UT Gandeng USK dan Pemkot Malang, Layanan untuk 29.000 Mahasiswa Kini Masuk Mall Pelayanan Publik 

Tangerang Selatan, 29 Juni 2026 – Universitas Terbuka (UT) punya cara tersendiri untuk mengawali rangkaian perhelatan wisuda periode berjalan semester ini. Alih-alih langsung menggelar prosesi kelulusan, kampus pionir pembelajaran jarak jauh tersebut sengaja menyatukan momentum sakral ini dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama sejumlah mitra strategis baru. Langkah tidak biasa ini diambil UT dengan alasan yang kuat: agar atmosfer kelulusan mahasiswa langsung dipertegas oleh aksi nyata penguatan resource sharing atau berbagi sumber daya lintas instansi, demi melahirkan lulusan yang andal sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas tanpa batas di berbagai daerah Indonesia.

Rangkaian upacara kelulusan yang berbobot ini resmi dibuka melalui penyelenggaraan seminar akademik yang berlangsung khidmat. Pertemuan ini sukses menyatukan ekosistem kementerian, pemerintah daerah, hingga perguruan tinggi ternama untuk mencetak para-alumni yang siap bertransformasi menjadi champions di tengah masyarakat.

Perhelatan seminar akademik kali ini terasa sangat dinamis dan visioner. Seminar resmi dibuka dengan pembekalan langsung dari Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK, yang juga merupakan mantan Rektor Universitas Terbuka sehingga memberikan motivasi berlipat bagi para lulusan. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan – Kemenko PMK, Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D., menegaskan bahwa tema seminar mengenai kreativitas, inovasi, dan integritas dipersiapkan agar alumni mampu memberikan kemaslahatan nyata bagi umat.

Komitmen menjaga integritas akademik tersebut dibuktikan UT secara digital melalui inovasi sistem asesmen ujian online berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sistem AI ini berfungsi sebagai pendamping pengawas guna mendeteksi pergerakan secara real-time. Proteksi digital berstandar global ini menepis keraguan publik dan membuktikan bahwa mutu perkuliahan jarak jauh di UT tetap terjaga dengan ketat di mana pun mahasiswa berada.

Sebagai bukti nyata perluasan akses ilmu pengetahuan yang kian memanjakan masyarakat, UT meresmikan kerja sama kakap dengan Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh dan Pemerintah Kota Malang. Sinergi bersama USK Aceh memiliki daya jual tinggi karena menyatukan kekuatan dua Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) untuk fokus pada penelitian bersama serta peningkatan manajemen digital kelembagaan.

Sementara itu, kemitraan dengan Pemkot Malang dirancang sebagai solusi jitu untuk mendongkrak Angka Partisipasi Kasar (APK) perkuliahan di daerah. Gebrakan yang paling menjual dari kerja sama ini adalah integrasi gerai administrasi UT ke dalam Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Malang. Melalui kehadiran layanan UT di MPP Kota Malang ini, sekitar 29.000 mahasiswa UT di Malang kini dapat mengurus seluruh keperluan administrasi kuliah secara instan, cepat, dan anti-ribet.

Dalam sesi konferensi pers bersama awak media nasional, Rektor Universitas Terbuka, Prof. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., memaparkan bahwa UT sangat inklusif bagi seluruh kalangan. Menjawab isu maraknya calon mahasiswa di Indonesia yang mundur dari kampus konvensional akibat mahalnya UKT, Prof. Ali menegaskan bahwa UT hadir sebagai solusi konkret karena biaya studinya yang sangat terjangkau.

“Di UT tidak ada istilah mengundurkan diri, pendaftaran kami dibuka sepanjang masa karena sistemnya fleksibel. Malah untuk tahun ini, UT menggelontorkan hingga 20.000 kuota beasiswa nasional dengan anggaran mencapai 15 miliar rupiah,” terang Prof. Ali. UT berkomitmen agar anak-anak bertalenta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari pekerja, ASN, hingga perangkat desa, tetap bisa mendapatkan hak pendidikan tinggi berkualitas tanpa hambatan ekonomi.

Lompatan inovasi dan kemitraan inklusif yang digaungkan UT ini secara organik berkelindan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDGs Nomor 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pemerataan akses kuliah yang adaptif , serta SDGs Nomor 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) demi mempercepat pembangunan human capital di Indonesia.