Bagaimana jika ruang belajar mahasiswa bukan hanya ruang kelas, melainkan sebuah pulau yang menjadi rumah bagi satwa endemik Kalimantan? Di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin melihat peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan nyata, sekaligus berkontribusi menjaga kelestarian bekantan. Peluang tersebut dijajaki bersama Universitas PGRI Kalimantan (UPK) melalui kunjungan dalam rangka program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Kamis (17/9/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar kesempatan menikmati keindahan alam. Lebih dari itu, Pulau Curiak menjadi titik awal penjajakan kolaborasi di bidang konservasi bekantan, penelitian, dan pengembangan ekowisata berkelanjutan. Melalui sinergi perguruan tinggi dan masyarakat, kawasan ini berpotensi menjadi ruang belajar sekaligus tempat tumbuhnya berbagai inisiatif pelestarian lingkungan.
Pengalaman tersebut dimulai ketika rombongan menyusuri perairan di sekitar Pulau Curiak. Dari atas perahu, mereka berkesempatan menyaksikan langsung kehidupan bekantan di habitat aslinya. Setelah mengelilingi kawasan pulau, rombongan kemudian singgah di Stasiun Riset Bekantan atau Camp Robert yang dikelola Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Kesan mendalam pun dirasakan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT, Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D. Ia mengaku terkesan dengan kondisi stasiun riset yang terawat dan melihat adanya peluang bagi UT untuk turut berkontribusi dalam kegiatan penelitian maupun konservasi.
“Saya rasa ini buat saya pertama kali ke sini. Ternyata setelah masuk ke Camp Robert ini cukup bagus dan terpelihara. Tadi saya juga sudah berdiskusi dengan Pak Direktur, mungkin dari UT bisa memberikan sesuatu, baik itu riset maupun ikut membantu konservasi di sini,” ungkap Dewi.
Baginya, kunjungan tersebut menjadi pintu awal bagi UT untuk mengambil bagian dalam upaya pelestarian lingkungan. Kesempatan yang terbuka ini diharapkan dapat berkembang menjadi kontribusi nyata melalui kolaborasi dan kegiatan akademik.
Komitmen tersebut sejalan dengan pandangan Direktur UT Banjarmasin, Ir. Mochamad Priono, M.Si. Ia menegaskan kesiapan UT Banjarmasin untuk mendukung Bekantan Research Center, salah satunya melalui kelanjutan program penyediaan makanan bagi bekantan. Selain itu, kawasan Pulau Curiak dinilai memiliki potensi besar sebagai lokasi pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa biologi.
Priono menambahkan, UT Banjarmasin juga tengah mendiskusikan rencana kerja sama strategis bersama UPK dan Desa Anjir Muara Sarapat 1. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan ekowisata yang tetap menjaga habitat bekantan, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Peluang pembelajaran di alam ini turut mendapat sambutan dari Rektor UPK, Dr. Alimuddin A Jawad, M.Hum. Ia menilai Pulau Curiak dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium alam bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi dan Sains Lingkungan. Melalui kegiatan penelitian, mahasiswa dapat mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan sekaligus mengembangkan gagasan untuk mendukung pelestarian lingkungan. UPK pun berencana menindaklanjuti peluang kolaborasi dengan melibatkan mahasiswa dan dosen.
Dari sisi pengelola kawasan, Koordinator Sekolah Konservasi, Dewita, menyambut baik antusiasme perguruan tinggi tersebut. Ia menjelaskan bahwa Stasiun Riset Pulau Curiak telah berdiri sejak 2018 dan rutin menjalin kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi. Kegiatan volunteering juga terbuka untuk dilakukan, termasuk penanaman pohon sebagai bagian dari upaya pelestarian habitat.
Menurut Dewita, jumlah bekantan di Pulau Curiak yang pada 2014 tercatat 14 ekor telah meningkat menjadi 61 ekor pada 2026. Ia juga menyampaikan kabar kelahiran anak bekantan kembar di kawasan tersebut sekitar Juni atau Juli 2026.
Perkembangan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk dunia pendidikan. Penjajakan kolaborasi UT Banjarmasin, UPK, dan masyarakat Pulau Curiak pun sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penjajakan di Pulau Curiak membuka kemungkinan bahwa ruang belajar mahasiswa tidak selalu harus berada di dalam kelas. Di habitat bekantan ini, pembelajaran, penelitian, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat berpeluang bertemu dalam satu ruang yang sama. Jika kolaborasi tersebut berlanjut, Pulau Curiak bukan hanya menjadi tempat mahasiswa mengenal alam dari dekat, tetapi juga ruang untuk belajar bagaimana pengetahuan dapat ikut menjaga kehidupan di dalamnya.



