Saat Untar Belajar ke UT, Terungkap Kunci Membangun Pendidikan Jarak Jauh Berkualitas

Di tengah derasnya transformasi digital yang mengubah wajah pendidikan tinggi, satu pertanyaan terus mengemuka: bagaimana memastikan kualitas pembelajaran tetap terjaga ketika ruang kelas tak lagi dibatasi tembok kampus? Pertanyaan inilah yang membawa jajaran pimpinan Universitas Tarumanagara (Untar) berkunjung ke Universitas Terbuka (UT), kampus yang selama lebih dari empat dekade menjadi pionir Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Indonesia.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi antarrektor. Pertemuan itu menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana membangun ekosistem Pendidikan Jarak Jauh yang tidak hanya fleksibel, tetapi juga mampu menjaga mutu akademik, integritas, dan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menyambut langsung rombongan Untar dan menjelaskan filosofi yang menjadi fondasi UT sejak pertama berdiri. Menurutnya, masih banyak pihak yang memahami UT secara keliru, seolah-olah kehadiran kampus berbasis PJJ menjadi pesaing perguruan tinggi lain dalam merebut mahasiswa.

Padahal, kata Prof. Ali, UT justru lahir untuk melayani masyarakat yang belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh perguruan tinggi konvensional.

“UT itu bukan mengambil mahasiswa yang seharusnya menjadi milik perguruan tinggi swasta, tetapi mengurus mereka yang belum terlayani,” ujarnya.

Ia bahkan berharap semakin banyak perguruan tinggi di Indonesia mengembangkan PJJ agar tercipta iklim kompetisi yang sehat sekaligus mendorong peningkatan kualitas layanan pendidikan nasional.

Menurut Prof. Ali, konsep “terbuka” yang diusung UT bukan sekadar kuliah secara daring. Filosofi tersebut mencakup keterbukaan terhadap siapa pun yang ingin belajar, di mana pun berada, serta memberikan kesempatan yang sama tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, usia, maupun kondisi fisik.

Karena itulah, mahasiswa UT kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga daerah terpencil. Bahkan, kampus ini juga membuka akses bagi penyandang disabilitas maupun kelompok masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan dalam memperoleh pendidikan tinggi.

Bagi Prof. Ali, PJJ sejatinya merupakan instrumen pemerataan kesempatan belajar. Semakin luas akses diberikan, semakin besar pula peluang masyarakat meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan. Nilai tersebut selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 mengenai Berkurangnya Kesenjangan.

Namun, di balik kemudahan akses tersebut, Prof. Ali menegaskan bahwa membangun sistem PJJ berkualitas bukanlah pekerjaan sederhana. Justru investasi terbesar berada pada tahap perencanaan pembelajaran.

Ia mengungkapkan, satu mata kuliah di UT membutuhkan nilai investasi yang cukup besar. Anggaran itu digunakan antara lain untuk menyusun bahan ajar, proses validasi akademik, produksi multimedia, ilustrasi, video pembelajaran, hingga memastikan materi mampu dipahami mahasiswa secara mandiri tanpa bergantung pada kehadiran dosen di ruang kelas.

“Bahan ajar itu harus mampu menjelaskan sendiri, mengarahkan mahasiswa belajar sendiri, dan cukup menjadi sumber utama pembelajaran,” jelasnya.

Karena itulah, setiap materi di UT dirancang dengan prinsip self instructional, self contained, dan self explanatory. Mahasiswa tidak hanya membaca modul, tetapi dipandu secara bertahap mulai dari konsep paling sederhana hingga yang paling kompleks, lengkap dengan multimedia yang menyesuaikan berbagai gaya belajar.

Bagi UT, kualitas pendidikan jarak jauh tidak diukur dari secanggih apa platform digital yang digunakan, melainkan dari seberapa matang proses pembelajaran dirancang sebelum mahasiswa mulai belajar.

Komitmen itu pula yang ingin dipelajari Untar. Dalam sesi diskusi, berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari tata kelola unit PJJ di daerah, pengembangan program studi berbasis PJJ, infrastruktur teknologi, hingga sistem pengawasan ujian yang mampu menjaga integritas akademik.

