Disadur dari tulisan Memet Casmat, S.Pd., M.T *)
BOGOR, 27 Desember 2025 — Hari libur biasanya identik dengan jeda. Waktu untuk berhenti sejenak, menghela napas, lalu kembali ke rutinitas dengan tenaga yang lebih utuh. Namun pagi itu, bagi sebagian mahasiswa Universitas Terbuka, hari libur justru dimulai dengan degup jantung yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena terburu-buru, melainkan karena sebuah tanggung jawab akademik yang tak bisa ditunda: Ujian Online (UO).
Dengan tas sederhana berisi kartu identitas, ponsel, dan secarik catatan kecil, mereka melangkah menuju sekolah mitra atau Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT). Langkah-langkah itu membawa harapan, kecemasan, sekaligus tekad. Bagi mahasiswa UT, ujian bukan sekadar soal dan waktu, melainkan bagian dari konsekuensi memilih jalur pendidikan tinggi yang memberi ruang fleksibilitas, namun menuntut kedisiplinan dan kemandirian yang tak ringan.


Ruang ujian menyambut dengan suasana yang khas. Meski berbasis daring, formalitas tetap terasa. Pengawas ruang hadir, kursi disusun rapi, jaringan internet diuji, dan aplikasi ujian dibuka bersama-sama. Di balik layar gawai, setiap mahasiswa menyimpan cerita perjuangannya sendiri. Ada yang sudah menyiapkan diri sejak jauh hari, ada pula yang masih memanfaatkan sisa waktu di perjalanan untuk menuntaskan ringkasan materi, berharap ingatan bertahan cukup lama hingga soal terakhir.
Ketika soal pertama muncul, suasana pun mengeras. Bagi mereka yang merasa materi selaras dengan apa yang dipelajari, ujian berjalan relatif lancar. Ekspresi wajah perlahan melunak, jari bergerak lebih yakin, dan senyum kecil sesekali muncul tanpa disadari. Saat hasil ujian menampilkan nilai yang memuaskan, rasa lega hadir tanpa perlu dirayakan. Aplikasi ujian dibiarkan terbuka beberapa saat, seolah memastikan angka itu benar-benar nyata. Ada kebanggaan yang tak diucapkan, cukup terbaca dari cara mereka bangkit dan melangkah pergi.
Namun, tidak semua cerita berakhir dengan nada yang sama. Bagi sebagian mahasiswa lainnya, soal terasa menjebak, waktu seperti berlari terlalu cepat, dan ingatan mendadak enggan diajak bekerja sama. Kening berkerut, napas terasa lebih berat, dan jari bergerak penuh keraguan. Ketika hasil ujian muncul dengan nilai yang belum sesuai harapan, aplikasi ditutup cepat dan senyap. Bukan untuk mengingkari hasil, melainkan upaya sederhana menjaga perasaan agar tetap utuh di tengah ruang ujian yang hening.
Di antara dua ujung pengalaman itu, tumbuh empati yang nyaris tak perlu kata. Sesama mahasiswa UT paham betul bahwa hadir di ruang ujian pada hari libur saja sudah merupakan bentuk komitmen. Banyak dari mereka harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan peran sosial lainnya. Dalam konteks itu, UT hadir bukan sekadar sebagai institusi penyelenggara ujian, melainkan sebagai ruang belajar yang memberi kesempatan, tanpa mengabaikan realitas hidup mahasiswanya.
Ketika ujian usai, ketegangan perlahan mencair. Ada yang saling berbagi cerita, ada yang memilih diam sambil merenung, ada pula yang langsung menyusun strategi untuk ujian berikutnya. Suka dan duka hari itu melebur menjadi satu pengalaman kolektif, membentuk ketangguhan yang pelan-pelan tumbuh melalui proses.
Di balik layar aplikasi ujian yang dibuka atau ditutup dengan cepat, tersimpan pelajaran tentang kejujuran pada diri sendiri, penerimaan atas hasil, dan keberanian untuk terus melangkah. Bagi mahasiswa Universitas Terbuka, Ujian Online di hari libur bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan cerminan nyata semangat pembelajar sepanjang hayat. Sebuah perjalanan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif, di mana akses belajar tetap terbuka, meski jalan yang ditempuh tak selalu mudah.



