AMBON — Wisuda biasanya identik dengan suasana formal dan penuh kekhidmatan. Namun pemandangan berbeda justru terlihat dalam Prosesi Wisuda Daerah Universitas Terbuka (UT) Perwakilan Ambon yang digelar pada Sabtu (23/5/2026). Di balik ratusan toga yang memenuhi ruangan, tersimpan kisah-kisah hangat yang membuat acara ini terasa lebih hidup, dekat, dan sulit dilupakan.
Sebanyak 278 wisudawan dari berbagai wilayah di Maluku hadir membawa cerita perjuangan masing-masing. Mulai dari politisi yang tetap menuntaskan kuliah di tengah kesibukan pemerintahan, pasangan suami-istri yang wisuda bersama, hingga momen spontan yang mendadak membuat satu ruangan ikut bersenandung.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Abdul Gani Rahawarin, anggota DPRD Kabupaten Buru Selatan. Di tengah padatnya agenda sidang dan reses, ia tetap berhasil menyelesaikan studinya di UT hingga akhirnya resmi diwisuda.
Kehadiran Abdul Gani menjadi simbol bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia, jabatan, maupun kesibukan. Salah satu koleganya yang hadir bahkan menyebut momen tersebut sebagai pesan penting bagi para ASN dan pejabat publik di Maluku agar tidak pernah berhenti belajar.
Tak hanya menghadirkan cerita inspiratif, wisuda kali ini juga diwarnai suasana yang tak biasa. Nama Feronika Aplerina Marselina Malwewan, wisudawati Program Studi PGSD asal Kota Ambon, mendadak menjadi pusat perhatian saat dipanggil ke atas panggung.
Suasana yang sebelumnya khidmat langsung berubah cair. Sejumlah hadirin spontan bersenandung dan bergoyang kecil karena teringat lagu viral “Veronika” yang ramai di media sosial. Gelak tawa pun pecah di berbagai sudut ruangan.
“Wah, ini vibe-nya beda! Namanya mirip lagu hits, jadi suasana jadi asyik dan cair,” canda salah satu panitia.
Feronika sendiri tampak malu-malu, tetapi senyum bahagianya tak bisa disembunyikan. Momen sederhana itu justru menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam prosesi wisuda tersebut.
Kehangatan juga terasa dari kisah para keluarga yang berhasil menuntaskan pendidikan bersama. Pasangan suami-istri Herly Imanuel Wenno dan Prily Ester Rumpupoy dari Program Studi Ilmu Hukum, Kota Ambon, kompak melangkah ke atas panggung wisuda bersama.
Tak berhenti di situ, empat pasang kakak-adik juga menerima ijazah di hari yang sama. Mereka adalah Benedikta dan Dafrosa Nifinluri dari PGSD Saumlaki, Dewi Nurfitri dan Dian Fitriani Rizki dari Manajemen Ambon, Oliva dan Maria Elmas dari PGSD Malra, serta Fitria Seul dan Boy Dewi Seul dari PGSD Buru Selatan.
Deretan kisah tersebut menjadi gambaran bahwa dukungan keluarga menjadi kekuatan besar dalam menempuh pendidikan jarak jauh.
Cerita haru lainnya datang dari Farid Ma’arif, mahasiswa Sosiologi yang menganggap wisuda tahun ini sebagai hadiah ulang tahun paling berharga. Sehari sebelum memasuki usia 29 tahun pada 23 Mei, ia resmi menyandang gelar sarjana setelah bertahun-tahun membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah.
Di balik suasana penuh tawa dan haru, pesan serius tetap disampaikan dalam prosesi tersebut. Direktur UT Ambon, Yuli Tirta Riandi, bersama Ketua LP2M UT, Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, menegaskan bahwa literasi digital kini menjadi kemampuan wajib bagi lulusan agar mampu tetap relevan di era modern.
Sementara itu, Sekda Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Brampi, mengumumkan komitmen pemerintah daerah untuk melanjutkan program beasiswa kerja sama dengan UT selama empat tahun ke depan. Program tersebut mencakup jenjang pendidikan dari SD hingga S2 sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Maluku.
Wisuda UT Ambon 2026 akhirnya bukan hanya tentang kelulusan. Acara ini berubah menjadi ruang penuh cerita tentang perjuangan, keluarga, mimpi, dan semangat belajar yang tak pernah selesai. Di tempat itu, politisi dan masyarakat biasa duduk setara, sementara momen sederhana justru menjadi kenangan paling membekas.

