Belajar bisnis tidak selalu harus dimulai dari slide presentasi atau ruang kelas yang formal. Bagi mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Medan, pengalaman itu justru berawal dari langkah-langkah sederhana menyusuri sudut-sudut kota Penang, Malaysia—mengamati usaha lokal, berdiskusi tentang ide, dan melihat langsung bagaimana bisnis dijalankan dalam keseharian. Selama lima hari, mereka mengikuti MINDSET 2025, program internasional besutan Universiti Sains Malaysia (USM), yang menawarkan pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang lebih kontekstual dan membumi.
Dalam program ini, mahasiswa tidak ditempatkan sebagai pendengar pasif. Melalui kegiatan Business Idea Walk, mereka diajak turun ke lapangan, mengamati lingkungan sekitar, membaca dinamika usaha lokal, lalu mendiskusikan peluang yang muncul dari hal-hal sederhana. Dari proses ini, satu pelajaran penting mengemuka: ide bisnis tidak selalu lahir dari konsep besar, melainkan dari kepekaan melihat masalah dan keberanian untuk memahami kebutuhan di sekitar.
Gagasan-gagasan tersebut kemudian dirumuskan lebih sistematis melalui Business Model Canvas. Di tahap ini, mahasiswa mulai memetakan ide secara utuh—mulai dari nilai yang ditawarkan, segmen pasar yang dituju, hingga cara menjalankan usaha secara berkelanjutan. Diskusi berlangsung dinamis, dipenuhi pertukaran sudut pandang dan pembelajaran kolaboratif, menjadikan proses belajar terasa lebih hidup dan relevan.
Pengalaman semakin bermakna saat mahasiswa mengunjungi industri lokal dan pelaku UMKM. Dari dialog langsung dengan para pengusaha, mahasiswa melihat realitas dunia bisnis yang sesungguhnya: tantangan yang terus berubah, tuntutan adaptasi, serta proses panjang di balik usaha yang mampu bertahan. Di titik ini, teori yang selama ini dipelajari tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menemukan konteks dan maknanya.
Rangkaian kegiatan dilengkapi dengan workshop pembuatan prototipe produk dan strategi pemasaran. Mahasiswa diajak berpikir lebih jauh—bagaimana sebuah ide dapat diwujudkan dan diperkenalkan ke pasar. Fokusnya bukan semata pada hasil akhir, melainkan pada keberanian mencoba, menerima kegagalan, belajar dari proses, dan terus menyempurnakan langkah.



Mahasiswa UT Medan yang terlibat dalam MINDSET 2025 datang dari latar belakang yang beragam: Amanda Wibowo dari Program Studi Manajemen, Faris Andrian Siagian dari Program Studi Sastra Inggris, serta Patricia Audrey Grace dari Program Studi Ekonomi Pembangunan. Perbedaan disiplin ilmu ini justru memperkaya diskusi, membuka perspektif baru, dan menciptakan kolaborasi yang lebih dinamis.
Kesempatan internasional ini dapat dijalani berkat sistem pendidikan Universitas Terbuka yang fleksibel dan adaptif. Melalui pembelajaran daring dan pengaturan studi yang terbuka, mahasiswa tetap dapat mengikuti program lintas negara tanpa mengabaikan kewajiban akademik. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa akses ke peluang global bukanlah hal yang mustahil, selama ada keberanian untuk melangkah.
Melalui kolaborasi internasional seperti MINDSET 2025, Universitas Terbuka terus memperluas ruang belajar yang relevan dengan dunia nyata. Sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), UT mendorong pendidikan yang inklusif, penguatan keterampilan, serta kesiapan generasi muda menghadapi tantangan global.
Pada akhirnya, MINDSET 2025 bukan semata tentang perjalanan ke luar negeri. Ini tentang keberanian keluar dari rutinitas, belajar langsung dari pengalaman, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Dan ketika pengalaman seperti ini menjadi bagian dari perjalanan kuliah, pertanyaannya mungkin tinggal satu: langkah global apa yang siap diambil selanjutnya?



