UT, Adi juga menunjukkan kepekaan sosial dalam menjalankan profesinya. Ia memandang wartawan sebagai penyambung suara masyarakat. “Pejabat bisa bicara aman, tapi masyarakat sering tidak punya ruang. Di situlah wartawan harus berdiri,” tegasnya. Prinsip ini menjadi bagian dari integritas yang ia jaga dalam setiap liputan.

Kisah Adi menegaskan bahwa peran Universitas Terbuka tidak hanya sebatas menyediakan akses pendidikan, tetapi juga membentuk karakter belajar yang mandiri dan adaptif. UT memberi ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh sesuai konteks kehidupannya, sementara Adi membuktikan bahwa dengan disiplin dan integritas, ruang tersebut dapat diolah menjadi prestasi nyata. “Menjadi wartawan adalah perjalanan panjang. Cara bertahan adalah terus belajar dan menjaga integritas,” pungkasnya.