Universitas Terbuka (UT) Pangkalpinang bersama tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) turun langsung ke kawasan Wisata Bukit Pinteir, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (2/5/2026), untuk memperkuat branding destinasi wisata berbasis alam, olahraga, dan edukasi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan daya saing wisata lokal melalui pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah setempat, dan masyarakat pengelola wisata.
Di lokasi kegiatan, suasana Bukit Pinteir tampak ramai oleh kehadiran berbagai unsur, mulai dari Lurah Kelurahan Dul, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Mereka berkumpul dalam satu tujuan yang sama: mendorong agar Bukit Pinteir tidak hanya dikenal sebagai destinasi alam, tetapi juga memiliki identitas kuat sebagai wisata edukasi dan olahraga yang berkelanjutan.
Ketua tim PkM, Yusuf, menjelaskan bahwa Bukit Pinteir memiliki potensi besar yang perlu dikelola dengan pendekatan yang lebih terarah, khususnya melalui penguatan branding dan promosi. Menurutnya, daya tarik alam yang sudah dimiliki perlu dikemas ulang agar lebih relevan dengan kebutuhan wisatawan saat ini.
“Bukit Pinteir memiliki panorama alam, jalur trekking, dan nilai edukasi lingkungan yang kuat. Dengan semangat dan komitmen pengurus, potensi ini perlu dikemas ulang melalui inovasi dan branding yang tepat agar kembali diminati wisatawan,” ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi momentum pembelajaran bersama. Tim PkM yang melibatkan Unggul Utan Sufandi, Dessy Mayasari, Hasmonel, serta mahasiswa program studi pariwisata Universitas Terbuka, memberikan pendampingan terkait penguatan desa wisata berbasis digital. Materi yang dibahas mencakup strategi promosi, penyusunan narasi wisata yang lebih menarik, hingga pemanfaatan media digital untuk memperluas jangkauan promosi.
Cerita pengembangan Bukit Pinteir kemudian mengalir pada upaya transformasi yang lebih modern. Tim PkM menekankan pentingnya desa wisata “go digital” agar pengelola mampu mengikuti perkembangan perilaku wisatawan yang kini banyak mencari informasi melalui platform digital. Rencana tindak lanjut berupa workshop lanjutan juga disiapkan untuk memperkuat kapasitas Pokdarwis dalam pengelolaan promosi wisata secara mandiri.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Universitas Terbuka juga menyerahkan bantuan tujuh unit tenda camping serta bibit ikan nilem totok saraf. Bantuan ini diharapkan dapat memperkaya atraksi wisata dan memperkuat konsep wisata alam berbasis edukasi yang sedang dikembangkan bersama.
Pengelola Wisata Bukit Pinteir menyambut baik kegiatan ini karena dinilai memberikan arah baru dalam pengembangan destinasi. Pendampingan dari UT dianggap tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga langsung menyentuh kebutuhan pengelolaan wisata di lapangan.
Dalam konteks yang lebih luas, kegiatan ini juga mencerminkan peran Universitas Terbuka dalam menghadirkan akses pendidikan tanpa batas. Melalui program PkM, UT tidak hanya berfokus pada ruang akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi nyata bagi pengembangan potensi daerah. Hal ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pendidikan berkualitas, pertumbuhan ekonomi lokal, dan pembangunan komunitas berkelanjutan.
Dari Bukit Pinteir, kolaborasi ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga tentang proses belajar bersama. Ke depan, Universitas Terbuka berharap sinergi antara kampus, masyarakat, dan pengelola wisata dapat terus terjaga, sehingga Bukit Pinteir tumbuh menjadi destinasi yang tidak hanya indah secara alam, tetapi juga kuat secara identitas dan berkelanjutan dalam pengelolaan—sejalan dengan semangat UT sebagai kampus terbuka yang menghadirkan pendidikan tanpa batas bagi semua kalangan.



