Dari Kampung ke Panggung Wisuda, Kisah Nur Sakina Jadi Lulusan Terbaik UT Majene

MAMUJU – Di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, Nur Sakina (25) membuktikan bahwa tekad dan kerja keras mampu membuka jalan menuju cita-cita. Perempuan asal Majene ini dinobatkan sebagai lulusan terbaik Universitas Terbuka (UT) Majene pada Wisuda Periode II Tahun 2025, yang digelar di Hotel Maleo, Mamuju, Senin (3/11/2025).

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89, sebuah pencapaian yang mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik tahun ini. Bagi Sakina, prestasi tersebut bukan sekadar angka, melainkan bentuk persembahan untuk ibunya yang sedang sakit dan mendiang ayahnya yang telah wafat sejak ia duduk di bangku SMP.

“Saya tidak menyangka bisa menjadi wisudawan terbaik. Saya hanya menjalankan kuliah untuk membanggakan ibu dan almarhum ayah saya,” ujar Sakina dengan mata berkaca usai prosesi wisuda.

Perempuan kelahiran Pappang, 9 Agustus 2000 ini datang ke acara wisuda didampingi sang kakak. Meski ibunya, Hasisa, tidak dapat hadir karena sakit, kehadiran keluarga tetap menjadi penyemangat dalam momen yang penuh haru tersebut.

Perjalanan hidup Sakina tidak mudah. Anak ketiga dari empat bersaudara ini tumbuh di Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, sebelum kemudian pindah ke Kelurahan Baruga Dua, Kecamatan Banggae Timur, Majene, usai kepergian sang ayah. Dari sanalah ia mulai menapaki jalan pendidikannya—mulai dari SDN 001 Campalagian, SMPN 1 Campalagian, hingga SMAN 1 Majene yang ia tamatkan pada 2019.

Kini, Sakina mengabdi sebagai guru honorer di SDN 15 Segeri Majene, sekolah yang tidak hanya menjadi tempatnya bekerja, tetapi juga wadah untuk menyalurkan ilmunya bagi anak-anak di kampung halaman.

“Saya berharap bisa memberikan ilmu sebagai amal jariah, bukan berharap menjadi ASN. Walaupun saya honorer, saya tidak peduli. Saya hanya ingin membagikan ilmu,” ujarnya tegas.

Bagi Sakina, mengajar bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati. Ia ingin menjadi guru yang dicintai siswanya, bukan hanya pengajar yang berdiri di depan kelas. “Jangan sampai siswa lebih senang bertanya pada AI dibandingkan guru,” tuturnya sambil tersenyum.

Melalui perjalanan hidupnya, Sakina menjadi cerminan nyata dari nilai-nilai Universitas Terbuka — kampus yang membuka akses pendidikan berkualitas tanpa batas ruang, waktu, dan status sosial. UT memungkinkan siapa pun, termasuk guru honorer di pelosok, untuk tetap belajar dan berkembang tanpa harus meninggalkan tanggung jawab mereka di masyarakat.

Kisah Sakina juga sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan kelima tentang Kesetaraan Gender. Ia menjadi bukti bahwa perempuan muda di daerah pun mampu meraih pendidikan tinggi dan menginspirasi lingkungannya melalui ilmu yang ia amalkan.

Harapannya sederhana — terus belajar, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan berkontribusi bagi negeri. Dari ruang kelas kecil di Majene, Nur Sakina membuktikan bahwa pendidikan adalah cahaya yang bisa menerangi masa depan siapa pun, selama ada kemauan untuk belajar dan hati yang tulus untuk berbagi.