Ketika banyak pendidik masih bertanya-tanya bagaimana menghadapi derasnya arus teknologi, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D., justru berdiri di garis depan perubahan. Di hadapan ratusan peserta seminar di Jakarta, Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka (UT) itu tampil dengan satu pesan tegas: Indonesia tidak punya waktu lagi untuk ragu. Pemanfaatan kecerdasan buatan dan teknologi cerdas bukan tren musiman—melainkan syarat mutlak untuk memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan bermutu.
“Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan berkualitas melalui peranan sekolah dan guru yang berkualitas,” ujar Prof. Tian dalam seminar bertema “Education Outlook 2026: AI dan Deep Learning untuk Akselerasi Kualitas Pendidikan Indonesia”, Selasa (2/12/2025). Ia menyampaikan pernyataan itu bukan sekadar konsep akademik, tetapi keyakinan yang ia perjuangkan sejak puluhan tahun berkecimpung membangun akses pendidikan terbuka.
Sebagai salah satu tokoh strategis yang mendorong transformasi digital di dunia pendidikan, Prof. Tian memandang teknologi cerdas sebagai pintu untuk menghapus batas akses yang selama ini membelah kualitas pembelajaran antara kota dan daerah. Menurut dia, integrasi teknologi digital dan AI dapat membantu para pemangku kepentingan berpikir lebih sistemik, mengasah kemampuan konseptual, dan menumbuhkan pola pikir kritis yang dibutuhkan generasi masa depan. Hal ini sejalan dengan agenda global SDG 4 tentang pendidikan inklusif dan bermutu.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak sebagai kekuatan utama. “Contoh kolaborasi strategis antarpihak yang diharapkan dapat menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujar Guru Besar FKIP UT tersebut. Pesan itu disampaikan dengan penekanan bahwa teknologi tidak boleh menciptakan kesenjangan baru, melainkan menjadi alat pemerataan yang nyata.
Dukungan terhadap transformasi ini turut datang dari dunia industri. President Director Acer Indonesia, Leny Ng, menyampaikan bahwa dunia pendidikan perlu bersiap menghadapi era pembelajaran berbasis teknologi. “Kami percaya bahwa AI dan deep learning memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas proses belajar-mengajar, tanpa mengabaikan pentingnya peran pendidik dalam menuntun dan memaknai proses belajar yang terjadi,” ujarnya. Harapan ini sejalan dengan gagasan Prof. Tian bahwa teknologi harus memperkuat kualitas pengajaran, bukan menggantikannya.
Acara tersebut dihadiri lebih dari 300 peserta, mulai dari pemimpin sekolah, penyusun kurikulum, pejabat pemerintah, dosen, hingga berbagai pakar pendidikan. Antusiasme besar dalam forum ini mencerminkan kesadaran kolektif bahwa Indonesia tengah memasuki fase penting dalam evolusi sistem pendidikannya.
Selain menyampaikan pandangan strategis, Prof. Tian juga menjadi narasumber utama yang membawakan materi “Menghapus Batas Pendidikan: Pemerataan Akses dan Kualitas melalui Teknologi Cerdas.” Ia menegaskan bahwa teknologi tidak boleh berhenti pada level wacana, melainkan harus memberi dampak konkret bagi anak-anak yang selama ini sulit menjangkau pendidikan berkualitas.
Di tengah kompleksitas perubahan zaman, Prof. Tian kembali mengingatkan bahwa inti pendidikan tetaplah manusia. Teknologi boleh melesat cepat, tetapi keberanian moral untuk memastikan kesetaraan belajar adalah nilai yang harus terus dijaga. Dan melalui pemikiran serta kiprahnya, Guru Besar UT itu menunjukkan bahwa kontribusi sivitas akademika dapat menggerakkan arah pendidikan Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, inklusif, dan siap bersaing secara global.



