UT dan ACCA Perluas Akses Sertifikasi Global bagi Mahasiswa hingga Pelosok Indonesia

Bagi sebagian mahasiswa di daerah terpencil Indonesia, sertifikasi profesi internasional mungkin selama ini terasa seperti sesuatu yang jauh—mahal, sulit dijangkau, dan hanya milik mahasiswa di kota-kota besar. Namun melalui kolaborasi antara Universitas Terbuka dan Association of Chartered Certified Accountants (ACCA), peluang itu kini mulai dibuka lebih lebar, bahkan hingga ke pelosok negeri.

Komitmen tersebut ditandai melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UT dan ACCA yang berlangsung di UT Pusat pada Rabu, 20 Mei 2026. Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperluas akses mahasiswa terhadap sertifikasi profesi internasional, khususnya di bidang akuntansi dan keuangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor UT Ali Muktiyanto, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Bisnis Hendrian, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Meirani Harsasi, Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Meita Istianda, serta Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Subekti Nurmawati. Dari pihak ACCA hadir Andrew Lim, Julia Simatupang, dan Ray Wiharto.

Dalam sambutannya, Prof. Ali Muktiyanto menegaskan bahwa kerja sama ini sejalan dengan visi UT dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi profesional berstandar global. UT bahkan menargetkan setiap mahasiswa memiliki minimal empat sertifikasi kompetensi atau profesi sebelum lulus.

“Mahasiswa kami harus bisa bersaing di level internasional. Sertifikasi profesi global seperti ACCA menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan daya saing mereka,” ujarnya.

Bagi UT, kolaborasi ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pengembangan akademik. Prof. Ali mengungkapkan, sekitar 90 persen mahasiswa UT berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah dan banyak di antaranya tinggal di daerah yang jauh dari pusat pendidikan tinggi.

Karena itu, sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT menjadi solusi agar pendidikan berkualitas tetap dapat diakses tanpa memaksa mahasiswa meninggalkan pekerjaan, keluarga, maupun daerah asalnya.

“Kalau perguruan tinggi konvensional mengharuskan mahasiswa datang ke kampus, maka UT yang datang ke mahasiswa,” kata Prof. Ali.

Melalui kerja sama ini, UT dan ACCA akan mengembangkan berbagai program kolaboratif, mulai dari pelatihan profesional, pemetaan kompetensi, seminar, lokakarya, hingga pengembangan materi pembelajaran digital yang mendukung sistem distance learning. UT juga membuka peluang transformasi materi ACCA ke dalam format pembelajaran interaktif agar lebih mudah diakses mahasiswa dari berbagai wilayah.

Dari perspektif global, ACCA menilai pendekatan pembelajaran UT sangat relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Andrew Lim menyebut pola belajar generasi Z dan Alpha kini semakin berubah akibat perkembangan teknologi dan digitalisasi pascapandemi.

Menurutnya, generasi muda saat ini lebih menyukai pembelajaran singkat, fleksibel, dan berbasis digital. Dalam konteks itu, model pembelajaran yang dimiliki UT dinilai mampu menjawab tantangan masa depan pendidikan.

Andrew juga mengapresiasi komitmen UT dalam membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang beruntung. Ia percaya pendidikan merupakan salah satu cara paling efektif untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup.

Kolaborasi UT dan ACCA sekaligus memperkuat kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Di tengah persaingan global dan perubahan dunia kerja akibat digitalisasi serta kecerdasan buatan, kerja sama ini menjadi harapan baru agar mahasiswa Indonesia—di mana pun mereka berada—memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, bersaing, dan menembus batas dunia.