TANGERANG SELATAN – Setiap perguruan tinggi memiliki perjalanan, tantangan, dan cara tersendiri untuk berkembang. Namun, di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin dinamis, pengalaman terbaik justru dapat menjadi lebih bermakna ketika dibagikan dan dipelajari bersama. Kebutuhan inilah yang melatarbelakangi kunjungan Majelis Wali Amanat Universitas Hasanuddin (MWA UNHAS) ke Universitas Terbuka (UT) pada Rabu (28/10/2026) di Pondok Cabe
Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menyambut kunjungan tersebut sebagai ruang bagi kedua Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) untuk saling bertukar pengetahuan. Ia menjelaskan bahwa UT memiliki karakteristik tersendiri sebagai penyelenggara PJJ. Meski demikian, pengalaman UNHAS dalam mengelola perguruan tinggi juga menjadi sumber pembelajaran yang dapat dimanfaatkan UT untuk terus berkembang.
“UT ini sebenarnya agak unik, Prof. Karena UT menyelenggarakan PJJ dan baru belakangan menjadi PTN-BH dibandingkan UNHAS. Namun, kunjungan ini menjadi ruang untuk berdiskusi dan saling belajar. Kami juga ingin memahami praktik yang dijalankan UNHAS serta melihat hal-hal yang dapat menjadi pembelajaran bagi UT ke depannya,” ujar Ali.
Semangat saling belajar tersebut sejalan dengan pandangan Ketua MWA UT, Prof. Ainun Na’im, Ph.D., mengenai peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung kemajuan bangsa. Ia menilai, transformasi sosial dan ekonomi di sejumlah negara tidak terlepas dari penguatan sektor pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Upaya tersebut juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Kalau kita lihat transformasi sosial dan ekonomi di berbagai negara, kita bisa menyebut Korea Selatan, Cina, itu selalu dibarengi dengan transformasi di bidang pendidikan, termasuk di dalamnya pendidikan tinggi,” kata Ainun.
Menurutnya, pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa penguatan pendidikan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan. Karena itu, perguruan tinggi perlu terus meningkatkan kualitas dan tata kelolanya agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menghadapi tantangan masa depan.



Bagi UNHAS, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mendalami tiga bidang yang dinilai penting bagi pengembangan institusi. Wakil Ketua I Bidang Kebijakan Umum, Pengembangan dan Kemitraan MWA UNHAS, Prof. Dr. Ir. Muh. Arsyad Thaha, MT., IPM., menjelaskan bahwa rombongannya ingin mempelajari pengelolaan dana abadi, penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran, serta pengembangan modul dan bahan ajar untuk mendukung PJJ di UT.
Ketiga bidang tersebut berkaitan dengan upaya perguruan tinggi dalam memperkuat keberlanjutan institusi sekaligus mengembangkan layanan akademik. Pengelolaan dana abadi menjadi bagian dari penguatan kemandirian finansial, sementara pemanfaatan teknologi informasi dan pengembangan bahan ajar mendukung penyelenggaraan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa.
Dalam hal ini, pengalaman UT sebagai penyelenggara pendidikan terbuka dan jarak jauh menjadi salah satu praktik yang relevan untuk dipelajari. Melalui sistem tersebut, UT berupaya menghadirkan pendidikan tinggi yang dapat diakses oleh masyarakat dari beragam latar belakang. Upaya ini sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya akses terhadap pendidikan yang inklusif dan bermutu.
Arsyad menegaskan bahwa benchmarking tidak cukup dilakukan dengan melihat praktik yang diterapkan perguruan tinggi lain. Lebih dari itu, proses tersebut perlu menghasilkan pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing institusi.
“Kami menyadari bahwa UT memiliki pengalaman dan keunggulan sendiri dalam penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh,” ujar Arsyad. Ia berharap kunjungan tersebut dapat menambah wawasan UNHAS sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan bagi kedua institusi.
Selain pertukaran pengalaman, pertemuan tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai peluang kolaborasi PTN-BH melalui konsorsium bisnis dan konsorsium pembelajaran. Rektor UT, Ali, menjelaskan bahwa salah satu gagasan yang tengah dibahas adalah pengakuan kredit akademik antar perguruan tinggi. Melalui skema ini, mahasiswa berpeluang mengambil mata kuliah di perguruan tinggi lain dengan kredit akademik yang dapat diakui oleh institusi terkait. Namun, gagasan tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum menjadi kesepakatan bersama.
Jika dikembangkan lebih lanjut, konsorsium pembelajaran berpotensi memperluas kesempatan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan lintas perguruan tinggi. Kolaborasi semacam ini juga mencerminkan pentingnya kemitraan dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi, sejalan dengan SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Pertemuan ini mencerminkan pentingnya keterbukaan dan kemauan untuk terus berkembang dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi. Dengan keunggulan dan pengalaman yang dimiliki, UT dan UNHAS diharapkan dapat mengambil peran strategis dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi Indonesia.


