Tidak semua pelajaran tentang bisnis bisa dipahami dari lembar demi lembar buku pelajaran. Terkadang, pemahaman terbaik justru lahir ketika seseorang harus menghadapi langsung pembeli yang menawar harga, menghitung modal yang mulai menipis, atau merasakan kegembiraan saat produk pertama berhasil terjual.
Pengalaman itulah yang dirasakan puluhan siswa SMA Dharma Karya UT dalam kegiatan Market Day hasil kolaborasi dengan Program Studi S1 Kewirausahaan Universitas Terbuka (UT), Jumat (14/8). Selama satu hari, mereka tidak lagi berperan sebagai siswa yang duduk mendengarkan teori di kelas, melainkan menjadi pelaku usaha muda yang harus memikirkan strategi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas bisnis yang mereka jalankan.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pembelajaran kewirausahaan yang lebih nyata dan relevan dengan kehidupan. Para siswa belajar mulai dari merancang produk, mengelola modal, menyusun strategi pemasaran, melayani konsumen, hingga menghitung keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan.
Kepala SMA Dharma Karya UT, Nur Beti, S.Pd., M.M., mengatakan bahwa kolaborasi dengan Prodi S1 Kewirausahaan UT sengaja dirancang agar siswa dapat merasakan secara langsung proses membangun sebuah usaha.
Menurutnya, pendidikan kewirausahaan akan lebih bermakna ketika siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengalami sendiri dinamika yang terjadi di lapangan.
“Kami mengarahkan siswa mulai dari merencanakan usaha, menyusun strategi pemasaran, mengelola modal, hingga menyampaikan hasilnya melalui laporan dan presentasi Market Day,” tutur Nur Beti.
Di balik kemeriahan Market Day, terdapat proses panjang yang telah dimulai beberapa bulan sebelumnya. Program ini diawali dengan sosialisasi pada Juni 2026, dilanjutkan dengan perencanaan usaha dan pendampingan intensif. Setelah memperoleh pembinaan awal dari tim Universitas Terbuka, sekolah kemudian meneruskan proses pendampingan melalui para guru yang bertugas membimbing masing-masing kelompok.
Sebanyak 30 siswa terpilih mengikuti program tersebut dan dibagi menjadi enam kelompok usaha. Menariknya, pemilihan peserta tidak semata-mata berdasarkan nilai akademik. Sekolah memberikan perhatian pada potensi, kemampuan, serta karakter siswa yang dinilai memiliki kesiapan untuk mengikuti proses pembelajaran kewirausahaan.
“Pemilihannya tidak semata-mata berdasarkan peringkat akademik, melainkan melalui seleksi oleh wali kelas dengan mempertimbangkan kemampuan dan karakter siswa,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena dunia usaha menuntut lebih dari sekadar kecerdasan akademik. Kreativitas, keberanian mengambil peluang, kemampuan bekerja sama, hingga ketangguhan menghadapi kegagalan menjadi bagian dari kompetensi yang harus dibangun sejak dini.
Pelajaran itu benar-benar terasa ketika para siswa mulai menjalankan usaha mereka. Dengan modal yang terbatas, setiap kelompok harus memutuskan produk apa yang akan dijual, bagaimana mengelola pengeluaran, serta cara menarik perhatian konsumen di tengah persaingan.
Setelah kegiatan berakhir, seluruh peserta diwajibkan menyusun laporan yang memuat proses bisnis yang telah mereka jalani, pembelajaran yang diperoleh, serta berbagai tantangan yang mereka hadapi selama berjualan.
Hasilnya menunjukkan cerita yang beragam. Beberapa kelompok mencatat keuntungan sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000. Salah satu kelompok yang bermodal sekitar Rp400.000 bahkan mampu membukukan omzet hingga dua kali lipat dari modal awal.
Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat pelajaran yang jauh lebih berharga.
Tidak semua kelompok memperoleh hasil yang sama. Ada yang mampu menjual produknya dengan cepat, ada pula yang harus berjuang lebih keras untuk menarik pembeli. Sebagian siswa juga mulai memahami bahwa modal yang sudah dikeluarkan tidak selalu bisa kembali dalam waktu singkat.
“Pengalaman semacam itu dinilai penting agar siswa belajar menghadapi risiko sekaligus mencari jalan keluar ketika usaha tidak berjalan sesuai rencana,” ucapnya.
Bagi SMA Dharma Karya UT, inilah esensi utama pendidikan kewirausahaan. Bukan semata-mata tentang seberapa besar keuntungan yang berhasil dibawa pulang, melainkan bagaimana siswa belajar mengambil keputusan, menghadapi risiko, beradaptasi dengan kondisi, dan menemukan solusi ketika menghadapi hambatan.
Kegiatan Market Day juga menjadi bagian dari program Jumat Memikat yang rutin dilaksanakan sekolah. Berbagai aktivitas pengembangan diri seperti olahraga, senam, hingga pertunjukan keterampilan siswa selama ini telah menjadi ruang ekspresi bagi peserta didik. Kehadiran Market Day menambah dimensi baru dengan menghadirkan semangat inovasi dan kewirausahaan ke lingkungan sekolah.
Ke depan, pengalaman yang diperoleh 30 peserta diharapkan tidak berhenti pada mereka saja. Pengetahuan dan keberanian yang tumbuh selama proses ini diharapkan dapat menular kepada siswa lain sehingga budaya kewirausahaan semakin mengakar di lingkungan SMA Dharma Karya UT.
Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan kewirausahaan bukan hanya mencetak calon pebisnis. Lebih dari itu, pendidikan ini berupaya membentuk generasi yang mampu menciptakan nilai, berani mencoba hal baru, mandiri dalam mengambil keputusan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Semangat tersebut juga sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Dari modal ratusan ribu rupiah dan lapak sederhana di lingkungan sekolah, para siswa belajar sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar berjualan. Mereka belajar tentang keberanian memulai, tanggung jawab atas pilihan yang diambil, dan makna dari sebuah proses. Bekal yang kelak akan tetap relevan, apa pun profesi yang mereka pilih di masa depan.
“Pengalaman itu menjadi bekal untuk menumbuhkan generasi muda yang kreatif, berani mencoba, mampu menciptakan nilai, dan semakin siap menjadi pribadi yang mandiri,” pungkasnya.