Menjawab hal tersebut, Prof. Ali menjelaskan bahwa keberhasilan PJJ tidak hanya bergantung pada Learning Management System (LMS), tetapi juga pada ekosistem layanan yang mendampingi mahasiswa sejak proses registrasi, pembelajaran, konsultasi akademik, hingga pelaksanaan ujian. Karena itu, setiap unit layanan UT di daerah berfungsi sebagai kepanjangan tangan kampus untuk memastikan mahasiswa tetap memperoleh pendampingan, meskipun belajar dari lokasi yang berbeda-beda.

“PJJ bukan sekadar online learning. Esensinya adalah bagaimana mahasiswa tetap terhubung dengan sumber belajar melalui sistem layanan yang terencana,” jelasnya.

Tak hanya membahas tata kelola, perhatian Untar juga tertuju pada bagaimana UT menjaga kualitas pembelajaran pada program-program yang membutuhkan praktik laboratorium, terutama di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Prof. Ali menepis anggapan bahwa PJJ tidak mampu mengakomodasi pembelajaran praktik. Menurutnya, konsep PJJ justru dibangun melalui kolaborasi dan resource sharing dengan berbagai mitra di daerah, sehingga mahasiswa tetap menjalani praktik di laboratorium, bengkel, rumah sakit, maupun industri yang sesuai dengan bidang keilmuannya.

“Jangan buka program vokasi kalau belum ada tempat praktik. Dan jangan luluskan mahasiswa vokasi kalau belum ada tempat yang jelas untuk mereka belajar dan bekerja,” tegasnya.

Di sisi lain, integritas akademik menjadi perhatian besar UT. Kampus ini menerapkan lima skema ujian, mulai dari ujian tatap muka, ujian daring dengan pengawas langsung, ujian berbasis perangkat seluler, remote online proctoring, hingga Automated Online Proctoring (AOP) yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Kepala Pusat Pengelolaan Ujian UT, Dr. Kartono, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa sistem tersebut mampu mendeteksi berbagai bentuk pelanggaran secara otomatis, mulai dari keberadaan orang lain di sekitar peserta, penggunaan telepon seluler, hingga aktivitas mencurigakan selama ujian. Setiap indikasi pelanggaran akan terekam dan diverifikasi kembali sebelum keputusan akademik diambil.

Prof. Ali lanjut menegaskan bahwa menjaga integritas akademik merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar.

“Manipulasi akademik adalah pelanggaran terbesar. Kalau terbukti membocorkan soal atau mengubah nilai, tidak ada toleransi,” katanya.

Selain membahas sistem yang telah berjalan, Prof. Ali juga mengungkapkan arah pengembangan UT ke depan. UT kini tengah menyiapkan berbagai program studi baru yang berorientasi pada kebutuhan industri, terutama di bidang STEM dan vokasi, seperti otomotif kendaraan listrik (electric vehicle), logistik, hingga akuntansi digital. Pengembangan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan pasar kerja agar lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar relevan dengan perkembangan zaman.

Menutup kunjungan, Rektor Untar Prof. Dr. Ahmad Sudiro, S.H., M.H., M.Kn., M.M., menyampaikan apresiasinya atas keterbukaan UT dalam berbagi pengalaman. Ia menegaskan komitmen Untar untuk memperkuat kolaborasi dan menjadikan UT sebagai mitra strategis dalam mengembangkan program PJJ di lingkungan kampusnya.

Pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar agenda institusional. Di tengah perubahan lanskap pendidikan tinggi, kedua kampus menunjukkan bahwa kolaborasi jauh lebih penting daripada kompetisi. Ketika pengalaman dibagikan dan inovasi dikembangkan bersama, semakin banyak masyarakat Indonesia yang berpeluang menikmati pendidikan tinggi berkualitas tanpa lagi dibatasi ruang, waktu, maupun kondisi geografis. Semangat inilah yang tidak hanya memperkuat transformasi pendidikan nasional, tetapi juga menjadi langkah nyata menuju tercapainya SDG 4, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 10, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).