BOGOR — Hari itu, kaus dan mug bukan lagi sekadar benda kosong. Di tangan anak-anak dan remaja berkebutuhan khusus di HS Learning Center, Kota Bogor, keduanya berubah menjadi ruang belajar, ruang berani mencoba, sekaligus pintu kecil menuju kemandirian.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Program Studi Manajemen dan Program Studi Kewirausahaan Universitas Terbuka (UT) menghadirkan pelatihan produksi merchandise dan digital branding bagi penyandang disabilitas pada 12 Juni 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Inklusif melalui Produksi Merchandise dan Digital Branding di HS Learning Center, Kota Bogor, Jawa Barat.”
Program tersebut tidak hanya dirancang untuk mengenalkan keterampilan teknis, tetapi juga membuka kemungkinan baru bagi peserta agar dapat melihat karya mereka sebagai sesuatu yang bernilai. Dari proses memilih desain, mengenal alat, mencoba bahan, hingga mencetak gambar pada kaus dan mug, peserta diajak merasakan langsung bahwa kreativitas dapat tumbuh ketika diberi kesempatan dan pendampingan yang tepat.
Ketua Tim PkM UT, Muhammad Karisma Alam, menjelaskan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, keterampilan kreatif seperti produksi merchandise dapat menjadi bekal yang relevan, bernilai jual, dan dekat dengan kebutuhan industri kreatif saat ini.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendengarkan materi. Mereka ikut mempraktikkan teknik sablon pada berbagai media, terutama kaus dan mug. Pendekatan praktik ini membuat proses belajar terasa lebih konkret, karena peserta dapat melihat langsung hasil dari setiap tahapan yang mereka lakukan.
Kegiatan ini turut didukung oleh tim dosen UT yang terdiri atas Sabna Ainazah Fatikhah, Deane Rahmamita, dan Nadya Kariza. Kehadiran tim tersebut menjadi bagian dari upaya UT untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi bergerak langsung menjawab kebutuhan masyarakat.
Pembina HS Learning Center, Siti Meri Mariani, menyambut positif pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak dan remaja berkebutuhan khusus, terutama dalam membangun keterampilan hidup yang dapat mendukung kepercayaan diri mereka.
“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik pelatihan dari Universitas Terbuka ini,” tutur Siti.
Ia berharap keterampilan menyablon dapat menjadi kemampuan tambahan yang berguna bagi peserta, tidak hanya selama berada di lingkungan belajar, tetapi juga ketika mereka mulai berinteraksi lebih luas dengan masyarakat.
“Kami berharap keterampilan menyablon ini dapat menjadi skill tambahan yang berguna bagi anak-anak dan remaja berkebutuhan khusus di HS Learning Center. Sehingga mereka memiliki kesiapan, kepercayaan diri, dan kemandirian yang lebih baik dalam menghadapi kehidupan di luar lingkungan sekolah,” katanya.
Agar pelatihan lebih aplikatif, UT menggandeng mitra industri dari Celsius Packaging yang diwakili Eka Yonanda dan Krisna Suarna. Keterlibatan mitra industri ini membantu peserta dan pendamping memahami penggunaan mesin sablon modern secara lebih aman, sederhana, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran penyandang disabilitas.
Pendampingan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan guru dan tenaga pendamping HS Learning Center. Cara ini penting agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi dapat diteruskan, dilatih kembali, dan dikembangkan sesuai kemampuan peserta.
Selain produksi merchandise, peserta juga memperoleh pengenalan mengenai digital branding. Mereka dikenalkan pada pentingnya identitas merek, strategi pemasaran digital, serta peluang memasarkan produk melalui platform daring. Dengan bekal ini, karya yang dihasilkan tidak hanya selesai sebagai produk, tetapi juga memiliki peluang untuk dikenal, dipasarkan, dan memberi nilai ekonomi.
Antusiasme peserta menjadi bagian paling kuat dari kegiatan ini. Senyum mereka muncul saat kaus dan mug pertama berhasil dibuat. Momen itu memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi kreatif dan ekonomi yang besar, selama lingkungan memberi ruang untuk tumbuh.
Melalui program ini, UT ikut mendorong lahirnya ekonomi kreatif yang lebih inklusif, sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangan, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.
Sebab pada akhirnya, pemberdayaan bukan hanya tentang memberi pelatihan. Ia tentang membuka pintu, menyalakan keberanian, dan memastikan setiap orang—termasuk penyandang disabilitas—punya kesempatan untuk berkata: karya saya bernilai, dan masa depan saya layak diperjuangkan.



