Simfoni Yogyakarta: Perjalanan Mahasiswi UT Merajut Seni, Pendidikan, dan Ekonomi Kreatif

Yogyakarta selalu punya cara tersendiri untuk membisikkan cerita di setiap sudut gangnya. Di kawasan Wirobrajan yang tenang, tepatnya di Jalan Puntadewa Barat, sebuah pendopo sederhana menjadi saksi bisu bagaimana aroma bakmi yang mengepul hangat bertemu dengan lentik jemari yang memetik senar jazz. Di sana, Bakmi Maju Tak Gentar bukan sekadar tempat untuk singgah dan makan; ia adalah sebuah ruang pelukan bagi mereka yang rindu akan nostalgia, seni, dan percakapan jujur di bawah temaram lampu Jogja.

Di balik hidupnya ruang kreatif ini, ada sosok lembut namun penuh tekad bernama Sella Ayu Saraswati. Sella bukan hanya seorang pengusaha kuliner muda, ia adalah seorang mahasiswi Jurusan Manajemen di Universitas Terbuka (UT) yang memiliki cara pandang berbeda tentang bagaimana sebuah bisnis harus dijalankan. Terlahir dari keluarga yang mencintai seni—dengan kakek seorang pelukis dan kerabat pemusik—Sella membawa warisan emosional itu ke dalam warung bakminya. Ia ingin setiap pengunjung tak hanya pulang dengan perut kenyang, tapi juga dengan hati yang terisi oleh pengalaman batin.

Perjalanan Sella sebagai seorang mahasiswi sekaligus penggerak komunitas sangat terbantu oleh sistem pendidikan di Universitas Terbuka yang ia jalani. Fleksibilitas tanpa batas yang ditawarkan UT memungkinkan Sella untuk tetap mengejar ilmu manajemen tanpa harus meninggalkan ruang kreatifnya. Di sela-sela waktu belajar mandirinya, ia mampu mengonsep berbagai pameran seni dan mengelola tim yang terdiri dari anak-anak muda SMK di sekitarnya. Bagi Sella, UT adalah jembatan yang memberinya kebebasan untuk tetap berpendidikan tinggi sambil menghidupkan ekosistem seni yang inklusif bagi semua kalangan.

Salah satu momen yang paling menyentuh hati adalah pameran seni bertajuk “Memori Papila” yang baru saja menutup tahun 2025. Melalui pameran ini, Sella ingin mengajak setiap orang kembali ke masa kecil melalui rasa. “Memori Papila ini selebrasi kesederhanaan makanan. Makanan bisa membawa kita kembali ke masa kecil, ke memori yang nostalgic,” ungkapnya lembut. Pengunjung tidak hanya disuguhi bakmi seharga Rp2.000 hingga Rp20.000 yang ramah di kantong, tetapi juga diajak bernostalgia lewat jajanan jadul dan lukisan-lukisan makanan yang bercerita tentang kehangatan rumah.

Inisiatif Sella ini secara natural menyentuh nilai-nilai SDGs Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, di mana ia menjadikan warungnya sebagai panggung pertama bagi seniman muda untuk belajar berpameran dan berani menunjukkan karya. Tak hanya itu, melalui SDGs Nomor 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, Sella telah membangun ekonomi kreatif yang memberdayakan masyarakat lokal di pemukiman padat.

Baginya, Bakmi Maju Tak Gentar adalah sebuah rumah belajar yang terbuka bagi siapa saja—baik itu barista baru yang ingin memamerkan karya, hingga seniman pemula yang butuh ruang untuk bertumbuh. Melalui bimbingan manajemen yang ia timba dari bangku kuliah UT, Sella membuktikan bahwa pendidikan berkualitas benar-benar mampu melahirkan sosok yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Di Wirobrajan, Sella tidak hanya menyajikan bakmi, ia sedang menyajikan masa depan yang lebih hangat bagi komunitas seni di Yogyakarta.