Ukir Prestasi di AAOU 2026, UT Raih Dua Penghargaan dan Perkuat Peran Strategis di Asia 

PASAY CITY, FILIPINA – Pernah merasa ingin kuliah, tapi terhalang jarak, pekerjaan, atau jadwal yang tak pernah longgar? Di Pasay City, Filipina, ada kisah tentang kampus yang sejak awal dirancang untuk menjawab keresahan itu. Universitas Terbuka (UT) membuktikannya  pada 39th Asian Association of Open Universities (AAOU) Annual Conference, 22-24 Oktober 2026, dan pulang membawa dua penghargaan bergengsi.

Konferensi di Heritage Hotel ini mempertemukan para pemimpin perguruan tinggi, peneliti, dan pakar pendidikan jarak jauh dari berbagai penjuru Asia. Tema yang dibahas terasa dekat dengan keseharian banyak orang: “Responding to Global Challenges Towards a Resilient and Future-Ready Open Distance and e-Learning.” Intinya, bagaimana belajar dari mana saja tetap bermutu dan siap menghadapi perubahan zaman.

Penghargaan pertama, Meritorious Service Award (MSA), diberikan kepada Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. Beliau diapresiasi atas dedikasi dan kontribusi panjangnya dalam memperluas dan meningkatkan kualitas pendidikan terbuka dan jarak jauh di Asia. Di balik piala itu ada perjalanan panjang yang membuat kuliah fleksibel makin dipercaya.

Penghargaan kedua, Best Paper Award, diraih Bambang Hariyanto, Ali Muktiyanto, dan Ira Geraldina dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT. Karya mereka dipilih Dewan Juri AAOU lewat evaluasi ketat karena orisinal, mendalam, dan memberi sumbangsih bagi lingkungan belajar yang fleksibel. Ini menandakan bahwa kuliah jarak jauh bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal riset yang serius.

Cerita UT di Filipina tak berhenti di piala. Sebagai bagian dari Komite Eksekutif AAOU, UT ikut merumuskan kebijakan dan inisiatif strategis, lalu membawanya ke AAOU General Body Meeting pada 23 Oktober. Di sana, UT turut menyumbang pada keputusan regional dan kolaborasi antarlembaga. Semangat saling menggandeng ini sejalan dengan SDGs ke-17, yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan bersama. Pendidikan yang baik memang tumbuh dari kerja sama.

Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., juga tampil sebagai panelis utama dalam diskusi “Quality Assurance through Institutional Accreditation.” Bersama para pimpinan universitas terbuka dan pakar akreditasi, ia membahas cara menjaga standar akademik tetap ketat, memperkuat ketangguhan institusi, dan meningkatkan mutu secara berkelanjutan. Bagi mahasiswa, ini kabar menenteramkan karena kuliah fleksibel tetap berjalan dengan standar yang dijaga. Inilah wujud nyata SDGs ke-4: pendidikan berkualitas untuk semua.

Pada akhirnya, pencapaian ini mengingatkan bahwa kuliah tak harus menunggu hidup lebih longgar. Lewat penjaminan mutu dan riset bereputasi, UT terus berupaya menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, terjangkau, dan tangguh bagi jutaan pembelajar. Ketika akses makin terbuka, kesenjangan pendidikan pun perlahan menyempit, sejalan dengan SDGs ke-10. Bagi yang masih menimbang untuk kembali belajar, kisah dari Pasay City ini bisa jadi alasan untuk melangkah.