Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), Universitas Terbuka (UT) justru menghadirkan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar mengandalkan teknologi, UT menggabungkan AI dengan nilai luhur Tepo Seliro sebagai fondasi pengembangan layanan kesehatan mental bagi aparatur daerah. Gagasan ini mendapat dukungan penuh dari para akademisi dan pemangku kepentingan untuk segera memasuki tahap tahap uji coba (piloting).
Gagasan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) penelitian Program BIMA Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan UT pada Jumat (3/7/2026) di The Alana Hotel & Conference Center Malioboro, Yogyakarta. FGD ini bertujuan menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan guna menyempurnakan model layanan kesehatan mental berbasis AI yang mengintegrasikan kearifan lokal Indonesia.
Penelitian bertajuk “Model Indigenous AI-Based Mental Health Service: Pendekatan Nilai Tepo Seliro untuk Mereduksi Stres Kerja Aparatur Daerah” dipimpin oleh Dr. Zulkifli Sultan. Model yang dikembangkan tidak hanya memanfaatkan kemajuan teknologi, tetapi juga mengedepankan nilai budaya lokal agar layanan menjadi lebih humanis, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan aparatur daerah.
FGD dihadiri oleh perwakilan pemerintah dan akademisi, di antaranya Ketua KPU Kota Yogyakarta Noor Harsya Aryosamodro, perwakilan Sekretariat Bawaslu DIY, Bawaslu Kabupaten Bantul, Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, BAPPEDA Kota Yogyakarta, Pemerintah Kalurahan Prenggan, Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta Kemantren Gedongtengen.
Dalam diskusi, para peserta menilai penggabungan AI dan nilai Tepo Seliro sebagai inovasi yang relevan untuk menjawab tantangan kesehatan mental aparatur daerah. Seluruh peserta menyatakan dukungan terhadap penelitian ini dan mendorong agar model yang dikembangkan segera memasuki tahap piloting melalui demonstrasi layanan sehingga efektivitasnya dapat diuji di lapangan.
Salah satu pembahasan utama dalam FGD menegaskan bahwa Tepo Seliro tidak hanya dimaknai sebagai sikap menghargai orang lain. Nilai tersebut diawali dari kemampuan seseorang mengenali diri sendiri, memahami kebutuhannya, dan memperlakukan dirinya dengan baik. Kesadaran itulah yang menjadi dasar lahirnya empati, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama.
Peserta juga menilai nilai Tepo Seliro selaras dengan ajaran Islam, seperti sikap bersyukur, bertawakal, menjaga keseimbangan emosi, serta membangun kepedulian sosial. Integrasi nilai budaya dan spiritual tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan AI yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijaksana dan sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia.
Ketua Peneliti, Dr. Zulkifli Sultan, mengatakan seluruh masukan dalam FGD akan digunakan untuk menyempurnakan model konseptual sebelum memasuki tahap pengembangan prototipe dan uji coba lapangan.
“Penelitian ini berupaya menghadirkan inovasi layanan kesehatan mental berbasis AI yang tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi juga berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. Dukungan dari para akademisi dan praktisi menjadi energi bagi tim peneliti untuk segera melaksanakan tahap piloting sehingga manfaat model ini dapat dirasakan secara nyata oleh aparatur daerah,” ujarnya.
Melalui riset ini, UT menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi yang menjawab tantangan kesehatan mental di era transformasi digital sekaligus mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan mental, serta SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur lewat pengembangan solusi berbasis kecerdasan artifisial yang tetap berakar pada nilai budaya Indonesia.


