Dari Sampah Jadi Berkah! UT Bengkulu Bikin Warga Betandang Makin Mandiri

Tak banyak yang menyangka, tumpukan sampah rumah tangga bisa menjelma menjadi sumber inspirasi dan penggerak ekonomi lokal. Di tangan para dosen Universitas Terbuka (UT) Bengkulu, hal itu bukan lagi mimpi. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), UT Bengkulu menghadirkan program bertajuk “Penguatan Peran Bank Sampah dalam Mengelola Sampah Menjadi Produk Kreatif untuk Masyarakat yang Sehat dan Berkelanjutan.”

Berlokasi di Bank Sampah Betandang, Kelurahan Pondok Besi, Kota Bengkulu, kegiatan ini menggandeng 23 anggota aktif bank sampah yang sebagian besar merupakan warga pesisir. Tak sekadar mengelola sampah, mereka diajak memahami bagaimana limbah bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan tetap lestari.

Ketua pelaksana kegiatan, Herry Novrianda, S.E., M.M., menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah serta belum optimalnya manajemen organisasi dan pemasaran hasil daur ulang.

“Bank sampah seharusnya bukan hanya tempat menabung sampah, tapi juga pusat inovasi yang mampu menghasilkan nilai ekonomi,” ujarnya.

Selama kegiatan, tim dosen UT Bengkulu memberikan pendampingan menyeluruh, mulai dari pelatihan manajemen organisasi, pembuatan produk kreatif berbahan daur ulang, hingga strategi digital marketing agar masyarakat mampu memasarkan produk mereka secara mandiri di era digital.

Hasilnya pun menggembirakan. Para anggota Bank Sampah Betandang sukses menghasilkan empat produk unggulan: eco enzyme, kerajinan tangan, alat bantu pembelajaran, dan kostum pagelaran berbahan limbah daur ulang. Tidak berhenti di situ, mereka juga membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai wadah kolaborasi ekonomi yang berkelanjutan.

Anggota tim dosen, Veny Puspita, S.E., M.M., berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat pesisir lainnya. “Selain mengurangi volume sampah, kegiatan ini juga membuka peluang usaha baru dan memperkuat solidaritas perempuan pesisir,” tuturnya.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat setempat, membuat Bank Sampah Betandang kini bertransformasi menjadi ruang belajar lingkungan sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis daur ulang.

Langkah kecil UT Bengkulu ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) serta tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui pendekatan pendidikan dan pemberdayaan, universitas ini menunjukkan bahwa inovasi sosial bisa menjadi jalan menuju ekonomi hijau dan masyarakat yang lebih tangguh.

Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, UT Bengkulu tak hanya mendidik dari ruang kuliah, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat—menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengubah sampah menjadi berkah.