Membersihkan pantai mungkin bisa dilakukan dalam hitungan jam. Namun mengubah kebiasaan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai membutuhkan komitmen yang jauh lebih panjang. Kesadaran itulah yang coba ditanamkan Universitas Terbuka (UT) Purwokerto bersama Sentra Layanan UT (SALUT) Cerdas Kebumen melalui aksi “Save Our Ocean” di Pantai Cemara Sewu Karangrejo, Petanahan, Sabtu (13/6).
Berbeda dari kegiatan lingkungan pada umumnya, aksi ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah di kawasan pesisir. UT Purwokerto juga menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana edukasi nyata untuk membangun kebiasaan ramah lingkungan, salah satunya dengan mengurangi ketergantungan terhadap botol plastik sekali pakai.
Sejak awal kegiatan, seluruh relawan dan panitia diwajibkan membawa tumbler atau botol minum isi ulang. Panitia pun tidak menyediakan air minum dalam kemasan, melainkan menyiapkan sejumlah pos galon isi ulang yang dapat digunakan peserta sepanjang kegiatan berlangsung.
Langkah sederhana tersebut sengaja diterapkan sebagai bentuk edukasi langsung bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke wadah minum yang dapat digunakan berulang kali merupakan kebiasaan kecil yang jika dilakukan bersama-sama dapat memberikan dampak yang signifikan bagi lingkungan.
Direktur UT Purwokerto, Dr Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa edukasi lingkungan harus dimulai dari kedisiplinan internal dan keteladanan nyata. Menurutnya, kampanye menjaga laut akan lebih bermakna apabila para pelakunya juga berupaya untuk tidak menghasilkan sampah baru selama kegiatan berlangsung.
“Laut kita secara ekologis memegang peran yang sangat besar. Ia adalah produsen oksigen utama bumi sekaligus penyerap karbon dioksida (CO₂) yang menjaga iklim kita tetap stabil. Kalau kita mengedukasi masyarakat untuk menjaga laut, maka kita sendiri harus memberikan contoh nyata dengan tidak memproduksi sampah baru di sepanjang acara ini,” ujarnya di sela kegiatan.
Melalui pendekatan tersebut, UT Purwokerto ingin menunjukkan bahwa upaya menjaga laut tidak hanya dilakukan saat memungut sampah yang sudah terlanjur mencemari lingkungan, tetapi juga dengan mencegah munculnya sampah baru sejak awal. Salah satunya melalui pembiasaan membawa tumbler sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan botol plastik sekali pakai.
Dr Prasetyarti juga menilai perubahan gaya hidup ramah lingkungan akan lebih efektif apabila mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan pemangku kebijakan di tingkat wilayah.
“Aksi hari ini adalah pemantik. Ke depannya, kami berharap jajaran Forkopimcam dapat terus bersinergi dan berkolaborasi bersama Universitas Terbuka Purwokerto. Kita ingin mengawal agar kesadaran lingkungan ini tumbuh menjadi budaya yang berkelanjutan di tengah masyarakat, bukan sekadar seremonial yang selesai dalam sehari,” harapnya.
Selain melakukan pembersihan pantai, ratusan anak muda yang terlibat dalam kegiatan ini juga menyebar ke area wisata dan warung-warung sekitar pantai. Mereka mengajak wisatawan dan pelaku usaha untuk lebih peduli terhadap dampak sampah plastik, sekaligus memberikan edukasi mengenai bahaya mikroplastik yang dapat masuk ke rantai makanan dan berisiko dikonsumsi manusia melalui hasil laut.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena Pantai Cemara Sewu merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang bertumpu pada sektor kuliner hasil laut dan pariwisata. Dengan demikian, menjaga kebersihan laut tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir.
Upaya mengurangi sampah plastik dan menjaga ekosistem laut yang dilakukan dalam kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 14 tentang Ekosistem Laut yang mendorong perlindungan sumber daya laut melalui pola konsumsi dan perilaku yang lebih bertanggung jawab.
Melalui kolaborasi antara dunia akademik, komunitas, masyarakat, dan pemerintah, aksi “Save Our Ocean” membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu berawal dari langkah yang rumit. Terkadang, ia dimulai dari keputusan sederhana yang dibawa dari rumah: memilih tumbler isi ulang daripada botol plastik sekali pakai.


