BANDUNG — Pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi yang semakin canggih. Lebih dari itu, bagaimana teknologi mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, menjawab kebutuhan generasi baru, dan membuka kesempatan pendidikan bagi lebih banyak orang menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama. Gagasan inilah yang mempertemukan 106 pemakalah dari 17 negara dalam The 6th International Conference on Innovation in Open and Distance Learning (INNODEL 2026) yang diselenggarakan Universitas Terbuka (UT) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) pada 4–5 November 2026 di Bandung, Jawa Barat. Mengusung tema “HEBRING: High Impact Experiential Learning for Bringing Innovation into New Generations”, konferensi internasional ini menjadi ruang pertukaran hasil riset, gagasan, dan inovasi pembelajaran untuk menjawab tantangan pendidikan terbuka dan jarak jauh di era transformasi digital.

Semangat untuk menjawab tantangan tersebut terasa sejak konferensi yang resmi dibuka oleh Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. Sekitar 200 peserta dari berbagai institusi pendidikan, lembaga penelitian, Asosiasi Profesi Pendidikan Jarak Jauh Indonesia (APPJJI), hingga dunia industri turut hadir. Mereka datang dari 17 negara, mulai dari Indonesia, Pakistan, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Brasil, Trinidad dan Tobago, Malaysia, Korea Selatan, Hong Kong, Jepang, Mauritius, Amerika Serikat, Türkiye, Finlandia, Palestina, hingga Australia. Keberagaman latar belakang ini menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pertukaran pengetahuan, yakni kesempatan untuk saling belajar dari pengalaman dan praktik pendidikan di berbagai belahan dunia. Kolaborasi lintas negara tersebut sekaligus mencerminkan semangat SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pertemuan ini adalah bagaimana perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat proses belajar semakin dekat dengan kebutuhan mahasiswa. Dalam sesi utama, Prof. Helen Crompton dari Old Dominion University, Amerika Serikat, hadir sebagai keynote speaker untuk membagikan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam inovasi dan transformasi pembelajaran. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kehadiran AI tutor, hingga ruang belajar virtual berbasis metaverse membuka peluang bagi dunia pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan personal.
Gagasan tersebut kemudian berkembang melalui diskusi panel yang mempertemukan akademisi dari berbagai negara. Mereka adalah Prof. Dr. Meltem Huri Baturay dari Konya Food & Agriculture University, Türkiye; Dr. Hanna Davis dari Tampere University of Applied Sciences, Finlandia; Prof. Cher Ping Lim dari The Education University of Hong Kong; serta Prof. Daryono, S.H., M.A., Ph.D. dari UT. Sementara itu, peserta juga berkesempatan mendalami pemanfaatan teknologi melalui workshop yang dipandu Andre Surya, AI Visual Expert Indonesia, dan Dr. Syahrul Ramadhan, M.Pd. dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadiran para narasumber ini memperkaya pembahasan, sekaligus mempertemukan perspektif akademis dan pengalaman praktis dalam mengembangkan pembelajaran masa kini.
Meski teknologi menjadi salah satu sorotan, INNODEL 2026 membawa pesan bahwa inovasi pendidikan tidak berhenti pada penggunaan perangkat digital. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana mahasiswa dapat mengalami sendiri proses belajar, mengeksplorasi pengetahuan, dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan nyata. Inilah esensi experiential learning yang menjadi fokus utama konferensi. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa didorong mengembangkan keterampilan abad ke-21, mulai dari berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, hingga kemampuan beradaptasi. Pendekatan ini sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam menghadirkan pembelajaran yang bermutu, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Bagi UT, gagasan tersebut bukanlah hal yang terpisah dari perjalanan institusi. Selama lebih dari empat dekade, UT telah menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi, termasuk bagi mereka yang memiliki keterbatasan ruang, waktu, maupun kondisi geografis. Melalui sistem pembelajaran yang fleksibel, UT terus berupaya memastikan bahwa kesempatan belajar dapat menjangkau masyarakat dari beragam latar belakang. Karena itu, pengembangan teknologi dan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas sekaligus memperkuat inklusivitas pendidikan terbuka dan jarak jauh.
Dari perjalanan panjang memperluas akses pendidikan hingga upaya menghadirkan inovasi pembelajaran, UT memandang bahwa masa depan pendidikan harus terus berkembang tanpa meninggalkan prinsip keterbukaan dan inklusivitas. Melalui INNODEL 2026, berbagai pengalaman dan hasil penelitian yang dipertemukan di Bandung diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga melahirkan gagasan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Semangat ini sejalan dengan Open Education for a Better World dan slogan konferensi From Experience to Innovation, for a Brighter Future. Sebab, inovasi pendidikan pada akhirnya bukan sekadar tentang menemukan cara baru untuk belajar, melainkan tentang memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan membangun masa depan yang lebih baik.



